EARNINGS MANAGEMENT, FRAUD ATAU BUKAN ? (I)


Fenomena earnings management seperti dua sisi mata uang. Pada satu sisi terang, earnings management adalah produk yang ‘legitimate’, sedangkan disisi lain (sisi gelap), earnings management dianggap sebagai produk dari suatu tindakan yang ‘immoral’ dan  ‘unethical’.

Earning  management oleh sebagian kalangan dianggap sebagai ‘proffesional judgement’ atas laporan keuangan, tetapi dapat menyesatkan (mislead) pihak stakeholder dalam melakukan interpretasi terhadap performa ekonomi (economic perfomance) suatu perusahaan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen telah dengan sengaja melakukan tindakan manipulasi atau tindakan lainnya yang dapat mempengaruhi laporan keuangan.

Konsekuensinya akan lebih luas bila earnings management dilakukan oleh manajemen perusahaan go publik, pihak insvestor akan terlihat ‘bodoh’ bila mempercayai laporan keuangan tersebut. Biasanya hal ini dilakukan oleh pihak manajemen yang mempunyai keyakinan kuat bahwa pihak insvestor tidak mempunyai akses informasi ke dalam perusahaan, sehingga investor akan melihat laporan keuangan tersebut sebagai laporan yang true report.

Bila manajemen tidak mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan, maka dapat disimpulkan bahwa earning quality telah bernilai positif. Data-data yang dilaporkan berarti dapat  dipercaya dan dapat diandalkan. Tanpa campur tangan earnings management, berarti laporan keuangan telah benar-benar merefleksikan kondisi sebenarnya suatu perusahaan dan akan membantu pihak stakeholder dalam memprediksi performa ekonomi perusahaan tersebut dimasa datang.

Sebagian kalangan – terutama kalangan akademisi, melihat bahwa earnings managemet terlihat “sangat menakutkan”, karena aktivitas  ini sangat berhubungan dengan moralitas dari manajemen.

Motivasi dalam Melakukan Earnings Management

Motivasi untuk melakukan earnings management biasanya timbul akibat “pressure” baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. Pressure dari dalam perusahaan biasanya berhubungan dengan perfoma keuangan yang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Motivasi ini semakin kencang bila performa keuangan berhubungan dengan “reward” berupa insentive keuangan, seperti bonus atau untuk mendapatkan kompensasi yang maksimal.

Sedangkan motivasi dari luar, biasanya justru datang dari pihak top manajemen yang ingin menunjukkan bahwa berkat kepemimpinan mereka performa keuangan perusahaan telah menjadi lebih baik. Terutama bila perusahaan ini adalah perusahaan go publik, maka pihak top manajemen ingin menunjukkan kepada para pemegang saham bahwa kepemimpinan mereka dapat diandalkan. Kecenderungannya akan lebih kuat, bila data aktual hanya berada dibawah sedikit dari target yang diinginkan. Maka earnings management berfungsi untuk “menyempurnakannya” menjadi laporan keuangan yang lebih baik.

Dalam kaitannya dengan pasar modal, earnings management juga dilakukan oleh pihak manajemen bila terdapat “gap” antara perfoma perusahaan dengan ekspektasi dari para analisis pasar modal. Manajemen biasanya secara agresif akan membuat laporan keuangan sesuai dengan “forecast” dari pihak analis pasar modal.

Motivasi lain adalah untuk membuat laporan keuangan lebih atraktif dan menarik dalam upaya mengajukan aplikasi pinjaman (loan aplication) atau melaksanakan IPO (Initial Public Offering).

Bahkan dalam melakukan pengajuan aplikasi pinjaman, terdapat indikasi bahwa earnings  management dilakukan justru untuk membuat laporan keuangan menjadi “sangat menyedihkan”, dengan tujuan untuk mendapatkan belas kasihan suntikan dana dari pihak bank.

Ethical Behaviour

Earning management merupakan suatu tindakan immoral. Walaupun earnings management dibuat berdasarkan Standar Akuntansi yang berlaku, tetapi tidak berarti earnings management merupakan tindakan cerdas untuk melegitimasi fraud.

Sampai saat ini belum ada metoda yang efektif untuk menghapus earnings management dari aktivitas akuntansi. Profesor Michael D. Acker dari Morquette  University menyarankan perlunya edukasi yang membahas earnings management secara luas. Sehingga, akan banyak orang yang dapat mengindentifikasi teknik-teknik earnings management. Edukasi juga bisa dilakukan melalui media bisnis dan profesional yang mengajarkan pembacanya agar dapat mendeteksi earnings management secara praktis.

Beberapa literatur menunjukkan bahwa institusi yang diciptakan oleh investor dapat mampengaruhi, memonitor dan bahkan mendisiplinkan perilaku manajemen. Sedangkan dari internal perusahaan, Board of Director ( BOD) yang berasal dari luar perusahaan cenderung akan bertindak lebih independen, sehingga dapat memonitor dan mengontrol manajemen.

Literatur lain, menyarankan adanya regulasi yang dapat dengan segera mendekteksi adanya earnings management. Dalam regulasi tersebut, diatur tentang berapa jauh manajemen boleh melakukan “judgement” terhadap laporan keuangan melalui earnings management.

*****

17 Agustus 2007

8 Komentar

  1. chika said,

    Februari 21, 2008 pada 5:48 am

    Memang saat ini sah atau tidaknya praktik manajemen laba masih menjadi perdebatan. Fenomena tersebut juga menjadi pertentangan tersendiri apabila dikaitkan dengan mata kuliah perencanaan dan perancangan pajak. Manajemen laba seolah-oleh boleh dilakukan dalam rangka penghindaran pajak untuk meminimalisasi pajak yang harus dibayarkan, asal tidak melanggar hukum atu menuju pada penggelapan pajak. Lalu bagaimana sebenarnya?persepsi mana yang benar?apakah manajemen laba tergantung dari motivasi melakukannya…

  2. dimastidano said,

    Februari 22, 2008 pada 4:17 am

    Terimakasih atas comment-nya.

  3. agnes said,

    Juni 13, 2008 pada 8:18 am

    apapun alasan atau motivasi yang mendasari perilaku manajemen laba atau dengan kata lain manipulasi laba, tetap saja tindankan manajemen laba melanggar hukum karena mengurangi fairness dan decision usefullness dalam pelaporan keuangan itu sendiri (informasi keuangan yang disampaikan menjadi tidak obyektif lagi). silahkan lihat di peraturan pasar modal yang berlaku.

  4. agung wiryanata said,

    Maret 23, 2009 pada 8:09 am

    Sepanjang masih sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum, earning management boleh saja dilakukan oleh management.

  5. reno said,

    Januari 11, 2011 pada 4:42 pm

    mmm……. iya–iya…. tapi mengenai fraud nya koq gak diulas agak rinci mas…. soalnya saya g’ terlalu ngerti neh apa hubungan earning management dan fraud

  6. bela haqi said,

    Oktober 29, 2011 pada 11:35 am

    tolong di ulas mengenai hubungan managemen laba dengan fraudnya ya..

  7. Ir. Himawan Pudya Kelana, SE, SH., MM. said,

    November 24, 2011 pada 8:27 pm

    Harus ada cutoff yang jelas dan tegas untuk mengkategorikan EM, apakah suatu EM sudah termasuk kecurangan atau belum (masih wajar). Tinjauan hukum dan tinjauan akuntansi bisa jadi berbeda, contoh: manajer perusahaan mobil menggunakan uang perusahaan sebesar Rp 20.000 untuk kepentingan sendiri dan tanpa persetujuan direksi dan komisaris. Akuntansi memandang hal itu bukan masalah, karena kerugiannya imaterial. Hukum tidak demikian, kuantitas tidak diatur tetapi motiv dan perilakunya yang diatur. Memiliki milik orang lain tanpa persetujuan, dan untuk kepentingan pribadi-berarti tindak pidana pencurian.

    Masalah EM itu tindak pidana bukan, banyak analoginya maksudnya baik (untuk sekelompok orang) tapi merugikan orang banyak. Contoh, dokter nyuntik pasien untuk menolong pasien, tapi pasiennya mati–ini pembunuhan bukan? nah kan harus diteliti to? Sama saja dengan EM.
    Kalau saya pribadi, EM itu tetap merupakan tindak pidana. Orang mencuri untuk beli beras, agar anak istrinya tidak mati kelaparan; kalau ketangkap yang tetap dihukum; apapun alasannya. Jadi, kita harus bisa menerapkan norma sosial, susila, agama, dan hukum secara tepat. Kalau hukum mau tegak, yang setiap pelanggaran terhadap hukum harus ditindak.

    Trus gimana nih? Kalau saya gampang, rombak saja SAK yang njiplak dari Amerika itu. SAK kan bukan norma hukum, kan gak bisa dong mau ngalahin KUHP? Jangan njiplak 90% Amerika yang budaya bisnisnya laen dengan budaya bisnis bangsa kita. Sana kan ekonomi liberal, katanya kita ekonomi pancasila? Makhlum, orang-orang IAI itu cuma sarjana akuntansi; jadi tidak ngerti hukum.

    Ok, teman-teman yang mau diskusi tentang EM bisa
    kontak saya,
    Ir. Himawan Pudya Kelana, SE, SH, MM.
    08122715521

  8. fauziah said,

    Januari 24, 2013 pada 12:12 pm

    “Bila manajemen tidak mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan, maka dapat disimpulkan bahwa earning quality telah bernilai positif. Data-data yang dilaporkan berarti dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Tanpa campur tangan earnings management, berarti laporan keuangan telah benar-benar merefleksikan kondisi sebenarnya suatu perusahaan dan akan membantu pihak stakeholder dalam memprediksi performa ekonomi perusahaan tersebut dimasa datang”

    pak pernyataan ini apakah ada literarur studinya??
    saya mau kutip ini tapi tidak ada literaturnya,…
    kalau boleh tau, apa dasar bapak memberikan statement seperti ini?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: