KOMPETISI GLOBAL DALAM MENARIK INVESTOR ASING


Dalam 3 tahun kedepan, pemerintah Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang sangat berat : pertumbuhan ekonomi 6.6 % pertahun, menurunkan angka pengangguran dari 9.7 % menjadi 5.5 %, menurunkan angka kemiskinan dari 36 juta orang menjadi 17 juta orang.

Dana yang diperlukan untuk mencapai target tersebut adalah sebesar US$ 426 milyar.  US$ 72.4 milyar diantaranya berasal  dari pinjaman investasi, sedangkan sisanya US$ 353.8 milyar dari sektor swasta (baik dalam negeri maupun luar negeri).

Kondisi sekarang dimana para investor lebih suka memarkir dana di SUN dan SBI, menyebabkan banyak kalangan mengharapkan adanya gebrakan dari investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Bahkan pada hari Kamis (9/8/2007) di Semarang saat memberi sambutan pada acara Program Semarang Pesona Asia, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono (SBY) telah meminta kepala daerah untuk bekerja secara maksimal agar bisa bersaing ditingkat global. Investor asing diharapkan menanamkan modal dan akhirnya memberi kesejahteraan kepada pemerintah setempat dan masyarakat.

Scanning Capability

Mengundang investor asing, berarti harus memahami karakteristiknya.  Investor sebagaimana halnya businessmen menginginkan maximize profit dalam jangka pendek atau mendapatkan return yang rendah tetapi mendapat jaminan keuntungan dalam jangka panjang (long- term capital gain) .

Investor asing tidak saja menginginkan rendahnya biaya material dan upah buruh, mudahnya mendapatkan permodalan yang murah dan tersedianya transportasi yang murah dan  mudah dijangkau,  tetapi juga menginginkan longgarnya regulasi dari pemerintah setempat.  Investor asing seolah-olah mempunyai “scanning capability” untuk membandingkan peluang (opportunity), potensi kendala (problem), dan  kemudahan-kemudahan lain yang didapat dari suatu negara dengan negara lain.

Kondisi ini menyebabkan negara yang menginginkan investasi asing masuk, seakan-akan berkompetisi untuk menarik investor dengan menawarkan berbagai kemudahan.

Ekspektasi keuntungan yang diperoleh suatu negara dengan adanya investor asing adalah : memecahkan masalah pengangguran dengan terbentuknya lapangan kerja baru, masuknya teknologi baru sebagai upaya mengurangi teknologi gap, mendapatkan tax revenue, memanfaatkan sumber daya alam, dan keuntungan bangkitnya investor domestik sebagai akibat multiplier effect.

Kompetisi Global

Timbul pertanyaan, mengapa disuatu negara banyak dipilih  oleh investor asing, sedangkan dinegara lain tidak ?

Menurut Michael Porter (1990), setidak-tidaknya ada beberapa atribut yang menggiring investor untuk melakukan hal tersebut :

Factor condition, dikenal sebagai  tradisional atau basic factor.  Terdiri dari :

1. Sumber daya alam. Ketersediaan dalam jumlah, kemudahan dan  biaya yang kompetitif  untuk mendapatkan sumber daya alam

2. Sumber daya manusia, meliputi kualitas, jumlah, biaya, faktor budaya dan etika.

3. Infrastruktur, meliputi : kualitas, jenis, biaya transportasi, sistem komunikasi, kesehatan, institusi budaya, dll.

4. Pengetahuan.

5. Sumber permodalan.

Demand condition, merupakan sifat dari pasar domestik yang tersedia. Terdiri dari : komposisi kebutuhan konsumen,  ukuran dan pola pertumbuhan dari permintaan domestik.

Supporting industry,  merupakan kemudahan  dalam mendapatkan support – terutama ketersedian suplier industri.  Bagi investor asing, peranan suplier ini sangat penting terutama dalam membantu melakukan create new product dan sebagai jalan untuk reduce cost.

Walaupun banyak mendapat kritikan, tetapi setidaknya Washington Consensus (1990) bisa menjadi rujukan. Beberapa diantaranya : disiplin fiskal, pajak yang rendah dan pajak berdasarkan basis broadened tax, interest rate atau liberasasi finansial, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi asing secara langsung, privatisasi, deregulasi aturan mengenai ketentuan keluar masuk barang, kepastian property right.

Untuk pemerintah Indonesia, seperti yang banyak disarankan oleh ekonom adalah : kordinasi yang lebih kuat  antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menyusun regulasi sehingga tidak tumpang tindih, standar regulasi ketenagakerjaan yang fair, penyederhanaan jalur birokrasi  dan upaya yang serius terhadap upaya pemberantasan korupsi.

*****

9 Agustus 2007

2 Komentar

  1. samantha said,

    November 9, 2007 pada 6:21 am

    thx yah buat artikelnya…
    sekarang saya udah bisa ngerjain tugas..
    heheheeee………

  2. Dimas Gaskins said,

    September 2, 2009 pada 8:51 am

    sip artikelnya!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: