REVOLUSI MENTAL DAN KARTUN GILLRAY


Revolusi itu harus membawa perubahan yang bersifat fundamental, kata Filosof Mesir Murad Wahba. Revolusi itu berarti menghancurkan sistem yang ada dan mencoba membangun yang baru. Dalam situasi seperti ini tidak ada ruang untuk kompromi, tidak ada ruang untuk bermusyawarah dengan dasar saling pengertian.

Sejarah mencatat Revolusi Perancis merupakan pelajaran yang akan selalu diingat. Revolusi Perancis adalah suatu masa dimana didalamnya terjadi transformasi fundamental dari negara monarki absolut menjadi negara republik. Dari kekuasaan raja yang mutlak menjadi kekuasaan rakyat yang merdeka.

Richard Cobb, seorang profesor dari Oxford University cenderung menggambarkan kondisi masyarakat Perancis dalam huru-hara Revolusi Perancis berdasarkan kartun politik karya James Gillray.

Dalam salah satu karyanya, terlihat orang-orang yang tergabung dalam komite revolusi sedang bekerja dalam suasana kusut dan muram. Ada botol anggur kosong yang menggelinding di lantai diantara kaki anjing kurus dan kucing penyakitan. Tempat lilin yang kotor dan tumpukan piring emas diatas kursi dan sudut-sudut ruangan. Sementara orang-orangnya sendiri digambarkan dengan wajah kuyu dan tidak bercukur, mata ngantuk, terlihat duduk dengan bodohnya dibawah tatapan sinis patung Jean-Paul Marat. Beberapa orang dengan wanita cantik yang mengenakan perhiasan hasil curian dan memakai topi bagian atasnya dihiasi dengan bulu-bulu, yang lain terlihat sedang tidur nyenyak dengan kepala di atas meja dengan jam, kalung dan permata yang keluar dari kantung-kantung mereka. Tentu saja, namanya kartun selalu digambarkan dengan dilebih-lebihkan dan didramatisir.

Dibawah semboyan Liberte (kebebasan), Egalite (persamaan) dan Fraternite (persaudaraan), revolusi memakan korban. Rakyat marah kepada absolutisme kerajaan dan hak-hak istimewa kaum bangsawan. Rakyat tidak berdaya dalam kondisi ekonomi yang terus memburuk dan mahalnya harga barang-barang pokok.

Kemarahan memerlukan pintu penyaluran. Pada tanggal 14 Juli 1789, setelah pertempuran 4 jam, massa menduduki penjara Bastille, membunuh gubernur Marquis Bernard de Launay dan pengawalnya, kemudian membunuh walikota Jacques de Flesselles. Pada akhirnya, tgl 12 Januari 1793, Raja Louis XVI yang sebelumnya memiliki kekuasaan absolut dieksekusi mati. Disusul kemudian Permaisuri Marie Antoinette dieksekusi dengan guillotine pada tanggal 16 Oktober. Menurut Profesor Michael R. Linn dalam bukunya The Sublime Invention : Ballooning in Europe, 1783 -1820, jumlah korban guillotine mencapai 40,000 orang.

Filosof dari Brazil Olavo Luiz Pimentel de Carvalo, mengganggap Sosialisme dan Nazisme bukan suatu revolusi, karena mereka hanya berkutat pada supremasi kelas sosial atau ras. Mereka hanya mengalihkan tujuan menjadi prinsip-prinsip radikal dalam upaya melakukan remodeling bukan saja dalam kajian politik tetapi juga dalam humanisme. Ku Klux-Klan-sama rasis dengan Nazisme, tetapi tidak bisa dinilai revolusioner karena tidak bersifat mendunia.

Lalu dimana kedudukan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi ?

 —————

Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: