MIYABI TIDAK JADI DICULIK


Seorang blogger menulis tentang Miyabi.  Saat orang pertama kali melihat foto Ozawa akan berkata : “Wait a minute, you are saying this woman does hardcore pornography?”

Banyak orang tidak percaya dengan penampilan Miyabi (Maria Ozawa) yang terlihat innocent adalah seorang bintang film terkenal AVs (adult videos). Wajah blasteran Jepang dengan Perancis- Canada yang terlihat eksotis, ternyata malang melintang di dunia industri AV di Jepang. Tahun 2006, Maria Ozawa memenangkan sebuah kompetisi AV di Jepang. Bahkan pada tahun 2009, AV yang dibintangi Ozawa memenangi the Best Violence Video Award dan AV yang lainnya memenangi Special Award in the Feature Actrees Video Catagory pada acara 2009 AV GrandPrix.

Industri film jenis AV memang merupakan industri besar di Jepang yang meraup keuntungan yang tidak sedikit.  Dilaporkan, sekarang Ozawa menikmati kehidupan yang mewah,  tinggal di sebuah mansion (high-class apartment)  dengan sewa AS$ 1.682 per bulan, dengan pendapatan minimum AS$ 8.000 per bulan.

Miyabi representasi geisha modern  (wanita penghibur), hal yang lumrah dan merupakan budaya di Jepang. Kehidupan  Miyabi mungkin mirip dengan Mayonaka no Heiko, geisha paling terkenal di Edo dalam novel Samurai, Kastel Awan Burung Gereja yang mengambil setting cerita di abad 19 karangan Takashi Matsuoka. Kehidupan pejabat kekaisaran dan para samurai tidak dapat dipisahkan dengan cerita para geisha.

Miyabi (Maria Ozawa), muncul pertama kali di Indonesia lewat iklan menyambut bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Pada iklan tersebut Miyabi menggunakan jilbab dan menyapa fans-nya di Indonesia.

Sekitar bulan September 2009, Miyabi kemudian menjadi topik pemberitaan, setelah timbul laporan Maxima Picture hendak membuat film komedi dengan judul : Menculik Miyabi, berdasarkan cerita yang dibuat oleh Raditya Dika, seorang penulis buku remaja.

Pro dan kontra menjadi publikasi gratis bagi Miyabi. Mungkin dengan adanya geger penolakan kedatangannya ke Indonesia akan menambah popularitasnya. 

Tetapi dilain pihak, bagi Raditya Dika, heboh penolakan Miyabi menjadi publikasi yang bersifat negatif.  Pada suatu blog, ada penulis yang menuduh bahwa penulis dan sutradara film Menculik Miyabi sudah kehabisan cara untuk membuat film yang bisa meledak meraup penonton di Indonesia.  Bahkan ada penulis yang memberi komentar : “Kenapa mesti Miyabi, memang di Indonesia tidak ada bintang film panas ?”.

Kerasnya penolakan masyarakat Indonesia membuahkan hasil. Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia. Tapi sekarang kepolulerannya semakin terdongkrak dengan adanya peristiwa diatas. 

Miyabi tidak jadi diculik. Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia bisa bernafas lega. Tapi, mungkin sekarang makin banyak orang Indonesia yang penasaran melakukan surfing mencari AV-nya Miyabi di internet.  

*****

End of October 2009

1 Komentar

  1. andrey said,

    Oktober 29, 2009 pada 10:30 pm

    Sebuah contoh kontradiksi alam berpikir, bagi yg cerdas hal tsb dijadikan sebuah komoditi marketing, lg2 yg meraup untung produser ybs dan bintangnya, he…he…he… kebodohan atau kemunafikan ?…entahlah sebab saat ini tdk ada bedanya di negri ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: