EMANSIPASI


Dan Kartini-pun dipingit.

Dalam surat yang muram, Kartini bercerita tentang kegetiran.

“Ketika saya sudah  berumur  dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah – saya mesti masuk “tutupan”; saya dikurung di dalam rumah. Seorang diri, sunyi senyap  terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar dunia itu lagi, bila tiada serta seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan  tiada setahu kami…”  (Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

Dengan fasih Raden Ajeng Kartini menuliskan dalam bahasa Belanda tentang kegelisahan hatinya sebagai wanita Jawa yang rapuh terbelenggu adat yang kuat.  Kartini tenggelam dalam kegelapan dan ketidakberdayaan.

“Sesungguhnyalah  adat sopan santun kami orang Jawa amatlah sukar. Adikku harus merangkak bila hendak lalu dimukaku. Kalau ada adikku duduk di kursi, apabila aku lalu, haruslah dengan segera turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Tiada boleh adik-adik ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Hanya dengan bahasa kromo dia boleh menegurku, tiap-tiap kalimat yang disebutnya, harus dihabisinya dengan sembah”.  (Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar Agustus 1899).

Melalui surat-surat itu, Kartini mencari pencerahan. Emansipasi di dunia barat saat itu, seperti bintang terang yang jauh diatas awan. Beruntung bagi Kartini yang terkungkung di tanah Jawa, sahabat-sahabatnya di Belanda menerbitkan surat-suratnya kedalam sebuah buku :   Door Duisternis Tot Licht.  Habis gelap terbitlah terang.  Buku yang mashur itu disusun oleh Mr. Abendanon,  terbit pertama kali pada tahun  1911.

Buku yang mendapat sambutan hangat masyarakat Belanda kala itu.  Buku yang menginspirasikan tentang persamaan hak, kebebasan, kemerdekaan dan kemandirian ditengah cengkeraman adat istiadat. Kemudian terbentuklah Kartinifonds di Denhaag yang mem-pelopori terbentuknya sekolah untuk anak perempuan setingkat HIS dengan nama Kartini-Schoolvereniging. Sekolah Kartini, pertama kali berdiri di Semarang pada tahun 1913.

*****

Jauh di ujung utara pulau Sumatera,  emansipasi sudah berlangsung di Aceh.  Cut Nyak Dien, memimpin tentara dan bergerilya di hutan-hutan pedalaman Meulaboh. Cut Nya Dien menjadi mimpi buruk bagi pasukan Belanda pimpinan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz, terutama setelah pasukan Belanda menembak mati suaminya, Teuku Umar, dalam suatu penyerbuan Belanda di Ujung Kala ditepi pantai Meulaboh yang suram di tahun 1889.

Selama enam tahun, Cut Nyak Dien memimpin tentaranya hingga tertangkap tahun 1905  di hutan rimba antara sungai Woyla dan sungai Meulaboh. Cut Nya Dien ditangkap oleh pasukan Belanda pimpinan Letnan Van Vureen akibat penghianatan anak buahnya sendiri yang merasa iba melihat Cut Nya Dien yang renta  sedang didera penyakit parah dan mengalami rabun.

Belanda kemudian mengasingkannya ke Sumedang pada tahun 1907 karena takut Cut Nya Dien masih tetap menjadi ikon yang menggelorakan semangat perlawanan orang Aceh. Cut Nya Dien akhirnya meninggal pada tahun 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang.

Cut Nya Dien, sudah berlari mengendarai emansipasi. Sejajar dengan panglima-panglima perang Aceh dalam menghadapi penjajah Belanda. Cut Nya Dien telah merasakan persamaan hak, kebebasan, kemerdekaan dan kemandirian – sesuatu yang dianggap barang mewah, seperti bintang terang yang jauh diatas awan yang menjadi impian Kartini di tanah Jawa.

*****

Dan Kartini-pun tidak akan percaya.

Seratus tahun kemudian, tanah Jawa bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden wanita. Megawati.

Cita-cita Kartini sudah tercapai, bahkan mungkin telah melampuai batas yang ia bayangkan. Gegap gempita emansipasi telah memutuskan belenggu seperti  yang diimpikan Kartini. Perempuan Indonesia sudah sejajar dengan kaum pria, bahkan telah menyentuh kubangan kelabu dunia kriminal.

Kartini mungkin tidak kenal Artalita Suryani (Ayin) terpidana lima tahun kasus suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan,  Liem Marita alias Aling terpidana seumur hidup kasus narkoba, dan Darmawati Dareho terpidana kasus korupsi Departemen Perhubungan (Dephub).

Suap, narkoba dan korupsi. Semuanya dilakukan oleh wanita. Sesuatu yang tampak seperti kemustahilan di jaman Kartini.

Suap dan korupsi, mungkin masih belum terpikirkan oleh Kartini. Tetapi narkoba bisa dipadankan dengan candu pada saat itu. Candu seperti penyakit sampar, bahkan lebih ganas dari penyakit sampar itu sendiri tutur Kartini dalam suratnya ke Nona Zeehandelaar 18 Mei 1899.

“Benar juga kata orang; Candu  itu tiadalah jahat, selama ada uang pembeli racun itu; tetapi bila tiada menghisap lagi, tidak ada uang pembelinya, sedang badan sudah menjadi hamba madat, maka sangat berbahayalah orang itu, celakalah dia ! Oleh  perut lapar orang jadi pencuri, tetapi oleh tagih akan candu orang menjadi pembunuh. Kata orang disini : mula-mulanya madat itu jadi nikmat bagi engkau, tetapi kesudahannya dialah yang menelan engkau. Dan perkataan itu sungguh-sungguh benar!

Aduh, Tuhan, ya Tuhan! Sedih hati melihat kejahatan itu disekeliling diri, sedang diri tiada berdaya menjauhkannya!”

Ayin, Aling dan Darmawati telah melesat melampaui gagasan Kartini, membuktikan bahwa wanita telah setara dengan kaum pria bahkan dalam melakukan tindakan kejahatan. Wanita telah tercatat  menjadi pemain utama dalam kejahatan yang  menurut Kartini lebih ganas dari penyakit sampar itu sendiri. Mungkin bukan itu yang dimaksud dengan emansipasi menurut Kartini.

*****

Cuplikan surat-surat Kartini dari buku : Habis Gelap Terbitlah Terang, terjemahan Armijn Pane. Penerbit : PT Balai Pustaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: