INU KENCANA – SHERRON WATKINS, THE WHISTLEBLOWER ?


Siapa yang tidak kenal Inu Kencana ? Mungkin sekarang telah menjadi The Man of The Year.  Hampir semua media masa mencatatkan namanya didalam setiap head line berita nasional maupun daerah.

Inu Kencana adalah seorang dosen IPDN yang justru meniup peluit masalah di dalam lingkungan IPDN  keluar dari lembaga tersebut, sehingga permasalahannya terdengar nyaring membahana keseluruh penjuru Indonesia. Inu Kencana seorang whistleblower, yang nyata-nyata membutuhkan keberanian dan sedikit nekat untuk bisa melakukan hal tersebut.

Hasilnya, masalah penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya seorang praja/mahasiswa IPDN Cliff Muntu, terbongkar hingga keakarnya. Tak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhonono, turun tangan dengan membentuk dewan yang mangkaji sistem pendidikan di IPDN. Tidak berhenti sampai disana, yang awalnya hanya kasus penganiayaan mahasiswa senior terhadap junior-nya berkembang menjadi kasus lain yang saling berkaitan. Rektor IPDN dicopot dari jabatannya, bahkan seorang Dekan di lembaga pendidikan yang notabene dibiayai oleh uang rakyat, terseret dan terhempas menjadi tersangka pada kasus yang masih berhubungan erat dengan kasus terbunuhnya mahasiswanya sendiri.

Bukankah demikian dahsyat akibat dari peluit yang ditiup oleh Inu Kencana ?

Skandal Enron yang Fenomenal

Tidak hanya di Indonesia, seorang presiden harus turun tangan menyelesaikan skandal seperti dalam kasus IPDN. Di AS, Presiden Bush, terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan kasus Enron yang mengguncang kepercayaan dunia terhadap pasar saham di AS.  Enron adalah perusahaan terbesar ketujuh di AS, yang bergerak dibidang gas, listrik, batubara, pulp, alumunium, baja, bahan kimia, perkayuan, plastik, dll. Bahkan majalah Fortune, pada bulan April 2001, membuat laporan khusus tentang Enron sebagai perusahaan “most inovative”di seluruh daratan AS.

Adalah Sherron Watkins (42 tahun), seorang wanita karir yang teguh memegang prinsip adalah seorang akuntan profesional yang bekerja di Enron yang kemudian menemukan dan melaporkan adanya penyimpangan pada laporan-laporan keuangan di perusahaannya. Sebelumnya, Sherron sudah berusaha mengingatkan jajaran top manajemen di Enron tentang adanya praktek-praktek akuntasi yang agresif dan kotor yang sangat merugikan. Praktek-praktek tersebut meliputi memperkaya diri sendiri, bekerja sama dengan perusahaan audit dan konsultan keuangan terbesar di dunia Arthur Andersen melakukan manipulasi laporan keuangan, dll.

Pada saat itu (tahun 2000), ketika praktek-praktek kotor masih tersimpan erat, harga saham Enron meningkat pesat pada kisaran US $ 60 hingga US $ 90. Puncaknya pernah mencapai US $ 90.56 pada bulan Agustus. Jauh bila dibandingkan pada periode akhir tahun 90-an yang hanya mencapai US $ 20 – US $ 40. Tetapi ketika rumor kebobrokan keuangan di perusahaan Enron mulai terkuak, harga saham menukik tajam hingga US $ 1 pada bulan November 2001. Selanjutnya Enron benar-benar mengalami kehancuran dan dinyatakan bangkrut pada 2 Desember 2001 dengan meninggalkan kerugian bagi para pemegang saham sebesar US $ 66,4 milyar dan 6.100 orang karyawannya kehilangan pekerjaan.

Pada tanggal 7 Maret 2002, Presiden Bush terpaksa turun tangan untuk mengantisipasi pudarnya kepercayaan dunia terhadap pasar saham di AS, dalam pidatonya Bush meminta dilakukan reformasi dan mendeklarasikan 10 rencana langkah kerja bagi pihak legislative.

Dari kalangan senat, Paul Sarbanes seorang Senator dari Partai Demokrat dan Michael Oaxley seorang anggota US House Representatif dari Partai Republik bekerjasama bahu membahu untuk menggolkan undang-undang yang lebih ketat dan lebih akuntability bagi shareholder,  serta pengaturan tentang independensi bagi auditor keuangan, yang dikenal sebagi Sarbanes – Oaxley Act (SOX). Pada 30 Juli 2002, baik Kongres maupun Senat mensyahkan Sarbanes – Oxley Act (SOX) sebagai undang-undang.

Lembaga Ombudsman

Apa yang salah dari seorang Inu Kencana atau Sherron Watkins ? Mengapa mereka melaporkan kebobrokan di lembaga atau perusahaannya ke pihak luar ? Apakah mereka trouble maker atau apakah mereka hanya ingin lembaga atau perusahaan tempat mereka bekerja dapat berjalan dengan benar sesuai dengan aturan dan norma-norma yang ada ?

Menjadi Whistleblower seperti yang dilakukan oleh Inu Kencana atau Sherron Watkins, bukan tanpa resiko. Hasil penelitian oleh Association of Mental Health Specialties di AS melaporkan bahwa 82 persen pelaku whistleblower mengalami pelecehan akibat tindakannya, 60 persen dipecat dari tempat kerja, 17 persen kehilangan tempat tinggal, bahkan 10 persen dilaporkan mencoba melakukan upaya bunuh diri.

Lalu bagaimana jalan keluarnya ? Di AS, perusahaan-perusahaan sudah mulai mengembangkan sebuah lembaga semacam lembaga ombudsman. Tugasnya adalah menjembatani informasi penyimpangan yang terjadi dari para pekerjanya dengan pihak top manajemen. Tugas officer ombudsman adalah mengumpulkan informasi, biasanya berupa surat kaleng atau informasi tanpa nama pengirim baik melalui telepon hotline atau informasi tertulis lainnya, kemudian secara periodik membahasnya dengan top manajemen.

Dari pengalaman menunjukkan, bahwa tidak mungkin perusahaan mengawasi perilaku karyawannya satu persatu dengan ketat untuk menghindari adanya whistleblower. Cara yang paling tepat adalah membangun sikap saling percaya. Karyawan percaya bahwa hak-haknya dilindungi, sedangkan pihak top manajemen memberi kepercayaan kepada karyawannya, bahwa manajemen perusahaan akan bertindak sesuai dengan norma atau aturan yang telah disepakati.

—-

April 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: