KEHANCURAN INDUSTRI NENAS KALENG AFRIKA SELATAN AKIBAT PUPUK DARI CINA YANG TERKONTAMINASI LOGAM BERAT CADMIUM


Pertengahan tahun 2006 merupakan awal bencana bagi para stake holder bisnis nenas di Afrika Selatan.  Semuanya berawal dari di-reject satu container nenas kaleng dari Afrika Selatan oleh Uni Eropa.

Pertama kali kontaminasi dideteksi pada produk nenas kaleng tersebut di negara Swiss pada bulan Nopember 2006. Hasil investigasi pada saat itu menunjukkan bahwa sumber toksin diidentifikasikan berasal dari pupuk. Analisa kandungan pada nenas kaleng tersebut menunjukkan adanya kelebihan kandungan logam berat Cadmium diatas standar yang disyaratkan oleh Uni Eropa yaitu sebesar 0.05 ppm.

Kerugian massif paling dirasakan oleh para petani, mengingat petani hanya bisa memanfaatkan sebagian kecil dari total hasil panennya, tentu saja setelah dilakukan analisa kandungan Cadmium. Termasuk didalamnya kerugian akibat biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan rehabilitasi lahan dan diprediksi proses rehabilitasi lahan memakan waktu lebih dari lima tahun.

Pupuk Zinc Phospat dari Cina

Craig Handley, salah seorang petani dari daerah Eastern Cape di Afrika Selatan, mengganggap kejadian ini merupakan salah satu bencana terburuk yang menimpa karirnya. Handley masih beruntung walaupun hanya sekitar 30 persen nenasnya bisa dipanen dan diterima oleh pabrik pengalengan, itupun setelah dilakukan testing yang ketat. “Semua lokasi tanaman nenas dilakukan testing tanpa terkecuali dan jika melebihi limit, maka tanaman kami hancurkan”, katanya.

Handley seperti halnya petani lainnya, segera menghentikan penggunaan pupuk zinc phospat ketika didetekti adanya kandungan logam berat cadmiium. “ Pabrik nenas kaleng memberlakukan peraturan yang sangat ketat dan mereka menolak dengan tegas bila ditemukan kandungan cadmium yang melebihi limit”.  Dia menyarankan agar pihak asosiasi nenas di Afrika Selatan segera terbang ke Eropa dan Australia untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi dan meyakinkan agar Afrika Selatan tidak kehilangan pangsa pasar.

“Petugas kami sekarang berkeliling lahan dan memungut sampling buah nenas untuk dikirim ke laboratorium untuk dilakukan test. Selanjutnya kami duduk dan menunggu hasil analisa lab. Jika hasilnya baik, maka kami melakukan panen untuk pabrik pengalengan. Perusahaan bahan kimia (South Africa’s Protea Chemicals) telah membunuh industri nenas”, katanya geram.

Petani-petani nenas yang marah, yang mengalami kerugian yang besar, menyalahkan departemen pertanian yang mengijinkan supplier untuk mengimpor pupuk terkontaminasi dari Cina dan seharusnya ada petugas yang melakukan cek kandungan logam berat apakah telah melebihi limit atau tidak.

Pihak department pertanian mengakui tidak melakukan cek logam berat pada pupuk dan pakan hewan.  Walaupun ada undang-undang Feeds and Fertilizer Act tahun 1947, tetapi tidak mengatur berapa maksimum level logam berat yang diijinkan.

Dalam press release dari Kedutaan Besar Cina mengakui adanya kesalahan dalam system control yang dapat mencegah bahan berbahaya  sehingga mengkontaminasi keamanan pangan. Cina mengakui telah dipermalukan dengan beberapa kasus kontaminasi yang serius, tetapi telah dilakukan konsolidasi pada industri makanan dan pengetatan dalam inspeksi dan pengawasan keamanan makanan termasuk didalamnya kualitas produk ekspor.

Efek Terhadap Bisnis Nenas Afrika Selatan

Summerpride Foods, di East London Afrika Selatan, yang semula memproduksi nenas kaleng chunk dan slice, merubah produksinya menjadi jus nenas. Salah satu alasaannya adalah bahwa pada saat memproduksi jus terjadi proses pengenceran kandungan level Cadmium sehingga bisa diterima oleh konsumen. Perubahan produksi nenas kaleng menjadi produk jus mengurangi jumlah tenaga kerja dan tahap-tahap produksi.

Bahan baku nenas yang digunakan untuk produksi jus ini, dibeli dari petani dengan harga 20 persen per ton lebih murah. Sementara itu dengan perubahan produksi ini menyebabkan 500 tenaga kerja di pemutusan hubungan kerja. Disisi lain tonase panen terus menurun, dari 140.000 ton pada tahun 2007, menjadi 93.000 ton pada tahun 2009 dan terus menurun menjadi 77.000 ton pada tahun 2010. Penurunan ini menyebabkan hilangnya mata pencarian pada pekerjaan musiman pada pertanian semisal : panen.

Pada Agustus 2007, krisis bisnis nenas memakan korban. Dua pabrik pengalengan nenas di East London Collondale Cannery dan Summerpride Foods melakukan merger untuk tetap bisa berproduksi, tetapi tetap menggunakan bendera Summerpride Foods.

—————–

8 September 2012

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: