MEREKA YANG PERKASA : PEMUDIK BERMOTOR


Diprediksi 3.9 juta pemudik bermotor akan mengarungi keganasan jalan untuk suatu tujuan yang mulia : berlebaran dikampung halaman.  Salahkah mereka ?

Sebagai gambaran tentang keganasan yang harus dihadapi oleh pemudik bermotor, tahun lalu dari 2.3 juta pemudik bermotor tercatat telah terjadi 1.052 kecelakaan lalu lintas, dimana 70 % menimpa pemudik bermotor.

Mengendarai motor untuk perjalanan jarak jauh perlu ketabahan dan kesabaran.  Saat mudik, kita akan terbiasa melihat motor yang dijejali oleh suatu keluarga lengkap : Suami sebagi rider, Istri dibonceng sambil menggendong satu orang anak. Atau satu orang anak lagi duduk berbagi dengan pengendara.  Belum lagi di belakang jok ditambah kayu untuk penahan barang biasanya kardus atau tas besar yang berisi pakaian, atau sekedar oleh-oleh untuk handai taulan di kampung halaman.

Untuk motor jenis bebek, ada  ruang kosong  antara stang motor dan jok biasanya diisi dengan barang bawaan, baik berupa tas besar atau kardus mie instan.  Untuk motor jenis matik, terdapat ruang yang lebih leluasa untuk pijakan kaki, yang tentu saja bisa dijejali dengan barang-barang.

Akibatnya rider harus konsentrasi lebih tinggi  lagi untuk menjaga kesimbangan agar tidak terjungkal, padahal saat mudik seperti itu ada ratusan bahkan ribuan motor yang berjalan bersama.  Sementara perilaku pengendara motor tidak seragam, ada yang sabar dan ada juga yang kurang sabar dengan menyelinap kesana kemari dengan kecepatan tinggi.  Perilaku buruk pengendara yang kurang sabar, menyebabkan pengendara lain harus lebih hati-hati.

Perlu ketabahan untuk mengarungi perjalanan lebih dari 6 sampai 8 jam agar bisa sampai tujuan dengan selamat. Untuk itu perlu kerjasama yang baik antara pengendara dengan penumpang yang di bonceng. Perjalanan panjang bukan saja memeras energi pengendara, bahkan akan menyiksa  penumpang yang dibonceng – biasanya menimpa kaum ibu. Suatu posisi yang biasanya kurang nyaman bila perjalanan lebih dari 2 jam.

Perlu ada kordinasi yang baik, kapan waktunya untuk istirahat sekedar melemaskan otot-otot yang dipaksa tegang dalam posisi duduk sambil menjaga kesimbangan selama beberapa jam. Perlu adanya kesabaran antara suami sebagai pengendara dan istri yang dibonceng.    

Mudik bermotor bukanlah suatu pilihan yang terbaik, tetapi suatu keterpaksaan. Motor bukanlah suatu kendaraan yang nyaman untuk suatu perjalanan jarak jauh, apalagi dikendarai oleh satu keluarga lengkap.

Mudik bermotor adalah suatu perjalananan yang berat, tetapi masyarakat banyak  tidak punya pilihan.  Apalagi bila ditinjau dari sudut ekonomis. Mudik bermotor jelas lebih ekonomis dibandingkan dengan bis, kereta api atau pesawat terbang.

Perjalanan yang berat ke kampung halaman, akan terobati dengan bila sudah bertemu dengan sanak saudara.  Bertemu setahun sekali dengan keluarga besar dan tetangga, seakan merupakan suntikan  energi baru yang melarutkan segala kesulitan selama perjalanan.

Sampai saat ini, perjalanan mudik dengan menggunakan motor masih merupakan pilihan bagi masyarakat banyak. Mudik bermotor bukanlah suatu perjalanan yang ringan, justru merupakan suatu perjuangan yang panjang – sepanjang jalan yang menghubungkan kota asal hingga kampung halaman.

Perjalanan yang berat dan tidak nyaman, tetapi kemungkinan akan diulangi lagi pada lebaran tahun depan.

*******

1 Komentar

  1. andrey said,

    September 28, 2009 pada 1:42 pm

    Sebuah bukti dalam masyarakat kita bahwa silaturahmi lebih berharga dan tinggi nilainya dalam kehidupan dibandingkan perjuangan dan susah payah dlm perjalanan mudik menggunakan motor, atau fasilitas umum kelas ekonomi lainnya. Ternyata daya juang rakyat jauh lebih tinggi daripada para penyelenggara negaranya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: