DARI PAPUA MENEROPONG INDONESIA

Membaca buku ini seperti membaca isi hati orang Papua tentang permasalahan di pulau paling timur Indonesia. Ans Gregory da Iry, adalah seorang jurnalis berpengalaman  yang mungkin lebih berdarah Papua ketika menulis permasalahan di Papua.  Buku Dari Papua Meneropong Indonesia merupakan kumpulan artikel yang ditulis dengan bahasa yang lugas, sistematis dan santun -  yang diterbitkan di surat kabar Timika Pos dan Radar Timika, ketika penulis buku ini berkarya di PT Freeport Indonesia selama 11 tahun.

Buku ini dibuka dengan cerita tentang teror penembakan di mile 53 yang menewaskan Drew Nicholas Grant, seorang karyawan Freeport berkebangsaan Australia, tanggal 11 Juli 2009. Teror ini ternyata merupakan rangkaian serangan bersenjata yang memanaskan situasi keamanan sejak awal 2009. Harian Kompas menggambarkan serangan bersenjata ini sebagai ‘pesan teror’ dari Papua untuk Jakarta agar memberikan perhatian kepada provinsi itu, karena Papua masih menyimpan banyak masalah yang belum diselesaikan.

Permasalahannya sangat jelas. Propinsi Papua masih tercatat sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Alamnya kaya raya tapi mayoritas penduduk aslinya miskin, bahkan sangat miskin.

Masalah Papua bukan sekedar masalah separatis, melainkan soal rakyat yang terpinggirkan, pertarungan pejabat dan elit suku, serta program otonomi khusus yang disahkan Presiden Megawati tahun 2001 lalu -  yang ternyata hanya  menguntungkan segelintir orang dan tidak memakmurkan rakyat banyak, khususnya masyarakat asli Papua.

Menyitir hasil penelitian LIPI, setidaknya ada empat akar permasalahan di provinsi itu. Pertama, adanya marginalisasi dan tindakan diskriminatif dalam pembangunan ekonomi terhadap orang asli Papua sejak 1970.  Pemerintah gagal melakukan pembangunan terutama dibidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Belum adanya kesamaan paradigma sejarah bergabungnya Papua ke Indonesia. Keempat, belum adanya rekonsiliasi serta pertanggungjawaban atas kekerasan terhadap masyarakat asli yang dilakukan negara pada masa lalu.

Dalam buku ini, terdapat artikel yang berjudul : Akankah ada Damai di Bumi Papua ? (bab 2, hal 11).  Ans Gregory Da Iry menangkap ketegangan-ketegangan yang dirasakan selama beberapa bulan ini di Papua  dan menulisnya sbb : Papua  berada dalam situasi dan  kondisi yang tidak kondusif, dan bahkan keadaan di Papua saat ini ibaratnya “Perang tidak Damaipun tiada”. 

Tidak ada perang karena memang tidak ada bentrokan senjata kecuali insiden Wamena dan Abepura. Tetapi juga tidak bisa dikatakan damai karena kita menyaksikan dan merasakan sendiri situasi yang tidak menentu, yang panas dan bahkan tegang dan menakutkan. Mungkin keadaan kita saat ini dapat dikatakan sebagai keadaan ” perang dingin atau perang urat syaraf” seperti yang terjadi beberapa dekade lalu antara Amerika dan Uni Sovyet.

****

Rakyat Papua melalui buku ini seakan menagih janji Presiden SBY untuk menyelesaikan  konflik Papua secara damai, adil, bermartabat dengan menekankan dialog yang persuasif.

Penulis buku ini percaya bahwa merdeka atau otonomi bagi Papua bukanlah hal yang terpenting dan bukan pula suatu harga mati sebagaimana sering dikatakan oleh mereka yang tidak setuju Otonomi Khusus Papua. Sebab yang terutama dan terpenting adalah bagaimana masyarakat Papua nantinya dapat mewujudkan cita-cita keinginan dan harapannya akan suatu masa depan yang lebih baik, yang sejahtera, tenang, aman dan damai.

Seperti yang dikatakan oleh Hobbes :” Damai bukan berarti tidak ada pertempuran atau perkelahian antara sesama manusia. Damai juga bukan berarti bahwa manusia harus berubah menjadi malakikat atau orang kudus yang hidup bersama dalam cinta kasih persaudaraan sejati. Sebab hal ini mustahil akan terjadi di bumi. Tetapi yang jelas adalah bahwa damai ada dimana orang dapa menyelesaikan perselisihan mereka dengan kata-kata dan bukan dengan senjata atau kekerasan.

Buku Dari Papua Meneropong Indonesia berisi 26 buah artikel yang dibagi kedalam empat bab.  Sebagian besar tulisannya sangat membumi ke tanah Papua, menyentuh kedalam ranah sosial, budaya dan politik  dalam  kehidupan sehari-hari  masyarakat Papua.

*****

15 Oktober 2009

NOTE : Pak Ans -demikian saya menyapanya, adalah teman dan senior yang bekerja di perusahan yang sama di tempat saya bekerja.  Saya mengenalnya bertahun-tahun yang lalu dan pada bulan-bulan terakhir komunikasi semakin instens sehubungan dengan implementasi program lean manufacturing yang diterapkan di grup perusahaan.

THE THINGS THEY CARRIED – KENANGAN SANG PRAJURIT, TIM O’BRIEN

Jujur saja, pertama kali saya mendapatkan buku ini karena terdapat tulisan kecil dikulit buku :  “Karya fiksi yang menggetarkan jiwa dan ditulis dengan indah” – THE ASSOCIATED PRESS.

Waktu itu saya berpikir, apakah mungkin cerita perang di Vietnam ditulis sebagai karya sastra ? Cerpen The Things They Carried ternyata mendapat penghargaan National Magazine Award, sedangkan novelnya sendiri yang diterbitkan pada tahun 1990 dipilih oleh para editor New York Time Book Review sebagai buku terbaik tahun itu.

Tim O’Brien, si penulis buku ini, menumpahkan pengalaman perangnya di Vietnam sebagai anggota dari prajurit infantri dari kesatuan Alpa Company bukan dalam bahasa teknis perang, tetapi dituturkan dalam bahasa yang indah dan kelihatannya ditulis dengan jiwa-nya.

Di dalam buku ini, tidak akan ditemui tentang taktik perang seperti strategi pertempuran anti gerilya yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan tentara VC (Vietcong – sebutan untuk pihak tentara komunis).

Tidak ada taktik regu atau peleton dalam melakukan penyergapan atau taktik pertempuran jarak pendek yang biasa dihadapi dalam perang di Vietnam.

***** 

Buku The Things They Carried -Kenangan Seorang Prajurit, yang diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, berisi 22 cerita pendek. Cerpen yang tampil dihalaman pertama tentu saja dengan judul : The Things They Carried, yang diterjemahkan menjadi : Barang Bawaan Mereka. 

Awal keterlibatan Timmy dalam perang yang kelam itu ditemui dalam cerpen yang berjudul : Di Sungai Rainy.

Pada cerpen ini, Timmy menceritakan tentang pergulatan hatinya ketika mendapatkan surat  panggilan wajib militer. 

“Perang bukan levelku. Dunia sudah ada dalam genggamanku – siswa terbaik di kelas, predikat summa cum laude, ketua organisasi kemahasiswaan, dan beasiswa penuh untuk pascasarjana di Harvard”.

“Aku ingat amarah yang berkecamuk dalam perutku, yang kemudian mereda menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan lalu mati rasa”.

Diceritakan, untuk menghindari wajib militer,  akhirnya Timmy kabur ke perbatasan Kanada. Selama enam hari, Timmy mengalami pergolakan batin hebat antara menyeberang ke Kanada atau kembali ke kota asal untuk mengikuti wajib militer.

Selama enam hari Timmy tinggal disebuah pondokan Tip Top Lodge, bertemu dengan pemilik pondokan Elroy Berdahl, orang tua yang arif.

Pada hari ke enam, Elroy mengajak Timmy berperahu untuk memancing di sungai Rainy yang berbatasan dengan Kanada. Timmy menulis dalam cerpennya :

“Aku ingat menatap Elroy, lalu menatap tanganku, lalu Kanada. Garis pantainya tampak penuh dengan semak dan pepohonan. Aku bisa melihat buah yang tumbuh di semak. Aku bisa melihat tupai di atas pohon birch dan burung gagak yang menatapku dari batu besar di tepi sungai. Begitu dekat – dua puluh meter – dan aku bisa melihat jalinan rumit dedaunan, tekstur tanahnya, buah pohon pinus yang cokelat. Dua puluh meter. Aku bisa saja melompat dan berenang demi mencari kehidupannya. Dalam tubuhku, dalam dadaku, aku merasakan tekanan yang amat kuat. Bahkan sekarang, saat menuliskan ini, aku masih bisa merasakan tekanan itu.

Apa yang akan kau lakukan ?

Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis perlahan, bukan tangisan keras, hanya menangis tersedu-sedu. Sepertinya dari semua tempat, dari pohon, air dan langit, kepiluan sebesar dunia sedang menekanku, kepiluan yang berat.

Aku mencoba membulatkan tekadku untuk meloncat keluar perahu.

Aku mencoba, tak bisa.

Itulah yang paling menyedihkan. Dan demikianlah aku duduk di haluan perahu sambil menangis.

Tangisanku sekarang menjadi tangis yang keras dan nyaring”.

*****

The Things They Carried, kisah master piece dalam buku itu bertutur tentang barang bawaan para prajurit ketika melakukan operasi tempur. Selain membawa perlengkapan militer, ternyata mereka membawa beban lainnya.

“Mereka membawa semua beban emosional sebagai orang yang mungkin akan mati. Kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan-semuanya tak bisa dilihat, tapi semua hal yang tidak nyata itu punya massa dan berat jenis sendiri, semuanya punya berat yang bisa dirasakan. Mereka membawa ingatan yang memalukan. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tidak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, atau sembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, karena beban ini tak pernah bisa diletakkan. Beban ini menuntut kesimbangan dan postur tubuh yang sempurna. Mereka membawa reputasi mereka. Mereka membawa ketakutan terbesar seorang tentara, yaitu ketakutan untuk terlihat memalukan. Orang membunuh, dan juga mati, karena mereka malu untuk tidak membunuh. Inilah yang sebenarnya membawa mereka dalam peperangan, tak ada hal yang positif, bukan impian kebanggaan atau kehormatan, hanya untuk menghindari malu karena kehilangan kehormatan”.

******

Perang tidaklah selalu tentang kengerian dan kekerasan. Terkadang beberapa hal boleh dikatakan tampak indah. Misalnya, aku masih ingat seorang bocah laki-laki berkaki plastik. Aku ingat bagaimana ia meloncat-loncat mendekati Azar, lalu minta sebatang cokelat – “GI nomor satu, ” kata si bocah – dan Azar tertawa sambil memberikan cokelatnya. Ketika bocah itu meloncat pergi, Azar berdecak dan berkata, ” Perang memang jahat.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Satu kaki, sunggu jahat. Orang yang menembaknya pasti kehabisan peluru”

Cerita ini akan ditemukan pada cerpen berjudul : Sisi Lain dari Perang.

***** 

Coba simak tulisan Timmy dalam cerpen yang lain : Bagaimana Cara Menceritakan Kisah Perang yang Sesungguhanya.

“Mungkin saja pada intinya, perang hanyalah nama lain untuk kematian. Namun, setiap tentara bisa bercerita – bila ia berkata jujur – bahwa kedekatan dengan kematian membawa pula kedekatan dengan kehidupan. Setelah tembak menembak sengit, selalu ada kepuasan luar biasa bahwa kita masih bisa merasakan hidup. Pohon yang hidup. Rumput, tanah- semuanya. Semua benda di sekeliling kita sungguh hidup, termasuk juga diri kita, dan perasaan hidup itu akan membuat kita gemetar. Kita merasakan keberadaan kuat jiwa raga kita-diri kita yang sejati, sosok manusia yang kita cita-citakan dan kemudian bisa kita wujudkan hanya dengan menginginkannya”.

*****

Tak berlebihan bila Peter S. Presscott dari Newsweek mengomentari buku ini  :

“…O’Brien telah menemukan gaya bercerita yang tepat untuk mengisahkan perang ini : gaya yang membeberkan begitu banyak perasaan, namun tidak cengeng dan tetap terjaga lewat tulisannya yang ringkas dan cukup banyak menampilkan penggalan kejadian yang jenaka ….”

***** 

30 April 2008