INDUSTRI PENERBANGAN MERUPAKAN HIGH RISK BUSINESS


Seorang teman berseloroh. Sebenarnya tanpa dilarangpun, pesawat terbang Indonesia tidak akan pernah sampai ke daratan Eropa.  Selanjutnya, dia menceritakan tentang kasus pesawat Boeing 737-300 tujuan Bandara Hasanudin Makasar yang nyasar ke Bandara Tambolaka NTT  dan berbagai kasus kecelakaan pesawat terbang yang merebak  di tanah air.

Banyak kalangan menuduh bahwa bobroknya keamanan pesawat maskapai penerbangan di Indonesia diakibatkan adanya sistem Low Cost Carrier yang diterapkan secara salah kaprah.

Low Cost Carrier (LCC) Suatu Konsep Memenangkan Kompetisi.

Konsep LCC berasal dari Amerika Serikat (AS) sebelum menyebar ke benua Eropa pada awal tahun 1990-an. Terminologinya berasal dari industri penerbangan yang memiliki struktur operating cost yang rendah atau sangat rendah bila dibandingkan dengan industri penerbangan yang dikelola secara tradisional. Secara umum, perusahaan LCC bercirikan : simple, efisien, high productivity dan high utility.

Reduksi operating cost dilakukan melalui : sistem penerbangan point to point, reduksi upah buruh, menghilangkan fasilitas servis kepada penumpang selama penerbangan.

Sistem penerbangan point to point bertujuan untuk meningkatkan utilisasi unit pesawat, sehingga turn around menjadi lebih cepat dan biaya penyewaan fasilitas di bandara akan lebih murah.

Wall Street Journal edisi Oktober 2002 menginformasikan bahwa perusahaan LCC memiliki labor cost yang rendah. Sebagai contoh dua perusahaan terkemuka LCC di AS, Southwest dan JetBlue membayar labor cost 30 % – 40 % lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan penerbangan konvensional.

Saving yang ketiga, meniadakan servis selama penerbangan akan menekan biaya sebesar US$ 5 – 10  per penumpang. Dihapuskannya fasilitas makan dan minum berarti meraih saving sebesar 3.2 % dari total cost (Air Transport Association, 2001).

Sebagai contoh, Aer Lingus (perusahaan penerbangan Irlandia). melalui reformasi struktural untuk menjadi perusahaan penerbangan LCC pada tahun 2001 – 2003 berhasil melakukan reduksi fuel cost 31%, airport charge 28%, rental pesawat 51%, maintenance  12%, cut off staff 21%, reduksi overheadcost 36%, miscelenous direct operating cosr 49%, dll. Upaya ini telah berhasil menghemat 340 juta Euro.

 

Ciri-ciri bisnis LCC (dari berbagai sumber) adalah sbb :

1. Hanya ada satu kelas dalam penerbangan.

2. Menggunakan satu tipe pesawat, biasanya Airbus A320 atau Boeing 737. Dengan menggunakan satu tipe pesawat berarti mengurangi training cost dan servicing cost.

3. Skema penerbangan yang simple.

4. Tidak ada tempat duduk cadangan. Dengan tujuan agar penumpang segera boarding dan pesawat segera take off.

5. Menggunakan airport yang murah, atau terbang pagi sekali atau malam sekali untuk menghindari penundaan akibat sibuknya airport dan untuk mendapatkan tarif landing yang murah.

6. Penerbangan jarak pendek dan utilisasi pesawat yang tinggi.

7. Rute penerbangan yang simple, yaitu point-to-point transit. Tujuannya untuk meningkatkan utilisasi pesawat dan menghindari keterlambatan penumpang atau barang akibat keterlambatan dari penerbangan sebelumnya.

8. Fokus pada direct sales, khususnya menggunakan jasa internet (direct booking dan online ticket). Tujuannya menghindari fee atau komisi yang harus dibayar ke travel agent.

9. Karyawan bekerja dengan berbagai jenis pekerjaan, misal awak kabin juga bekerja membersihkan tempat duduk penumpang. Tujuannya mengurangi biaya tenaga kerja.

10. Eliminasi fasilitas makanan dan minuman gratis selama penerbangan, bahkan digantikan dengan penjualan makanan dan minuman diatas pesawat selama penerbangan.

11. Agresif dalam pengaturan pemakaian bahan bakar pesawat.

12. Struktur manajemen yang simpel.

13.Ticketless.

14. Waktu “turn round” rata-rata 25 menit.

15. Customer services bersifat umum, tidak ada perlakuan khusus terhadap penumpang.

16. Perusahaan hanya fokus terhadap jasa penerbangan, tida menyebar pada bisnis lain seperti cargo, travel dan pariwisata, dll

Industri Penerbangan Merupakan High Risk Business

Didalam dunia bisnis penerbangan, perawatan pesawat terbang komersil menyerap 30 % – 40 % dari total cost. Untuk pesawat Boeing 737, setelah mencapai 6,000 jam terbang harus dilakukan overhoule mesin dengan biaya mencapai 1 juta dollar AS (Pikiran Rakyat, 15 Januari 2007).

Perawatan pesawat memiliki prosedur yang berlapis dan sangat ketat. Sebagai contoh, pesawat Boeing 737, untuk pemeriksaan harian (daily check) sedikitnya melalui 3 tahapan : pre flight inspection (2 jam sebelum pesawat take off), pemeriksaan pada saat transit kurang lebih setengah jam, dan perawatan harian pada saat pesawat akan diinapkan.

Diluar daily check, dilakukan Three Day Inspection (pemeriksaan pesawat setiap 3 hari). Jika jam terbang Boeing sudah mencapai 125 jam, maka harus dilakukan pemeriksaan ” A Check”, yaitu pemeriksaan sehari penuh. Selanjutnya, setelah beberap jam terbang tetap dilakukan pemeriksaan khusus hingga mencapai 750 jam terbang. Setelah itu dilakukan “B Check” yang dilakukan selama seminggu.

Siklus pemeriksaan dan perawatan tersebut dilengkapi dengan riwayat pemeliharaan pesawat yang dikenal” log-book”. Keluhan pilot yang menyangkut kinerja dari sistem  pesawat dicatat dalam buku ini. Teknisi bertanggung jawab untuk menindaklanjuti kerusakan-kerusakan, juga mencatat perbaikan, penggantian suku cadang, dan sebagainya.

Pemerintah Harus Bertanggung Jawab.

Bila diasumsikan bahwa banyaknya kasus kecelakaan pesawat terbang diakibatkan oleh penyimpangan dalam pengelolaan bisnis penerbangan dengan cara menekan operating cost melalui reduksi biaya perawatan pesawat, maka pemerintah harus dituntut untuk turut bertanggung jawab.

Pemerintah dapat dikategorikan sebagai Primary Stakeholder, karena mempunyai peranan penting dalam menstimulasi dan meregulasi bisnis penerbangan yang dikenal sebagai high risk bisnis.

Peraturan dan perundangan yang berlaku meliputi UU No. 15/1992 tentang Penerbangan, CASR (Civil Aviation Safety Regulation) sebagai standar keselamatan minimum, Petunjuk Pelaksanaan dan Kebijaksaaan sebagi suplement dari CASR.

Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Hubud) menerbitkan dua dokumen yang wajib dimiliki oleh maskapai penerbangan.  Dokumen tersebut adalah AOC (Aircraft Operating Certificate atau Sertifikat Pengoperasian Pesawat) dan setiap bengkel pemeliharaan pesawat terbang wajib memiliki AMO (Approved Maintenance Organization). Selajutnya Ditjen Hubud berperan sebagi pembina pemilik AOC dan AMO, melalui pengawasan, supervisi dan pengendalian.

Kewenangan lain dari Ditjen Hubud yang sangat critical adalah bertanggung jawab dalam penerbitan lisence bagi pilot dan mekanik, juga menerbitkan otorisasi bagi dispatcher (mekanik atau pilot yang mengijinkan pesawat untuk terbang) .  Selain itu Ditjen Hubud masih berperan dalam menerbitkan Certification of Airworthiness (CoA, sertifikat kelaikan terbang) bagi pesawat yang akan beroperasi.

Tidak aneh bila Presiden SBY sempat kesal dan  “menyentil” Dirjen Hubud akibat  adanyanya larangan terbang bagi pesawat-pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia ke daratan Eropa.  Peranan Ditjen Hubud menurut undang-undang sangat besar dalam bisnis penerbangan, dari pembinaan, pengawasan, pengendalian, hingga penerbitan berbagai macam sertifikat dan lisensi.

Bila terjadi penyimpangan, dapat diduga ada kelemahan dari pihak pemerintah dalam melakukan pembinaan dan pengawasan dalam melaksanakan regulasi yang berlaku.  Dengan kata lain, pemerintah tidak dapat lepas tangan atas segala tragedi yang menimpa dunia penerbangan di Indonesia.

Pada akhirnya, harga tiket murah dalam jangka pendek sangat menarik konsumen, tetapi harga tiket murah bukan berarti maskapai penerbangan boleh mengorbankan keselamatan penumpangnya.

*****

9 Agustus 2007

Note : sebagian materi diambil dari Paper Kasus Adam Air dalam Perspektif Etika Bisnis,  sebagai tugas dalam mata kuliah Etika Bisnis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: