ANCAMAN RESESI EKONOMI DI AMERIKA SERIKAT DIHADAPAN MATA !


Presiden Bush akhirnya mengumumkan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat (AS) dari negeri seribu satu malam. 

Rencananya, pada tahap pertama akan ditarik  2.000 Marinir pada bulan ini. Selanjutnya akan diikuti dengan penarikan 3.500 – 4.000 prajurit dari angkatan darat pada pertengahan bulan Desember.  Rencana akan dilanjutkan  pada bulan Juli 2008 dengan penarikan sekitar 4 brigade tempur yang  akan kembali pulang ke pelukan Paman Sam. Bush rencananya hanya akan menyisakan 130.000 – 135.000 prajurit di Irak. 

Mengapa Bush menarik tentaranya dari medan tempur di Irak ? Apakah Irak sudah dalam keadaan ”kondusif” ? atau apakah ada tekanan dari lawan-lawan politiknya terutama dari kubu Partai Demokrat ? Atau ada tekanan ekonomi akibat subprime mortgage crisis yang menyeret perekonomian AS dalam jurang resesi ? 

”Bangsa Amerika ingin melihat seberkas cahaya diujung lorong gelap”, kata Senator Norm. Coleman dari Partai Republik. Tentara AS memang memasuki lorong gelap tanpa seberkas cahaya diujungnya, sewaktu menginvasi Irak beberapa tahun lalu. Dalam perang di Irak, tercatat 3744 tentara AS gugur diberbagai medan operasi, selain harus menggelar berbagai peralatan tempur modern yang telah menyerap anggaran yang tidak sedikit, diperkirakan telah mencapai US $ 450 milyar. 

Tapi ada alasan yang lebih kuat bagi Bush dalam melakukan manuver politik tersebut. Dengarkan pendapat pemimpin Senat dari Partai Republik, Senator Mc Connell : ”Seperti yang anda ketahui, kami kehilangan suara pendukung kami, tetapi tidak banyak dan saya pikir (dengan penarikan mundur tentara AS) suara yang hilang akan kembali”.  

Bush kelihatannya memperhitungkan  efek negatif dari kebijaksanaannya dalam menunda penarikan mundur  pasukan dari Irak. Sementara itu, lawan politiknya memanfaatkan isu politik ini untuk mengail suara di pesta pemilu pada tahun 2008.  

Pengaruh Subprime Mortgage Crisis Terhadap Perekonomian Global 

Henry Paulson dari European Central Bank (ECB) mengatakan bahwa Subprime Mortgage Crisis terbukti telah memberi pengaruh buruk terhadap perekonomian AS.

“Walaupun ‘slow down’ perekonomian AS berhasil dibatasi, tetapi perlu diwaspadai pengaruhnya terhadap resiko pasar financial global”, katanya.

Sementara itu Forum Stabilitas Finansial G7 – sebuah forum yang beranggotakan menteri-menteri keuangan, pejabat bank Sentral – akan mengevaluasi likuiditas lembaga-lembaga keuangan, praktek-praktek resiko kredit, prosedur akunting dan penilaian terhadap perdagangan derivatif, prinsip-prinsip supervisi  dan peranan agen pemberi rating kredit. 

Bahkan negara-negara yang merupakan Group of Seven, yang merupakan Negara-negara ‘top economies’ telah meminta G7 untuk memberikan laporan rinci mengenai akar penyebab krisis pada pertemuan para menteri keuangan di bulan Oktober mendatang. Seorang anggota dewan ECB, Erkki Liikanen mengatakan perlu waktu berbulan-bulan untuk memulihkan pasar finansial agar kembali normal. 

Ancaman Resesi Ekonomi di AS

Kamis 13 September 2007, harga minyak kembali menyentuh harga tertinggi US $ 80 per barrel.  “Rekor harga minyak dan jatuhnya nilai dolar AS terhadap Euro tentu saja akan merubah scenario yang telah dirancang”, kata Andrea Bailo dari Banca MB Spa di Milan.

Walaupun harga minyak US $ 80 per barrel bukan merupakan harga tertinggi seperti yang pernah tercapai pada tahun 1980 lalu, tetapi para analisis ekonomi memperkirakan harga minyak tersebut tetap terasa berat mengingat dampak subprime mortgage crisis.

Delapan – puluh – dollar – per barrel, mendorong AS ke tepi jurang resesi”, kata Nigel Gault dari Global Insight.

Prediksi tentang terjadinya resesi di AS sudah diramalkan oleh para analisa ekonomi sebelum kasus subprime mortgage meledak. Setidak-tidaknya, resesi akan terjadi bila 4 hal telah terpenuhi :

    1. Terjadi ‘turmoil’ pada pasar financial, misalnya akibat dari krisis kredit perumahan.

         Note : Persyaratan ini sudah terpenuhi dengan adanya kasus subprime mortgage crisis. 

    2.  Naiknya harga minyak dunia.

        Note : tanggal 13 September 2007, harga minyak dunia telah mencapai rekor tertinggi sebesar US $ 80 per barrel.

    3. Jatuhnya nilai tukar dollar AS.

        Note : Nilai tukar dollar AS terhadap Euro telah mencapai rekor titik terendah pada minggu ini.

    4. Defisit budget yang diprediksikan akan menyebabkan tekanan terhadap kebijaksanaan fiscal dan stabilitas makroekonomi.

 Federal Reserve diperkirakan akan memotong suku bunga hingga 50  basis point pada pertemuan 18 September mendatang. Inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan perekonomian AS selain mengurangi tekanan terhadap defisit budget melalui pengurangan anggaran perang dengan cara menarik mundur pasukan AS dari medan tempur di Irak.

 ——-

14 September 2007

5 Komentar

  1. teeweeq said,

    Januari 16, 2008 pada 6:05 am

    Sebuah kesombongan yang akhirnya diruntuhkan oleh karena kesalahan dirinya sendiri. Hmmm …what can we say???

  2. dimastidano said,

    April 9, 2008 pada 5:36 am

    Terimakasih atas comment-nya.

  3. Mei 3, 2008 pada 12:40 am

    akhirnya……………………….?

  4. Reza said,

    Januari 7, 2009 pada 3:37 pm

    Akhirnya terjadi….. Amerika Serikat harus menanggung keserakahannya sendiri… Banyak pajak dari warga negaranya yang “diselewengkan” untuk kegiatan perang di Afghanistan maupun Irak…, hasilnya? Lihat media massa.

  5. mbelgedez said,

    Juli 13, 2009 pada 10:49 am

    Sebuah episode antiklimaks dari sebuah kesombongan, keserakahan dan aroganisme dari sebuah negara yang menganggap dirinya “paling super”?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: