“AUDISI” CALON MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU II


Audisi adalah istilah yang lebih populer daripada istilah rekruitmen. Audisi calon menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, sebenarnya adalah proses rekruitmen calon menteri-menteri yang dilakukan oleh Presiden SBY.  Recruitment, melalui proses uji dan seleksi tersebut  berangkat untuk menguji calon menteri yang berasal dari dua latar belakang yang berbeda, yaitu berasal dari para politikus dan para professional. Calon menteri dari latar belakang politikus berasal dari partai politik yang sudah menyatakan berkoalisi secara terbuka dengan Partai Demokrat,  yaitu partai pemenang pemilu lalu.

Calon menteri dari partai-partai yang berkoalisi, berarti secara eksplisit menyatakan mendukung dan dapat bekerja sama dengan presiden yang terpilih. Menteri-menteri merupakan pembantu presiden, sehingga perlu dilakukan seleksi agar menteri yang terpilih memiliki “chemistry” dengan presiden-apapun latar belakang partainya, diharapkan memiliki kinerja yang seirama dalam menjalankan program kerja presiden.

Berbeda dengan proses “audisi” calon menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid I, pada saat itu JK sebagai wakil presiden mempunyai bargaining position yang kuat  dalam menentukan gerbong cabinet. Dapat dipastikan, pada proses “audisi” kali ini, Budiono sebagai wakil presiden tidak se-powerfull JK dalam menentukan calon pembantu presiden tersebut.

Publikasi proses “audisi” calon menteri begitu gegap gempita, seakan ingin menjelaskan kepada masyarakat bahwa proses rekruitmen dilakukan secara professional dan terbuka, walaupun memang ada kesan “balas jasa” kepada para elit partai yang telah memenangkan SBY dalam pertarungan pilpres. 

Untuk partai besar seperti PDIP yang tidak menyatakan berkoalisi dengan partai pemenang pemilu kemungkinan besar tidak akan ada kadernya yang mengikuti proses rekrutment. Ini berarti tidak ada calon menteri yang berasal dari kader partai tersebut.

Banyak yang mempertanyakan kompetensi dari para calon menteri yang berasal dari para politikus. Dilain pihak, banyak juga kalangan yang pesimis pada integritas para calon menteri dari politikus, apakah bisa bekerja secara professional sebagai menteri atau malah ”bermain mata” dengan kepentingan partai politiknya, walaupun bisa saja dikemudian hari calon menteri tersebut mundur dari jabatannya di partai politik.

Semakin banyak partai politik yang berkoalisi, maka semakin kuat dukungan terhadap pemerintah. Tapi kekuasaan yang terlalu besar harus diimbangi oleh kekuatan penyeimbang yang diharapkan  dilakukan oleh partai politik yang tidak tergabung dalam koalisi. Masyarakat berharap PDIP dan partai lainnya yang tidak tergabung dalam koalisi bisa berperan sebagai kekuatan penyeimbang tersebut. Megawati diharapkan menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan ekonomi kerakyaan (yang selama ini dijanjikan dalam kampanye pemilu lalu) untuk meng-counter program ekonomi Budiono dan Sri Mulyani yang sering dicap sebagai ekonomi neo-liberal.

Sosok Budiono sebagai Wakil Presiden suatu saat sangat menentukan,terutama bila Presiden tidak dapat menjalankan tugas-tugas kepresidenannya. Tidak ada yang menyangsikan kompetensinya dibidang ekonomi, tetapi apakah bisa bekerja sama dengan seluruh menteri-menteri yang dipilih  oleh Presiden – hal ini penting mengingat terlihat begitu  mendominasinya Presiden SBY dalam proses audisi calon-calon menteri tsb.

Presiden SBY kemungkinan besar akan bekerja secara powerfull, mengingat dukungan koalisi partai politik dan menteri-menteri yang dipilihnya secara langsung.  Ini berbeda bila “suatu saat”  Wapres Budiono – seorang profesional  harus menggantikan Presiden SBY, tidak ada jaminan mendapat dukungan dari koalisi partai pendukung Presiden SBY baik dukungan dari kabinet maupun dari DPR.

Bisa diperkirakan, bila Wapres Budiono harus menggantikan Presiden SBY karena alasan tidak dapat melanjutkan tugas-tugas kepresidennya, akan terjadi tarik-menarik kekuasaan. Akibatnya bisa sangat mengerikan : koalisi partai akan pecah yang berakibat  dukungan terhadap pemerintahan akan melemah. Pada saat itu, kekacauan di tingkat elit politik akan mempengaruhi arah pembangunan ekonomi, pada akhirnya akan dirasakan oleh rakyat banyak.  Kondisi yang tidak stabil dapat menyebabkan tingkat kepercayaan investor akan turun tajam dan berdampak pada  investasi  yang berkurang.  

Disisi lain, pulihnya ekonomi Amerika Serikat kemungkinan besar akan menyebabkan naiknya harga minyak dunia.  Dengan berat hati, pemerintahan akan mengambil kebijakan tidak populer dengan menaikkan harga bbm. Menaikkan harga bbm menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok akan meroket, dampak langsung adalah naiknya angka kemiskinan.

*******

 

 

 

 

 

2 Komentar

  1. andrey said,

    Oktober 25, 2009 pada 8:54 pm

    Audisi identik dg penyaringan calon model, selebritis dsb, apakah ini sebuah indikasi bahwa pejabat yg terpilih perilakunya meski secara lambat dan tersamar akan seperti selebritis?…sehingga tdk lg memegang makna bhw mereka adl pelayan bagi rakyat, atau malah yg terjadi justru sebaliknya… mbuhhhh…
    Pemilihan berdasarkan hutang budi merupakan sebuah awalan yg tdk baik, mengindikasikan bhw kepentingan segelintir masih berada di atas kepentingan rakyat, mari kita lihat dan buktikan….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: