REPUBLIK MIMPI, DARI KENYATAAN MENJADI MIMPI


Ada pertanyaan yang menggelitik, seandainya Presiden Republik Indonesia (sering disebutkan sebagai negara tetangga dari Republik Mimpi) dijabat oleh seorang wanita, apakah Butet Kertaraharja akan mampu memparodikan dirinya sebagai Ibu Presiden ?

Pertanyaan ini dianggap penting, mengingat kekuatan Butet Kertaraharja “memainkan peran” seorang presiden menjadikannya titik central dalam “panggung teater” yang dikemas sebagai acara reality show disebuah stasiun TV swasta.

Butet bukan orang “baru” di dalam dunia teater, tetapi mungkin “baru” bisa bebas memparodikan seorang presiden yang masih berkuasa (istilahnya “baru bisa mimpi” jadi presiden), pada saat-saat sekarang ini. Sungguh tidak terbayangkan bila Butet berani “ber-ulah” pada masa orde baru.

Bila kita mendengar tentang teori dunia paralel, maka Republik Mimpi adalah dunia paralel dari Republik Indonesia. Sebuah negara yang selalu mempunyai bahan-bahan cerita menarik untuk ditampilkan di atas panggung sandiwara. Seandainya, Nikolai Vasilievich Gogol (1809 – 1852) masih hidup dan berkesempatan bermukim di Republik Indonesia, mungkin akan banyak menulis naskah drama fenomenal, sekali lagi – mungkin akan mengalahkan satu naskah drama komedi terbaiknya : Revizor atau yang diterjemahkan sebagai : Inspektur Jenderal.

Inspektur Jenderal adalah sebuah naskah komedi satire yang mentertawakan birokrasi, tetapi anehnya Tsar Nikolas I (1825 – 1855) justru menganjurkan komedi ini agar dipentaskan ditengah-tengah kegamangan para birokratnya. Tsar Nikolai I malah menghadiri produksi perdana drama ini pada April 1836. Saat itu Tsar tertawa senang dan memberikan applaus pada saat menonton drama tersebut.

Mari Mentertawai Birokrasi

Nikolai Gogol dengan gagah berani mentertawakan birokrasi di Rusia saat itu melalui naskah drama komedi satire Inspektur Jenderal. Rusia saat itu, digambarkan penuh dengan tragedi kehidupan, diantaranya ruwetnya birokrasi yang berkarib dengan korupsi yang bersimaharajalela.

Dalam melakukan kritik terhadap pemerintah Rusia, Gogol secara cerdas menempatkan dirinya sebagai artis, bukan sebagai tokoh oposisi yang  radikal atau liberal. Gogol membalut kritik dengan cara penuh humor. Sehingga penonton seolah-olah dibawa untuk mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan birokrasi saat itu.

Nampaknya, Republik Mimpi harus bisa “bermain” supaya bisa tetap melanjutkan tidurnya dan terus bermimpi. Republik Mimpi harus bermain dalam wilayah aman (dari tuntutan hukum dan ancaman penghentian siaran), yaitu bermain dalam wilayah seni dan menghiasi kritikan-kritikan dengan humor.

Dilain pihak bagi personal yang diparodikan, akan mendapat plus point, karena menunjukkan bahwa di Republik Indonesia saat ini – dengan adanya acara Republik Mimpi, menunjukkan bahwa demokrasi sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Dengan kata lain, Pemerintah sangat menghormati hak-hak demokrasi setiap warga negara-nya. Bahkan lebih jauh lagi, personal yang diparodikan dipandang sebagai tokoh yang berjiwa besar karena menerima kritikan dengan lapang dada.

Republik Mimpi sebenarnya tidak akan kehabisan materi cerita dan tidak akan membosankan, mengingat materi yang digali sangat subur di alam realita. Kasus yang mencuat dan up to date, seperti : gonjang-ganjing Resufle Kabinet, kasus penganiayaan praja IPDN, lumpur Lapindo,  rakyat yang harus  mengantri untuk mendapatkan satu atau dua liter  minyak tanah, hilangnya minyak goreng dari peredaran karena pengusaha cenderung meng-ekspor kebutuhan vital  rumah tangga keluar negeri daripada menjualnya ke warung-warung, mahalnya susu bayi sehingga timbul wacana untuk menggantikannya dengan susu kedelai atau air tajin, hingga  wacana lain yang lebih bermakna  “internasional” seperti larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa ?

Republik Mimpi nampaknya harus cerdas seperti Nikolai Gogol, yaitu mengolah wacana-wacana yang terjadi di alam nyata menjadi kritikan yang penuh dengan sensasi humor.  Penonton dibuat tersenyum bahkan tanpa sadar  mentertawakan dirinya sendiri, bukan mentertawakan permasalahan yang diangkat.  Bukankah Republik Mimpi punya modal yang “kuat” diantaranya ada Jaro Kuwat dan rekan-rekan lain yang perannya lebih komikal dan menghibur ?

Mudah-mudahan, Butet dan rekan-rekan lainnya  tidak segera bangun dari tidurnya, sehingga pemirsa setia masih dapat menikmati setiap episode  komedi satire “Inspektur Jenderal” ala Republik Mimpi..

—Juli 2007

1 Komentar

  1. iyos said,

    Juli 13, 2007 pada 9:04 am

    nulis kok nggak ngejek
    nulis harus ngecjek dong
    jangan cuma nulis
    mbok sekali-kali ngejekin orang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: