SPESIES MISSING LINK DITEMUKAN !(SELAMAT DATANG KORUPSI)


Seorang Profesor bidang Psikologi Industri dari HarvardUniversity me-release laporan penelitiannya di Harvard University Buletin beberapa waktu lalu. Dalam penelitiannya, Profesor melakukan pengamatan dengan menggunakan alat yang dinamakan Digital Brain Volumetric (DBV), untuk mengukur volume otak tanpa harus melukai objek penelitiannya.

Tujuan awal dari penelitiannya adalah untuk mengetahui hubungan antara volume otak dengan tingkat kecerdasan. Sang Profesor ingin membuktikan teori yang dikemukakan oleh ahli Anatomi dan Psikologi Jerman Frederick Tiedmann. Teorinya mengatakan bahwa : ” terdapat hubungan antara volume otak dan kecerdasan seseorang”.  

Setelah dilakukan penelitian pengukuran volume otak untuk semua sample penduduk diseluruh negara di dunia. Ternyata sample penelitian disebuah negara Asia Tenggara  memberikan hasil yang sangat mengejutkan !  Volume otak rata-rata penduduknya  mempunyai volume yang sangat kecil. Diperkirakan sama dengan volume otak Homo Erectus. 

Penelitian lanjutan kemudian lebih di fokuskan pada penduduk negara tersebut(dalam Harvard University Buletin tidak disebutkan di negara mana penelitian dilakukan, diduga untuk menjaga kredibilitas negera tersebut. Hanya secara selintas dalam catatan kaki (footnote) laporannya Profesor menyatakan bahwa negara tersebut adalah negara paling korup dikawasan Asia Tenggara). 

Kesimpulan sementara penelitian tersebut menyatakan bahwa walaupun tengkorak penduduk negara tersebut merupakan tengkorak manusia modern, tetapi volume otak-nya sama dengan volume otak Homo Erectus. Tidak dijelaskan apakah ada hubungan antara kecilnya volume otak dengan tingginya tingkat korupsi dinegara tersebut.  

Dalam buletin tersebut, lebih jauh lagi Profesor Psikology Industri tersebut  melemparkan hipotesa ilmiah  bahwa penduduk negara tersebut  adalah species missing link  yang dinyatakan dalam Theory of Evalution-nya Charles Darwin dalam bukunya  yang terkenal : On the Origin of Species by Natural Selection (1859).

***** 

Seorang Profesor  “iseng” dari University of Passau Jerman, Prof. Dr. J. Graf Lambsdorff, membuat rangking negara-negara berdasarkan Corruption Perception Index (CPI).  Laporan sang Profesor kemudian direlease oleh lembaga Transparency International setiap tahunnya.

Score CPI berkisar antara 0 (sangat korup – highly corrupt), hingga 10 (sangat tidak korup – highly clean). Penentuan rangking dilakukan melalui survey dan assessment yang dilakukan oleh para expert (tidak jelas apakah expert disini berarti para praktisi korupsi  yang dinilai expert ke-korupsi-annya  atau koruptor kakap yang sudah tobat).  Hanya ada sedikit penjelasan bahwa  orang-orang yang melakukan survey berasal dari para pe-bisnis dari negara-negara industrialis.

Hasil setiap tahun kemungkinan bisa berbeda.  Penyebabnya diantaranya perbedaan orang yang melakukan survey, sehingga terjadi perbedaan persepsi tentang korupsi. Penyebab lainnya adalah perbedaan metoda dan sample yang diambil.

Hasilnya tentu saja akan subjective sekali. Sebagai contoh, pungutan liar mungkin akan dianggap sebagai tindakan korupsi oleh sebagian besar negara, tetapi ”disuatu” negara mungkin dianggap sebagai tindakan legal.

Karena sangat subjective, maka tidak aneh bila hasilnya terlihat tidak konsisten. Misal pada tahun 2005,  Indonesia mempunyai score CPI sebesar 2.2 dengan rangking ke 137  (ranking disusun dari negara yang masuk katagory highly clean dengan score CPI 10 hingga negara highly corrupt dengan score CPI 0).

Tetapi pada tahun 2006, telah berubah. Indonesia mempunyai score CPI sebesar 2.4 dengan rangking 130. Apakah ini berarti, bahwa korupsi di Indonesia pada tahun 2005 lebih dahsyat dibanding tahun 2006? Atau korupsi di Indonesia pada tahun 2006 menjadi lebih canggih sehingga sulit dideteksi dibandingkan tahun 2005 ? 

Kesimpulan ini akan lebih membingungkan lagi,  bila dikaitkan dengan hasil penelitian Profesor Psikologi Industri dari Harvard University, apakah pada tahun 2005, volume otak bangsa Indonesia lebih kecil dibandingkan pada tahun 2006 ? Atau apakah volume otak bangsa Indonesia bertambah pada tahun 2006 bila dibandingkan dengan tahun 2005 ?

Banyak akademisi menyarankan Profesor J. Graff Lambsdorff untuk melengkapi survey dan assessment-nya dengan alat Digital Brain Volumetric (DBV) dalam melakukan penilaian CPI  sehingga hasilnya bisa lebih akurat dan lebih konsisten.

*****

Seorang Profesor dari Fakultas Peternakan Queensland University di Australia  berhasil menemukan formula ajaib berupa concentrate untuk pakan ternak. Uji coba di laboratorium yang canggih menunjukkan peningkatan berat hampir 5 kg per hari pada sapi-sapi yang diberi pakan yang telah dicampur dengan concentrate hasil penelitian Profesor tersebut.

Formula yang dibuat oleh Profesor sangat unik dan masih sangat dirahasiakan, hal ini disebabkan karena formula ini diduga akan memberikan hasil yang berbeda bila tercampur dengan senyawa garam.

Yang jadi masalah adalah efek tercampurnya formula dengan senyawa garam belum pernah diteliti. Tetapi menurut  sang Profesor setelah mempelajari reaksi kimianya, efeknya cenderung  bersifat buruk.

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia pernah melakukan import sapi dari Australia.  Pada waktu itu diinformasikan ada  pejabat dari Indonesia yang melakukan lobby ke Profesor ahli pakan ternak dari Universitas Quensland tersebut, untuk melakukan percobaan terhadap sapi-sapi yang akan dikirim ke Indonesia. Informasi ini kemudian tidak pernah terdengar lagi.

Pengiriman sapi dilakukan melalui laut dengan menggunakan kapal khusus pengangkut ternak.  Tidak ada laporan yang jelas mengenai detail perjalanan kapal pengangkut sapi dan informasi lain yang menyangkut proses bongkar-muat dan proses dokumentasi lainnya.

Yang kita dengar justru adalah adanya berita menghebohkan tentang kasus impor sapi fiktif. Kasus ini kemudian menyeret seorang mantan pejabat penting  pemerintah Indonesia ke sidang kasus korupsi, dengan tuduhan melakukan impor sapi fiktif.

Semestinya, di dalam persidangan mantan pejabat penting tersebut bisa menghadirkan Profesor ahli pakan ternak dari Quensland University sebagai saksi ahli.  Mungkin si Profesor lupa bahwa formula pakan sapi yang diberikan telah terkontaminasi air laut selama perjalanan dari Australia ke Indonesia (bukankah air laut itu merupakan senyawa garam ?) .  Sehingga, efek dari reaksi kimia ini menyebabkan efek negatif berupa penyusutan berat sapi secara signifikan bahkan akibat reaksi kimia yang demikian dahsyat menyebabkan sapi-sapi terus mengalami proses penyusutan hingga secara visual menjadi tidak terlihat.

*****

Robert Klitgaard adalah seorang profesor International Development and Security di RANDGraduateSchool, Santa Monica di  California.  Profesor Klitgaard pernah memberikan ”kuliah” anti korupsi dihadapan para pejabat negara  di Istana Negara Republik Indonesia pada 2 Agustus 2006. Tema yang diusung saat itu adalah Presidential Lecture in Developing A Strong Anti-Corruption System and Good Govarnance.  

Profesor Klitgaard pernah mengajukan pemikiran kritis dan ”unik”  tentang korupsi, seperti yang direlease oleh The Carter Center pada 4 Mei 1999. 

Korupsi seperti AIDS, katanya.  Korupsi menjadi masalah di setiap negara, bahkan telah menyebabkan kerusakan dan kerugian, terutama kerugian dalam perekonomian. Penyakit korupsi sulit untuk dibasmi dan yang paling menakutkan penyakit ini bisa beradaptasi terhadap segala bentuk usaha untuk mengalahkannya.

Profesor Klitgaard menawarkan solusi secara praktis bagi negara yang telah mengalami endemi korupsi yang masif, yaitu :  mendorong gerakan internasional untuk melakukan analisa sistem korupsi. Hasil pengkajian kemudian di diskusikan dengan pemerintahan dari  negara penderita penyakit korupsi, selanjutnya dipresentasikan dengan pers dan terakhir dibahas dalam suatu konferensi internasional. 

Dari hasil analisa sistem korupsi akan diketahui kelemahan dari sistem. Selanjutnya adalah menghancurkan sisi lemah dari sistem. This is difficult but not imposible..

Satu-satunya alternatif untuk menghancurkan penyakit korupsi ini adalah dengan memperbesar ”upaya” transparansi. Menurut Profesor Klitgaard, transparansi bukan saja dapat mencegah penyebaran penyakit korupsi pada tahap pertama, tapi juga dapat menghambat perkembangannya.

*****

27 Juli 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: