INDONESIA BELUM (AKAN) KRISIS !


“Belum (krisis). Seperti yang saya jelaskan tadi, jangan dikira Indonesia saat ini ada di tahap krisis,” Itu pernyataan Gubernur BI Agus Martowardojo yang dikutip Kompas, pada Kamis (27/8/2015).

Setidaknya ada 2 argumen yang dikemukakan oleh Gubernur BI mengapa Indonesia belum memasuki tahap krisis : Pertama, bahwa pelemahan nilai Rupiah disebabkan oleh tekanan ekonomi global. Kedua, fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat dibandingkan Krisis Ekonomi 1998.

“Lihat kondisi di Tiongkok, yang 20 tahun pertumbuhan ekonominya di atas 10 persen, dalam tiga tahun terakhir turun, bahkan tahun ini diperkirakan jadi 6,8 persen, dan tahun depan 6,3 persen. Ini kondisi dunia yang tidak pasti dan perlu kita waspadai,” kata dia.

Sedangkan mengenai fundamental ekonomi Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan, “Dibandingkan 2 tahun lalu atau tahun lalu, sekarang ini secara fundamental (Indonesia) lebih baik. Yang disebut fundamental ekonomi itu apa? Inflasi, capital inflow, bagaimana neraca perdagangan. Misal, kita punya inflasi akan mengarah ke 4 persen, sebelumnya 8 persen. Kita punya transaksi berjalan tinggal defisit 2,1 persen, sebelumnya 4,2 persen. Jadi, ada perbaikan. Neraca perdagangan tahun lalu, dari defisit, sekarang dari Januari 2015 sudah surplus,”.

Pelemahan Rupiah adalah (Diharapkan) hanya Sementara

“Rupiah sepanjang Januari-Agustus depresiasi 13 persen, tapi Malaysia, Turki, Brasil, dan Eropa jauh lebih tertekan. Mata uang kita dibanding mereka, kita menguat. Ini kondisi dunia yang harus kita hadapi dengan baik,” ujarnya.

Agus menjelaskan, kurs rupiah dan bursa saham Indonesia saat ini mengalami tekanan eksternal akibat rencana penyesuaian suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), rendahnya harga minyak dunia, dan aksi devaluasi yuan Tiongkok.

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, rencananya pada bulan September akan menentukan tingkat suku bunga acuan untuk Dollar Amerika Serikat. Pelaku pasar menduga bahwa tingkat suku bunga USD akan naik, dari 0% menjadi 0.25%.

Agus menilai kondisi mata uang rupiah ini hanya akan berlangsung sementara (temporary). Dia menambahkan pada saat pasar mengalami shock dan rest off, dana-dana langsung mengalir ke safe heaven country. Gejolak pasar ini berlangsung selama seminggu terakhir menyebabkan dana, baik dari pasar modal atau pasar uang, mengalir dari negara berkembang ke negara safe heaven, di antaranya negara Amerika, Jepang, dan Eropa.

Mengalirnya dana dari negara berkembang ini membuat kejenuhan di safe heaven country. “Sekarang kita sudah denger risalah rapat di FOMC (Federal Open Market Committee). Di situ sudah kelihatan keraguan bahwa Amerika Serikat kehilangan posisi kompetitif juga,” katanya. Hal itu juga membuat Amerika Serikat mempertimbangkan terkait keputusan kenaikan Fed Fund Rate atau tidak.

Pendapat Agus Martowardojo, kelihatannya sejalan dengan analisa Morgan Stanley yang dikutip Kompas.com (27/8/2015). The Fed tidak akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga acuan mereka dibanding dengan kebijakan yang mereka ambil pada masa krisis lalu. Terlebih lagi, Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan masih mengimplementasikan program pelonggaran kuantitaif (quantitative easing).

“Sebagai tambahan, keterhubungan Asia dengan perekonomian global dan kontribusi Asia yang signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) global menunjukkan, perkembangan ekonomi di Asia akan memberikan dampak besar terhadap Amerika dibandingkan tahun 1997. Berdasarkan pertimbangan itu, kami memprediksi, AS tidak akan terburu-buru melakukan pengetatan kebijakan,” menurut Chetan Ahya, salah satu anggota tim riset Morgan Stanley

Turunkan BI Rate

Direktur Institute For Development of Economics and Finance, (Indef), Enny Sri Hartati, menuturkan, melemahnya rupiah yang melewati angka Rp14 ribu, berdampak cukup besar kepada sektor Industri, terutama industri manufaktur yang mempunyai ketergantungan terhadap barang dari luar negeri.

“Yang pasti tidak hanya ke perekonomian nasional berdampak, ke industri terutama industri manufaktur yang mempunyai ketergantungan kepada luar, pasti colapse, dari segala penjuru mata angin, ada high cost,” kata Enny kepada VIVA.co.id (26/8/2015).

Menurutnya untuk mendorong Industri dalam negeri, BI perlu untuk menurunkan suku bunga (BI Rate) . “Seharusnya itu yang dilakukan,” kata Eny.

Hal ini disebabkan dengan suku bunga yang tinggi maka akan membuat Industri dan sektor rill mulai terkapar.  Bank Indonesia, lanjut dia, seharusnya menurunkan suku bunga, minimal 25 basis poin dari posisi BI Rate yang saat ini 7,5 persen.

“Kalau suku bunga tinggi itu, sektor rill kita ini terkapar, ini BI minimal desimal dululah diturunin sekitar, 25 Bps, jadi itu kan untuk menunjukkan ada keberpihakan dari sisi kebijakan moneter untuk menghadapi pelemahan ekonomi ini,” tutur dia.

Tapi Apakah BI akan Memangkas BI Rate ?

Patut diduga BI akan tetap mempertahankan BI rate, dengan tujuan untuk menahan capital outflow dan kalau bisa tetap menarik capital inflow. Bagaimana mungkin ketika dana-dana baik dari pasar modal dan pasar uang mengalir deras ke safe heaven country, BI bertindak anti thesis dengan menurunkan BI rate ? Bahkan Gubernur BI berharap, kondisi mata uang ini bersifat temporary dan berharap Bank Sentral AS tidak menaikkan suku bunganya. Tetapi bila The Fed pada bulan September benar-benar merealisasikan kenaikan suku bunga, dapat dipastikan capital outflow akan sulit dibendung. Akibatnya dapat diduga, kurs rupiah akan semakin terpuruk.

Dengan kondisi ekonomi yang lesu dan inflasi yang rendah, saran dari Direktur Institute For Development of Economics and Finance, (Indef), Enny Sri Hartati, untuk menurunkan BI rate kelihatannya lebih bijak dilakukan, terutama untuk mendorong sektor riil agar tetap bergerak, terutama untuk industri manufaktur yang ketergantungan pada bahan baku impor dapat sedikit menggeliat setelah ditekan habis-habisan oleh penguatan kurs dollar.

———————————————-

Terbanggi Besar, Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: