ANCAMAN PERLAMBATAN PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG


Hari-hari  terakhir headline di Lampung Post membuat miris para stakeholder bidang perekonomian di Propinsi Lampung.

Kita simak berita tanggal 6 Juni 2011 : “Ekspor Udang Lampung Turun”. Realisasi ekspor udang beku Lampung terus menurun sejak  awal 2011. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi Lampung,  kebijakan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) menghentikan sementara produksinya turut memperparah ekspor udang asal Lampung. Penutupan tersebut diperkirakan akan menurunkan ekspor udang hingga 20 ribu ton.

Headline tanggl 10 Juni 2011 dengan judul : “PHK Ancam Buruh Peternakan”.  Diberitakan bahwa ribuan pekerja peternakan sapi (feedloter) di Lampung terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) jika Australia menghentikan ekspor sapi hingga enam bulan mendatang.

Berita lain tertanggal 11 Juni 2011 : “SPBU kehabisan Stok Premium”. Memberitakan kekosongan premium yang kembali terjadi di Bandarlampung. Menurut Kepala Pertamina Depot Panjang Hamid Dude, kekosongan stok premium di SPBU kemungkinan disebabkan karena SPBU sudah menjual melebihi jatah kuota yang sudah ditentukan.

Tingginya pertumbuhan  jumlah kendaraan bermotor di Lampung, dituding sebagai penyebab dari cepat habisnya jatah kuota yang disalurkan oleh pihak Pertamina.

Inflasi dan Pengangguran

Kinerja perekonomian diantaranya diukur dari tingkat inflasi dan  pengangguran.  Dalam jangka pendek, dapat dikatakan bahwa tingkat inflasi mempunyai korelasi negatif   terhadap tingkat pengangguran. Teori kurva Philip yang terkenal akan menjelaskan hal ini. Bila inflasi tinggi maka pengangguran (dalam hal ini tingkat pengangguran alamiah) akan rendah, bila pengangguran tinggi maka inflasi akan rendah.

Kasus penghentian produksi PT AWS yang selain berefek pada berkurangnya devisa akibat turunnya target ekspor udang, juga berpengaruh pada perekonomian para petambak karena para petambak kehilangan mata pencahariannya. Ancaman pemerintah Australia untuk mengekspor sapi akan menghentikan aktivitas produksi perusahaan feedloter, akan menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dilain pihak secara teoritis inflasi tidak bisa dihentikan karena mempunyai sifat inersia (inflation inertia). Inflasi akan cenderung terus bergerak keatas. Pada suatu kondisi tertentu, konon hanya resesi dan tingkat pengangguran yang tinggilah yang bisa mengerem laju inflasi.

Laporan kajian ekonomi regional Provinsi Lampung periode triwulan pertama tahun 2011 dari Bank Indonesia, melaporkan bahwa secara tahunan, inflasi Lampung pada triwulan pertama tahun 2011 mencapai 10,99 %, berada pada urutan kedua tertinggi di wilayah Sumatera dan nasional. Sedangkan jumlah pengangguran (mengutip data BPS), apabila dibandingkan Februari 2010, jumlah  pengangguran turun sebesar 9,84%.

Ancaman Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu pada akhir tahun 2010 sebenarnya sudah memberikan sinyal peningkatan laju inflasi akibat kelangkaan BBM. Dalam laporannya, kelangkaan BBM bersubsidi di beberapa wilayah di Indonesia serta wacana penghapusan BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi telah menyumbang kenaikan inflasi.

Salah satu penjelasannya adalah bahwa  kelangkaan BBM menjadi pendorong utama keputusan peningkatan harga ditingkat pedagang. Pedagang dalam menentukan harga juga cenderung asimetris dalam menggunakan informasi untuk menaikan dan menurunkan harga. Akibatnya pada masyarakat, kelangkaan BBM akan memukul kehidupan masyarakat sehari-hari dan menyebabkan daya beli masyarakat menurun.

Melihat realisasi inflasi Propinsi Lampung cukup tinggi pada triwulan pertama (10,99 %, berada pada urutan kedua tertinggi di wilayah Sumatera dan nasional), ditambah dinamika ekonomi seperti kasus AWS, pelarangan ekspor sapi oleh pemerintah Australia dan kelangkaan BBM, yang sifatnya berupa kejutan non-fundamental, maka ekspektasi inflasi diperkirakan akan terus meningkat pada periode mendatang.

Dilain pihak, penghentian produksi AWS maupun berhentinya aktivitas perusahaan feedloter akibat tidak mendapat suplay sapi bakalan dari Australia, diperkirakan akan menyebabkan naiknya angka pengangguran.

Ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi di Propinsi Lampung semakin nyata. Laporan kajian ekonomi regional Provinsi Lampung periode triwulan pertama tahun 2011 dari Bank Indonesia  menunjukkan pertumbuhan perekonomian yang melambat (6,38%) dibandingkan triwulan ke empat tahun 2010 yang tumbuh mencapai 6,95%.

Menjadi tugas yang cukup berat bagi semua pihak untuk bisa menyelesaikan permasalahan ekonomi seperti yang diuraikan diatas, agar perlambatan pada triwulan pertama tidak berlanjut hingga triwulan kedua, mengingat berdasarkan pengalaman pada triwulan ketiga biasanya inflasi akan naik  selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

——-Selesai ——-

Terbanggi Besar 16 juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: