KATROK TAPI PAKAI LAPTOP : TUKUL ARWANA


Tukul Arwana  memang lucu dan menghibur. Itu yang membuat orang mau menonton acara Empat Mata.

Sebenarnya siapa sih yang mau menonton wajah “ndeso”, tapi nekad mewawancarai artis cantik ? Tapi justru, kontradiksi ini yang menjadi magnet bagi penonton setia-nya.

Tapi Tukul memang cerdas, format acara Empat Mata dibuat serba kontradiktif dan paradoksal.  Tukul “menentertawai diri sendiri” , sementara artis yang menjadi tamu-nya berpenampilan glamor dan intelek.

Konsep acara Empat Mata adalah membuat kontradiktif ini menjadi komedi. Mungkin sudah menjadi trademark acara ini. Tukul memerankan dirinya sebagai orang dari desa yang lugu, tetapi harus mengimbanginya tamu-tamu acaranya dengan berusaha mengaktualisasikan sebagai pria metroseksual. Tukul nampak selalu berusaha menjadi “pria yang selalu menjaga estetika penampilan, imaje dan gaya hidup”.

Yang terjadi adalah komedi yang meng- eksploitasi keluguan Tukul sebagai orang “ndeso” versus Tukul yang “berusaha gaul”. Usaha ini yang menjadi titik sentral dari kelucuan-kelucuan yang timbul dan memancing penonton untuk tertawa.

Superiority Theories

Teori ini kemukakan oleh seorang profesor philosopy, D. H. Monro dari Monash University. Orang sering tertawa karena melihat ketidak beruntungan orang lain (disandvantage atau misfortune).  Dalam teori ini, orang tertawa karena merasa  berada dalam posisi “superior”.

Teori ini dikembangkan dari teori yang pertama kali dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes mengatakan bahwa :”kita mentertawakan atas ketidak beruntungan (misfortunes)  orang lain”.

Bila dikaitkan dengan acara Empat Mata, maka penonton dikondisikan pada posisi “Superior”, sedangkan Tukul Arwana pada posisi “misfortune”.  Menurut teori ini, penonton tertawa karena “misfortune” yang “diperankan” oleh Tukul. Penonton menjadi terhibur karena melihat “ke-sial-an” yang menimpa Tukul.

Kembali ke Laptop

“Masak sih, Tukul saja punya laptop, kita nggak punya. Tapi pertanyaannya apakah betul masing-masing anggota bisa mengoptimalkan itu dengan baik. Saya sangsi,” cetus seorang anggota DPR, sepertiyang dikutip oleh Detikcom pada bulan Maret 2997 lalu.

Pernyataan diatas bukan bagian dari acara Empat Mata. Tetapi benar-benar sebuah pernyataan seorang anggota DPR ketika muncul gonjang-ganjing rencana pemberian laptop seharga Rp 21 juta ke setiap anggota Dewan. Rencana ini kemudian dibatalkan akibat tekanan dari masyarakat.

Masyarakat akan meng-kaitkan masalah laptop dengan acara Empat Mata dengan salah satu ” trademark-nya” adalah Laptop.  Wajar saja dalam menentang program pembagian laptop ke anggota DPR, masyarkat akan membandingkan Tukul sebagai seorang komedian dengan anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat yang terhormat. Masyarakat telah melihat kontradiktif : sementara kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, anggota DPR akan mendapat Laptop dengan harga yang sangat mahal.

Contoh diatas adalah suatu keberhasilan dari suatu pementasan sebuah acara komedi, selain keberhasilan untuk menghibur masyarakat.  Sebuah acara komedi seperti Empat Mata dikatakan berhasil bila berhasil melakukan pendidikan kepada masyarakat, selain membuat penontonnya tertawa dan terhibur.

Mudah-mudahan Tukul Arwana tidak berubah. Mudah-mudahan acara Empat Mata tetap dalam format yang sama. Mudah-mudahan penonton tetap terhibur. Mudah-mudahan rejeki-nya Tukul tetap lancar. Amin.

******

 11 Agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: