LEAN-SIGMA, TEROBOSAN BARU DALAM BERKOMPETISI DI PASAR GLOBAL


Sejarah industri nenas kaleng dunia mencatat, bahwa perusahaan nenas kaleng yang tidak mampu menekan operating cost, berarti tidak mampu berkompetisi di pasar global. Industri nenas kaleng di Taiwan dan Maui, contohnya, secara perlahan dan pasti menghentikan operasinya, karena tingginya biaya produksi.

Ciri khas dari pasar nenas kaleng dunia adalah : harga per standar case relative tetap dari tahun ke tahun, tetapi biaya produksi terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan margin profit yang dijanjikan semakin kecil dan pada suatu saat menjadi tidak menarik bagi pemilik modal.

Di Indonesia, komponen biaya produksi yang cenderung terus meningkat adalah komponen biaya langsung. Baik dari biaya bahan bakar, raw material dan upah langsung. Banyak teori yang menyatakan bahwa kenaikan raw material dan upah langsung merupakan efek domino dari kenaikan harga bahan bakar.

Pada pos biaya tidak langsung, komponen gaji karyawan tetap setiap tahun naik mengikuti persentase inflasi. Sedangkan biaya lainnya, secara pasti mengikuti kenaikan biaya bahan bakar dan upah yang setiap tahun naik sesuai dengan ketentuan UMR dari pemerintah.

Dari sisi pemilik modal, terobosan-terobosan terus dilakukan dengan tujuan menurunkan biaya produksi. Investasi pembangkit listrik tenaga batu bara yang sekarang sudah banyak dilakukan merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang dinilai strategis.  Tapi perlu diperhitungkan pula, sesuai dengan konsep suplay dan demand, harga per metric ton batu bara cenderung akan meningkat sesuai dengan naiknya permintaan. Diperkirakan kecenderungan ini akan menjadi kendala dikemudian hari. Masalah  lain yang mungkin timbul dikemudian hari akibat penggunaan energi batu bara adalah  adanya isu pemanasan global akibat penggunaan energi ini.

Bagi industri nenas kaleng, konsep menaikkan panen ton/ha (dengan jumlah populasi tanaman yang optimal) adalah kunci dari seluruh kesuksesan dalam menekan biaya rupiah/ton buah segar, bahkan diprediksikan dapat menekan rupiah/ standar case. Menaikkan  panen buah ton/ha, selain bersifat operating leverage (satu ungkitan menyebabkan lompatan besar) juga berdampak pada efiensi di pabrik pengalengan nenas.

Konsepnya adalah : menaikkan panen buah ton/ha (dengan terjadi pergeseran distribusi buah ke distribusi buah ukuran besar), akan menyebabkan area tanam akan semakin kecil.  Ini berarti biaya operasi di plantation, baik akibat dari jumlah unit alat berat dan truck pengangkut, biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, dll akan semakin berkurang secara signifikan. Distribusi buah yang semakin baik (kearah buah besar), secara teoritis akan menaikkan recovery dan diantaranya dapat mengurangi aktivitas kerja manual seperti aktivitas  pinset di line (ini berarti saving pada labour cost). Tujuan akhir dari improvement di dalam  manajemen teknis agriculture seperti diatas  adalah menekan production cost.

Lean-Sigma

Konsep dasar dari Lean-Sigma juga bermuara pada menekan operating cost. Konsep ini kelihatannya sejalan bila investor ingin mereduksi biaya produksi.

Implementasi Lean Manufacturing pertama kali diperkenalkan oleh Taiichi Ohno dari Toyota Motor Company, sebuah perusahaan raksasa dunia yang sangat agresif dalam improvement. Ada tiga ciri utama perusahaan yang menerapkan Lean Manufacturing :

1. Kecepatan produksi diatur sedemikian rupa sesuai dengan permintaan customer (tidak lagi berdasarkan cycle time, tetapi berdasarkan  waktu yang diminta untuk menyelesaikan quantity yang diminta customer. Ini berarti produksi dijalankan dengan efisiensi yang tinggi).

2. Melakukan produksi jika diminta oleh customer/next customer (dikenal dengan istilah : pull system : berproduksi sebanyak unit yang diminta customer).

3. Melakukan produksi unit per unit mulai dari awal hingga akhir. Tujuannya adalah untuk menghindari bertumpuknya barang setengah jadi (WIP) diantara proses yang ada.

Ciri utama dari perusahaan yang menerapkan Lean Manufacturing  adalah : naiknya kecepatan produksi dan hilangnya tujuh sampah (seven waste), diantaranya : inventory, over produksi, waktu tunggu transportasi, over proses, defect & rework dan gerakan yang tidak perlu.

Six Sigma telah memberikan bukti nyata keuntungan secara finansial bagi perusahaan-perusahaan kelas dunia, seperti : Motorola, General Electric, Sony, Samsung, LG Electronic, Seagate, 3M, Dupont, Citibank, Toshiba dan perusahaan multinasional lainnya.  Prinsip dasar dari Six Sigma adalah : memperkecil penyimpangan yang ada, sehingga proses produksi akan konsisten pada target kualitas yang telah ditetapkan.

Metodologi yang diterapkan pada Six Sigma adalah berdasarkan DMAIC (Define-Measure-Analyse-Improve-Control). Setiap pemecahan masalah harus mengacu secara sistematis dan logis. Semua masalah harus berdasarkan pada data yang telah dianalisa secara statistik.

Lean-Sigma adalah paduan dua konsep unggulan yang diharapkan menjadi metoda yang dapat membantu perusahaan agar lebih berkompetisi di pasar global. Mampu berkompetisi berarti harus mampu : menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dari kompetitor, merespon permintaan dengan lebih cepat dari permintaan kompetitor (better, cheaper product, faster respon).

 12 Desember 2006

Penulis adalah seorang Green Belt dan terlibat dalam project implementasi Lean Manufacturing di tempat kerja.

8 Komentar

  1. Ir.Iksan said,

    Juli 29, 2007 pada 5:44 am

    Mohon dapatnya dikirimi, Makalah, publikasi atau artikel serta refrensi ttg Lean Sigma dan Lean Supplay chain

  2. sulistyono said,

    November 12, 2007 pada 3:27 am

    mohon dapatnya dikirim.artikel mengontrol proces kerja di produksi

  3. Chaznin R. Muhammad, Ir.,MT. said,

    November 16, 2007 pada 1:28 am

    Bagaimana menerapkan lean sigma di sebuah perguruan tinggi, mohon penjelasan. Terima kasih.

  4. Pheny said,

    Februari 21, 2008 pada 4:16 am

    Sekarang sedang heboh tentang konsep Lean Green Manufacturing, tolong minta artikel tentang Lean Green Manufacturing dan Lean Sixma

  5. chandra said,

    April 14, 2008 pada 6:38 am

    mohon saya dikirimkan artikel tentang lean sigma green company,lean suppy chain,dan supply chain operation reference
    terima kasih

  6. anita said,

    Mei 16, 2008 pada 4:10 am

    bagaimana implementasi lean manufacturing di industri farmasi? tolong dikirimkan artikel atau jurnal yang terkait. terimakasih

  7. Jupriyanto,ST said,

    Juli 26, 2008 pada 7:23 am

    Sekedar sharing… mengenai lean sigma, konsep lean sigma merupakan gabungan dari 2 konsep yaitu lean manufacturing dan sig sigma . Lean manufacturing sendiri asalnya dari konsep Toyota Production System (TPS) yang sudah diaplikasikan oleh Toyota Motor Cooperation sejak tahun 1935, yang fokus pada implementasi konsep QCD (Quality,Cost,Delivery) sedangkan konsep 6 sigma berasal dari Motorola, dengan pencapaian target 3.4 PPM …penggabungan konsep ini menjadi lean sigma yang akan memperkuat konsep lean dan 6 sigma sendiri. Implementasinya perlu mind yang bagus akan perlunya suatu perubahan dan support top management di perusahaan atau instansi itu. (Komentator : BB Holder)

  8. bzon said,

    April 2, 2009 pada 3:16 pm

    trimakasih materinya.. membantu dalam tugas nih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: