KAPAL PERANG CINA BERLATIH DI SAMUDERA HINDIA


Minggu lalu, komunitas strategi militer Australia gempar. Sebuah gugus tugas (task force) angkatan laut Cina (PLAN : People’s Liberation Army Navy ) yang terdiri dari dua kapal destroyer berpeluru kendali  Guangzhhou class – Wuhan dan destroyer Luyang class II – Haikou dan satu kapal LPD terbesar Changbaishan yang dapat meluncurkan helicopter dan unit kendaraan ampibi melakukan latihan perang di Samudera India, diantara  Pulau Jawa dan pulau Chirstmas. Patut diduga untuk mengamankan latihan tersebut, PLAN melibatkan kapal selam nuklir Jin – class (tipe 094)  atau  Shang – class (tipe 093).

Dengan latihan ini, Cina memberikan sinyal, bahwa angkatan laut Cina telah mampu menjangkau perairan internasional jauh dari focus utama Cina selama ini : kawasan laut Cina Selatan. Sinyal lainnya adalah : Cina ingin menunjukkan bahwa angkatan lautnya mampu melindungi kepentingan komersial di Samudera Hindia.

“Tak ada yang salah dengan latihan simulai perang yang digelar AL Cina”,  kata Kadispenal Laksamana Untung Surapati kepada Vivanews, Jumat 14 Februari 2014. Untung mengatakan, berdasarkan pemantauan instansinya, AL Cina taat prosedur saat melintasi perairan Indonesia, “ Mereka melewati perairan Alur Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 dengan rute dari Laur Cina Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, lalu terakhir menuju Samudera Hindia,” kata dia.

Untuk rute pulang ketiga kapal perang Cina itu akan melalui ALKI 2, yakni : Selat Lombok, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Sawu, Laut Cina Selatan dan kembali ke pangkalan mereka di Kota Hainan, Cina.

Untung menyatakan ketiga kapal perang Cina tersebut berlatih secara legal karena masih berada di perairan internasional. Selain itu saat melewati perairan Indonesia, kapal-kapal itu menunjukkan itikad damai tanpa permusuhan.

 Destroyer Berpeluru Kendali

Destroyer Wuhan adalah destroyer yang dipersenjatai dengan dua peluncur peluru kendali darat ke udara SA-N-12 Grizzly, setiap peluncur dapat memuat 48 peluru kendali dan dilengkapi dengan control radar MR-90.

Empat quadruple peluncur lainnya  dengan peluru kendali jarak jauh (200 km) anti kapal YJ-83, yang datanya dapat di-link dengan data dari helicopter pengintai atau pesawat fix wing.

Selain itu, destroyer ini dilengkapi dengan dua triple peluncur torpedo anti kapal selam Yu-7, dengan jarak tembak maksimum 7,3 km dan kecepatan 28 knot. Torpedo ini dapa membawa 45 kg warhead.  Dua peluncur roket ASW tipe 75 dapat meluncurkan roket anti kapal selam dengan jarak tembak 1,200 m.

Destroyer ini dilengkapi dengan deck untuk helicopter anti kapal selam Kamov Ka-28. Helikopter ini membawa torpedo dan perlengkapan operasi perburuan  kapal selam.

Destroyer Haikou adalah destroyer Luyang cl;ass II, yang dilengkapi dengan peluncur peluru kendali pertahanan udara delapan 6-cell Vertical Launch System (VLS)  HQ-9. Selain itu dilengkapi dengan dua 4-cell peluncur peluru kendali anti kapal YJ-62 (C-602). Diatas kapal dilengkapi dengan dek untuk helicopter Kamov 28 atau Z-9C, untuk tugas memburu selam.

Menlu AS John Kerry Mencari Dukungan Indonesia soal Cina

Berbeda dengan PM Australia Tonny Abbot yang justru memicu ketegangan politik dengan pemerintah Indonesia, Menlu Amerika Serikat John Kerry justru berkunjung ke Jakarta untuk mencari dukungan Indonesia dalam penyelesaian konflik di Laut Cina Selatan.

Seperti yang dikutip Antara, dihadapan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam konferensi pers Senin17 Februari 2014, John Kerry bahkan meminta Jakarta memusatkan energi politiknya untuk mempercepat tercapainya kesepakatan code of conduct di Laut Cina Selatan.

“Masa depan perdamaian kawasan ini bergantung pada cepatnya penyelesaian persoalan Laut Cina Selatan karena jika terus menerus ditunda, maka semakin besar pula potensi munculnya konflik bersenjata,” kata Kerry.

Kerry menyatakan bahwa Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir ini semakin khawatir atas “pelanggaran hukum laut internasional” yang dilakukan oleh Cina dengan mengusir nelayan dari negara lain yang hendak mencari ikan di wilayah yang masih disengketakan.

“Hukum laut internasional harus ditegakkan dan harus dipatuhi oleh semua negara besar dan semua negara kecil tanpa kecuali,” kata dia.

Marty Natalegawa sendiri mengakui bahwa persoalan sengketa wilayah di Laut Cina Selatan telah dibahas secara informal pada Minggu malam dengan wakil Amerika Serikat.

Namun Marty menolak memberikan pernyataan dukungan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Tenggara. Dia hanya menyatakan bahwa persoalan Laut China Selatan harus diselesaikan dengan cara damai tanpa kekerasan.

Kemudian timbul pertanyaan yang paling mendasar : apakah Tonny Abbott – yang ditenggarai menjadi pemicu ketegangan politik Indonesia dengan Australia – memahami pentingnya peranan Indonesia bagi Amerika Serikat dalam rangka pemeliharaan perdamaian di kawasan Laut Cina Selatan, sehingga Menlu AS John Kerry harus datang ke Jakarta untuk mencari dukungan pemerintah Indonesia ?

————

16 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: