PENERAPAN UNDANG-UNDANG ANTI DUMPING AMERIKA SERIKAT PADA PRODUK NENAS KALENG THAILAND


Penerapan undang-undang anti dumping sangat kental dengan nuansa proteksi industri dalam negeri. Tujuan utama penerapan hukum ini adalah untuk mencegah praktek-praktek perdagangan yang tidak adil, sehingga produk industri dalam negeri tidak terpukul oleh produk industri luar negeri yang masuk ke suatu negara dengan harga yang sangat murah.

Kelihatannya menjadi tidak fair. Tidak jadi masalah apakah produk industri dalam negeri menjadi mahal akibat proses produksi yang tidak efisien, adanya biaya siluman atau alasan lain. Tetapi dilain pihak, murahnya harga yang ditawarkan oleh produk industri luar negeri “harus selalu” dilihat pada pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan industri dalam negeri.

Kontradiktif dengan hukum anti dumping, penerapan hukum ini secara nyata telah meniadakan hak konsumen untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Bicara tentang anti dumping, berarti secara absolut meniadakan tempat bagi proteksi konsumen untuk mendapatkan hak-haknya, diantaranya hak untuk mendapatkan barang dengan harga murah, qualitas terbaik, dan lain sebagainya.

Di Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai negara maju dan demokratis, justru menjadi pionir dalam menerapkan hukum anti dumping. Di AS, undang-undang anti dumping yang diatur dalam Chapter 19 U.S.C 1673, memberikan wewenang penuh kepada Departemen Perdagangan untuk menjatuhkan sanksi “anti dumping duties” hanya dengan mengacu pada 2 syarat :

Pertama : Departemen Perdagangan mempunyai wewenang untuk mengkaji semua produk impor, apakah produk impor tersebut telah dijual di dalam negeri AS dengan harga dibawah harga fair  (Chapter 19 U.S.C 1673 (1)).

Kedua : Badan International Trade Commision (ITC) kemudian harus mengkaji apakah penjual produk import tersebut secara material telah menghambat dan menurunkan industri lokal untuk produk sejenis dengan produk import tersebut.

Bila kedua persyaratan diatas telah dipenuhi, maka selanjutnya tindakan selanjutnya adalah menentukan nilai anti dumping duties yang akan dijatuhkan. Besarnya denda yang dijatuhkan dikenal sebagai : anti dumping margin.

Jatuhnya Share Nenas Kaleng Thailand

Pada tahun 1994 ekspor kaleng Thailand mencapai 46.16 % dari total world share. Tetapi mulai tahun 1995 hingga 1998, ekspor nenas kaleng Thailand mengalami penurunan mencapai 30.15 % dari total world share. Penurunan ini diduga akibat dari rendahnya panen dan penerapan anti dumping oleh Amerika Serikat. Besarnya anti dumping margin yang diterapkan oleh pemerintah AS mencapai 51.6 % dari total nilai shipment.  Duties ini kemudian dikoreksi oleh Departemen Perdagangan AS menjadi 3.26 hingga 24.64 % dari nilai CIF.

Pada tahun 1994, ketika serbuan export nenas kaleng Thailand ke daratan AS mencapai puncaknya, industri nenas kaleng AS  Maui Pineapple Co mengajukan petisi ke Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce).  Maui Pineapple Co melihat produk nenas kaleng Thailand telah dijual dengan harga murah di daratan AS.

Pada kurun waktu yang sama Maui Pineapple Co pada tahun 1993 mengalami kerugian mencapai  US $ 11 juta dan US $ 3.9 juta pada tahun 1994. Salah satu penyebab kerugiannya antara lain, tingginya biaya produksi di AS dan rendahnya harga nenas kaleng dunia.  Maui Pineapple Co melihat bahwa penyebab rendahnya harga nenas kaleng dunia saat itu disebabkan oleh membanjirnya produk nenas kaleng dari Thailand.

Metodologi Perhitungan yang Berbeda

Pada awal investigasi ternyata ditemukan ada perbedaan prinsipil dalam penentuan Cost of Production (COP) dan Cost of Value (CV). Umumnya industri nenas kaleng di Thailand menerapkan dua set laporan keuangan. Satu set laporan keuangan mencerminkan kondisi sebenarnya yang merupakan true cost of production. Laporan ini dikenal di Thailand dengan istilah Actual Raw Material Cost Allocation atau Non-Output Price-base Weighted Cost Allocation. Metode yang kedua ini biasanya menghasilkan harga produk yang tinggi. Metode inipun biasanya ditujukan untuk tujuan khusus manajerial dan untuk mendapatkan tax benefit (tax and managerial goals).

Metode perhitungan yang diterapkan oleh Departemen Perdagangan AS berdasarkan Weight – Based Allocation, metode ini akan menghasilkan harga produk yang cenderung rendah.

Pada sisi lain, diperoleh informasi adanya perbedaan besar antara industri nenas kaleng di Thailand dan di Maui Pineapple Co.  Thailand memproduksi nenas kaleng, juice nenas dan juice concentrate, sedangkan Maui Pineapple Co  hanya memproduksi nenas kaleng dan menganggap bahwa juice adalah produk ikutan dari sisa produk nenas kaleng. Tentu saja perbedaan ini menyebabkan terjadinya perbedaan harga raw material yang berbeda yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan harga jual. Industri nenas kaleng Thailand bahkan menghitung sisa nenas yang berasal dari kulit dan dari material nenas yang tidak bisa masuk kaleng dianggap mempunyai nilai sehingga dimasukkan dalam komponen raw material cost.

*****

28 Juli 2007

1 Komentar

  1. mariana said,

    Februari 16, 2009 pada 4:12 pm

    mengapa kurang lengkap tentang undang undang tentang amerika serikat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: