Provokasi kapal patroli Malaysia di perairan Ambalat yang kaya akan minyak dan gas bumi telah memicu ketegangan politik kedua negara. Kapal-kapal perang TNI AL didukung oleh pesawat-pesawat pengintai meng-counter dengan melakukan patroli laut yang lebih ketat.
Mengapa Tentara Diraja Malaysia berani melakukan tindakan tersebut ?
ALUTSISTA TUDM
Dibandingkan dengan TNI AU, Royal Malaysia Air Force atau TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) memang memiliki alutsista yang lebih baik. Ujung tombak TUDM didukung oleh skadron F/A-18 D Hornet yang dimodernisasi menjadi F/A-18 F Super Hornet dengan basis di Kuantan AB dan 18 unit SU-30MkM Sukhoi yang dibagi menjadi 2 skadron (home base di Kuantan AB). Selain itu TDUM masih memiliki skadron Mig -29 (home base di Kuantan AB), Hawk 208 (home base di Kuantan AB dan Butterwoth AB), Hawk 209 (home base di Labuan AB) , F-5E, F-5F dan F5E Tiger II (home base di Butterworth AB) dan Beech 200T di Subang AB.
Pesawat transport meliputi pesawat angkut berat C-130 Herkules dan dilengkapi dengan KC-130 H untuk pesawat tanker (home base di Subang dan Labuan AB). Pesawat angkut ringan dan VIP antara lain adalah DHC 4 Caribou, Fokker F-28 Fellowship, Dassault Falcon 90, CN 235 yang tersebar di Kuching AB dan Subang AB.
Skadron helikopter terdiri dari Sikorsky S61A-4 (multi purpose), Mi-171Sh, Agusta Sikorsky A56-N1, Agusta Sikorsky A-109C, Sikorsky S-70 Black Hawk. TUDM bahkan didukung oleh pesawat UAV dari tipe CTRM Eagle ARV.
Kekuatan udara Malaysia kemungkinan menjadi kunci kekuatan Malaysia untuk berperang dengan Indonesia. Skenario yang mungkin dilakukan adalah : pesawat jet tempur melakukan serangan secara serentak terhadap satuaan radar TNI AU, pangkalan pesawat tempur TNI AU, pangkalan TNI AL, dan pusat-pusat logistik lainnya disekitar Ambalat. Sementara kapal cepat dan kapal selam melakukan operasi penghancuran kapal-kapal perang TNI AL di perairan yang tersebut.
Untuk meng-conter serangan Malaysia, batalyon-batalyon infantri TNI AD kemungkinan akan digerakan ke perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Utara, baik melalui penyusupan, duel arteleri dan serbuan langsung. Pasukan TNI AD kemungkinan akan berhadapan langsung dengan pasukan darat dari Divisi 3 dan 4 serta resimen-resimen Askhar Wathaniah. Marinir TNI AL akan bertempur di pulau Sebatik dan perairan di Kalimantan Timur.
Perang Terbatas
Malaysia tidak akan berperang difront pertempuran yang luas. Target yang masuk akal adalah menguasai perairan Ambalat, dan menguasai beberapa daerah atau pulau seperti pulau Sebatik dan beberapa kilometer masuk ke wilayah Indonesia di pulau Kalimantan Utara.
Setelah tujuan tercapai, Malaysia akan segera menarik Indonesia ke meja perundingan. Targetnya jelas, di meja perundingan Malaysia akan menawarkan untuk melepaskan daerah-daerah yang diduduki, tetapi dengan konsesi : tidak akan mundur di Ambalat.
Perebutan wilayah yang telah diduduki oleh Malaysia mirip dengan skenario Latgab TNI beberapa waktu lalu. Tetapi kecepatan operasi tempur TNI harus lebih cepat daripada kesepakatan di meja perundingan. Kecepatan menjadi kata kunci dari keberhasilan operasi tempur TNI. Untuk mengirim pasukan secara cepat ke daerah konflik, maka operasi tempur TNI diperkirakan dilakukan melalui operasi penerjunan pasukan linud. Ini berarti TNI AU akan banyak melibatkan skadron pesawat angkut berat C-130 Hercules dengan dikawal oleh pesawat jet tempur. Sementara mobilitas pasukan didarat banyak ditentukan oleh kesiapan helikopter angkut dalam melakukan mobilisasi udara. Yang jadi pertanyaan apakah : pesawat Hercules, helikopter angkut dan jet-jet tempur sudah siap melayani operasi tempur seperti itu ?
Dalam skenario ini, bila TNI tidak segera merebut kembali daerah-daerah yang diduduki Malaysia, maka Malaysia akan memperoleh keuntungan diplomasi di meja perundingan.
Pada akhirnya, untuk disegani oleh pihak lain, TNI harus lebih kuat di lingkungan ASEAN. Selama kekuatan TNI lebih lemah dibandingkan dengan negara-negara lain, maka ancaman kedaulatan RI akan terbuka.
***
10 Juni 2009