DAMPAK KRISIS FINANSIAL ZONA EURO TERHADAP ASIA


Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, pemimpin International Monetary Fund Christine Lagarde mengatakan bahwa ia lebih bersimpati pada anak-anak miskin di Afrika daripada penduduk Yunani. “Saya lebih memikirkan anak-anak di suatu desa kecil di Nigeria yang hanya mendapat pelajaran dua jam sehari, berbagi satu kursi untuk tiga orang tetapi sangat antusias terhadap pendidikan.”

“Mereka selalu ada dalam pikiran saya, karena mereka lebih memerlukan bantuan daripada penduduk di Athena”.  Dalam wawancara tersebut, Christine Lagarde juga mengkritik penduduk Yunani sebagai ‘orang-orang yang mencoba menghindar dari pajak’.

Permasalahan hutang Yunani adalah masalah yang sama seperti terjadi pada tahun 1980, partai politik yang memenangkan pemilu kemudian menghadiahi kader-kader politiknya dengan memberi pekerjaan sebagai pekerja publik yang digaji pemerintah, yang sebenarnya kontra produksi. Pada tahun 2010, satu dari lima pekerja di Yunani adalah pekerja dengan kriteria diatas, 750 ribu orang bekerja sebagai pekerja full time – termasuk didalamnya 81.000 tentara dan 10.000 pemuka agama – dan 150 ribu adalah pekerja paruh waktu.

Partai politik yang berkuasa – untuk melanggengkan kekuasaannya – kemudian menaikkan gaji mereka ketingkat excessive salary,  tetapi pada sisi lain pemerintah lalai dalam kegiatan pengumpulan pajak. Untuk memenuhi kebutuhan anggaran yang terus meningkat, pemerintah Yunani kemudian menutupinya melalui utang.

Sejak tahun 1994 rasio utang terhadap GDP sudah mencapai 94 % dan pada Oktober 2011 dalam laporannya bertajuk “The Economic Adjustment Programme for Greece”  Komisi Ekonomi Eropa memprediksi rasio akan mencapai 198 % pada tahun 2012, padahal rekomendasi rasio utang terhadap GDP adalah sebesar 60 %.

Defisit anggaran sudah mencapai 9,1 pada tahun 2011 dan diperkirakan mencapai 7,0 pada tahun 2012, jauh dari rekomendasi anggota zone euro untuk menahan defisit pada angkat 3 persen. Pengangguran diprediksi melonjak hingga 20 persen dan penggangguran usia muda mencapai 50 persen.

Pada tanggal 27 April 2010, untuk pertama kalinya sebuah negara di zone euro, Standard & Poor mendown-grade status peringkat utang Yunani menjadi status “Junk”. Ini berarti investor akan kehilangan 30 – 50 % uangnya. Bursa saham dunia dan mata uang Euro langsung bereaksi negatif atas pengumuman ini.

Krisis keuangan Yunani akhirnya menyeret negara-negara zona euro kedalam resesi. Baik IMF maupun World Bank sepakat untuk memprediksi bahwa resesi akan melanda zona euro pada tahun 2012 dan diperkirakan mulai recovery secara lambat pada tahun 2013.

Hingga bulan Mei 2012, dari 17 negara zona euro, delapan negara telah diindikasikan mengalami resesi, yaitu : Yunani, Irlandia, Spanyol, Italia, Siprus, Belanda, Portugal dan Slovenia.  Krisis ekonomi bahkan telah menumbangkan beberapa pemimpin negara-negara Eropa.  PM Italia Silvio Berlusconi diganti oleh Mario Monti, seorang rektor Bocconi University dari Milan. Di Perancis, Nicolas Sarcozy terjungkal digantikan oleh Francois Hollande dari Partai Sosialis. Sedangkan di Yunani, sedang mempersiapkan pemilu baru untuk menggantikan pemerintahan yang sekarang berkuasa.

                                                                                     

Pengaruh Krisis Eurozone terhadap Asia

Pemimpin IMF (International Monetary Fund) Christine Lagarde setelah bertemu dengan para pemimpin keuangan Jepang termasuk Menteri Keuangan Jun Azumi menegaskan bahwa tidak ada satu negarapun di dunia yang imun terhadap pengaruh krisis keuangan yang sedang melanda  zonaeuro. “Japan is no more immune than other countries”.

“Para pengusaha exporter Jepang akan terekspos oleh krisis di zona euro, bila sebagian besar kliennya mengalami kesulitan yang serius”, katanya.

Zona euro merupakan zona pengimpor terbesar didunia. Sehingga krisis keuangan tidak hanya terbatas melanda Eropa, tetapi akan menyebar dan meluas keseluruh penjuru dunia. Semua risiko yang  berasal dari krisis zona euro secara potensial akan mempengaruhi negara lain melalui hubungan perdagangan dan keuangan.  Menurut World Bank, pertumbuhan ekonomi yang melemah dari Cina merupakan sinyal bahwa  negara-negara Asia harus memulai mengembangkan pangsa pasar domestik atau mengembangkan potensi pasar  intra- Asia.

Walaupun terlihat adanya perubahan arah perdagangan yang menggembirakan,  yaitu terjadi penurunan perdagangan dari Asia ke Eropa dari 34 persen pada periode 1998 – 1999 menjadi 24 persen pada tahun 2010.  Sementara perdagangan intra – Asia terjadi peningkatan dari 36 persen total export pada tahun 1998 menjadi 44 persen pada tahun 2010, tetapi riset yang dilakukan oleh International Monetaty Fund justru mencatat bahwa 60 – 65 persen semua perdagangan  dari Asia ke Eropa diklasifikasikan sebagai “produk intermediet” – komponen-komponen dibuat di negara seperti Korea dan Taiwan, kemudian diasembling di Cina selanjutnya dishipment sebagai finish good ke Eropa.

Tahun 2010 tercatat  bahwa ekspor Cina ke Eropa mencapai 20 persen dari total ekspor Cina, sedangkan market share Cina di Amerika Serikat hanya mencapai 18 persen. Dengan pola hubungan industri Cina – Asia seperti diatas, menurunnya permintaan barang dari Eropa ke Cina berpengaruh langsung pada laju pertumbuhan ekonomi Cina dan pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Asia. Sebagai gambaran melemahnya nilai ekspor tahunan Cina adalah telah menurunnya secara signifikan nilai ekspor dari 20 persen  ditahun 2011 menjadi 5 persen hingga April 2012.

Berbeda ketika menghadapi krisis keuangan global tahun 2008, Pemerintah Cina ber peran sebagai dewa penolong. Pada krisis sekarang ini, kantor  berita Xinhua melaporkan bahwa pemerintah Cina tidak mempunyai rencana untuk mengajukan stimulus fiscal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Seperti diketahui, pada tahun 2008, pengambil kebijakan Cina telah menyuntikan dana stimulus sebesar 4 trilyun yuan ($586 milyar) untuk menopang pertumbuhan ekonomi global.

Pemerintah Cina juga menjalankan kebijakan menjaga kurs mata uang Yuan tetap dalam posisi lemah untuk menjaga daya saing produknya agar tetap murah. Strategi ini mendatangkan surplus perdagangan yang menguntungkan bagi pemerintah Cina.  Menghadapi kenyataan ini para investor global (bahkan perbankan di zona euro) ramai-ramai menyalamatkan assetnya kedalam bentuk dollar AS, sehingga kurs dollar AS akan cenderung menguat.

Pinjaman Siaga 5 Miliar Dollar AS

 Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo pada bulan Mei lalu, mengisyaratkan rencana utang siaga senilai 5 miliar dollar AS untuk mengantisipasi defisit anggaran melebihi target 2,23 persen seperti yang diamanatkan APBN-P 2012.

 Pinjaman siaga tersebut dapat berupa pinjaman dana segar yang dapat ditarik langsung untuk kebutuhan pembiayaan APBN, sisanya berupa pinjaman World Bank atau sindikasi yang dapat digunakan sebagai jaminan bila pemerintah kesulitan menarik pinajaman dari pasar. Jaminan akan diberikan oleh lembaga keuangan internasional sehingga pada akhirnya pemerintah dapat merealisasikan pinjaman tersebut.

 Depresiasi rupiah akibat koreksi pasar keuangan akibat krisis zona euro merupakan salah satu penyumbang melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Melonjaknya subsidi bahan bakar dan energi ditambah prediksi koreksi pada penerimaan pajak dan naiknya beban bunga utang merupakan sumbangan lain.

 Masalahnya sampai saat ini tidak ada satupun yang mampu memprediksi akhir dari krisis zone euro. Apakah Yunani dalam jangka waktu 12 bulan akan keluar dari zona euro sesuai dengan prediksi Paul Krugman seorang ekonom dan penerima hadiah Nobel – dan kembali menggunakan mata uang drachma yang dapat di depresiasi – dengan demikian Yunani dapat mendorong ekspor, menekan impor sehingga  dapat menikmati surplus perdagangan, atau akan tetap di zona euro dengan masa pemulihan panjang yang penuh penderitaan. Keluarnya Yunani (Grexit), akan mendorong keluarnya Itali (Ixit), Portugal (Porxit) dan Spanyol (Spaxit), ini berarti Uni Eropa terancam bubar.  Bila ini terjadi maka akan terjadi kekacauan ekonomi global pada tahun 2013.

 Ketidak pastian kapan berakhirnya krisis diperkirakan akan menyebabkan investor semakin berhati-hati, menahan aset portofolio atau bahkan melakukan capital flight untuk mengamankan asetnya. Bila hal ini terjadi, rupiah akan terus melemah, akibatnya nilai impor bahan baku dan konsumsi akan melonjak, alhasil inflasi akan terus meningkat.

 Pemerintah sudah bersiap menghadapi kondisi ekonomi terburuk. Pinjaman siaga 5 miliar dollar AS merupakan pinjaman kontigensi, “Tujuannya untuk kehati-hatian,” kata Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo. Pinjaman tersebut berperan seperti dana siaga (standby loan) pada saat Indonesia menghadapi krisis keuangan global tahun 2008 hingga 2009 lalu.

 ———

Terbanggi Besar, 5 Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: