PASAR DOMESTIK DAN REGIONAL ASIA MENJADI PRIMADONA DALAM MENGHADAPI KRISIS EKONOMI


Kombinasi yang mematikan dari pelemahan ekonomi Cina, krisis keuangan Eropa serta belum pulihnya ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan memukul ekonomi Asia, pertama-tama melalui jalur perdagangan akibat melemahnya permintaan.

Pertumbuhan ekonomi Cina dan negara-negara Asia lainnya sangat dipengaruhi oleh krisis keuangan yang melanda Eropa.  Asian Development Outlook 2012, menjelaskan bahwa penyebabnya adalah negara-negara dalam zona euro selain merupakan partner perdagangan penting bagi Asia, juga merupakan sumber utama bagi pendanaan FDI dan capital inflow lainnya. Diperkirakan 12 persen ekspor dari kawasan Asia menuju zona euro, sementara itu data per September 2011 menunjukkan tidak kurang dari 440 milyar dollar merupakan pinjaman dari perbankan zona euro atau 14 % dari total pinjaman bank asing.

Perdana Menteri Cina Wen  Jiabaou pada bulan Maret telah merevisi pertumbuhan  ekonomi dari 8 persen menjadi 7,5 persen untuk tahun 2012. Ini berarti pertumbuhan ekonomi terendah sejak tahun 1990.  People’s Bank of China telah dua kali memotong bunga pinjaman dalam waktu empat minggu, keputusan ini dianggap sebagai sinyal bahwa bahwa telah terjadi penurunan ekonomi Cina yang lebih tajam dari dugaan semula.

Agar pertumbuhan ekonomi tetap pada track  yang ditentukan, Perdana Menteri Wen mengatakan pada Sabtu (8/7/2012), bahwa Cina akan berupaya lebih keras lagi dalam upaya menahan perlemahan ekonomi.  Salah satu strategi adalah untuk melakukan terobosan ke pasar regional.

Bukti melemahnya perekonomian Amerika Serikat adalah dari laporan June 2012 Report Manufacturing ISM (Institute for Suppy Management) in Bussiness, yang mengukur 18 bidang industri di AS menyimpulkan bahwa aktivitas manufaktur di AS bulan Juni menurun hingga ke poin 49,7 yang mencerminkan turunnya permintaan dibandingkan 53.5 pada bulan Mei, merupakan yang pertama kali sejak Juli 1999.  Indek dibawah 50 menunjukkan perekonomian di AS sedang mengalami pelemahan.

Defisit Perdagangan

Dalam press release tgl 3 Juli 2012, Kementerian Perdagangan RI melaporkan telah terjadi deficit perdagangan selama 2 bulan berturut-turut. Pada bulan Mei deficit mencapai 485,9 juta dollar, sedangkan  pada bulan April mengalami deficit sebesar 767,7 juta dollar.

Menurut Menteri Keuangan Agus DWMartowardojo, seperti yang dikutip harian Kompas (11/7/2012), penyebab deficit adalah karena factor harga komoditas ekspor dan besarnya volume impor. Defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut April-Mei, menjadi perhatian pemerintah. Kordinasi antar kementerian terkait seperti dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan Badan Kordinasi Penanaman Modal, dilakukan untuk mengantisipasi agar deficit tidak terus berlanjut.

Dalam press release Kemendag, disebutkan bahwa meningkatnya defisit perdagangan Indonesia terjadi pada beberapa negara mitra dagang utama antara lain China, Jepang, Singapura, Thailand, Korsel dan Australia. China merupakan negara mitra dagang utama yang menyumbang defisit non-migas terbesar mencapai USD 3,0 miliar selama Januari-Mei 201, meningkat dari USD 2,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Strategi Perdana Menteri Wen, kelihatannya sudah mulai berjalan. Akibat menurunnya permintaan dari negara-negara Eropa dan AS, ekspor Cina mulai melirik pasar regional Asia, salah satunya adalah dengan membanjiri Indonesia dengan produk murah Cina.

Asia kemudian menjadi primadona, walaupun diperkirakan pertumbuhan ekonomi relative mengalami rebound sebagai akibat krisis Eropa, yaitu dari 7,2 persen pada tahun 2011, menjadi prediksi 6,9 persen pada tahun 2012, tetapi diprediksi terus meningkat 7,3 persen pada tahun 2013. Dibandingkan dengan pertumbuhan kawasan lain, dalam jangka panjang pertumbuhan Asia lebih menjanjikan.

Wapres Budiono mengingatkan bahwa krisis kali ini berbeda dengan krisis tahun 2008 (Kompas, 5/7/2012). Pada empat tahun lalu perbaikan dapat dilakukan dengan cepat. Waktu itu, dalam tempo enam bulan pemulihan sudah dapat dirasakan. “ Kali ini berbeda. Semua negara melambat, termasuk Cina dan India”.  Budiono dalam pertemuan dengan para bupati dan walikota di Pontianak, meminta bupati dan walikota agar kreatif mencari solusi. Dalam pertemuan tersebut dilaporkan tentang penurunan permintaan komoditas unggulan, seperti yang diajukan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, harga beberapa komoditas menurun, seperti karet turun hingga separuhnya akibat permintaan dunia yang anjlok.  Harga kelapa sawit mentah (crude oil pal)  turun dari Rp. 9,15 juta menjadi Rp. 8,2 juta per ton.

“Kita perlu memperlancar investasi, baik dari dalam maupun dari luar negeri”, kata Wapres Budiono.  “Kita bukan hanya kaya, tetapi berpenduduk banyak. Ada potensi pasar domestic yang sangat besar”.

 ————————————

Terbanggi Besar, 11 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: