Serbuan teroris di Mumbai telah menunjukkan aktivitas teroris telah bermetomorfosis secara drastis. Teroris tidak lagi menggunakan metoda teror melalui bom yang diledakan dengan timer atau dengan alat kendali jarak jauh, kemudian teroris melenggang dengan aman setelah bom diledakan.
Di Mumbai, teroris membentuk tim-tim kecil terdiri dari 2 atau 3 orang yang menyerbu berbagai target penting bagai serbuan pasukan komando. Teroris menyamarkan aktivitasnya dengan memakai celana jeans, kaos t-shirt, membawa ransel dan berwajah kelimis. Setiap personal dilengkapi dengan senjata serbu AK 47, dengan amunisi yang cukup untuk serbuan jangka pendek, dilengkapi dengan senjata genggam, alat komunikasi, alat gps genggam, bahkan beberapa tim dilengkapi personal yang mampu merakit bom rdx. Kemampuan setiap personal adalah mampu melakukan pertempuran jarak pendek melawan pasukan komando India bahkan pasukan elit anti teror India.
Teror bom di hotel J.W. Marriott dan The Ritz-Carlton Jumat (17 Juli 2009) kemarin pagi, telah membuka mata Indonesia. Selama ini, sebagian orang mencap kaum teroris diidentifikasikan dengan Islam garis keras dengan berpenampilan yang khas. Berjenggot, memakai sorban, memakai baju koko dan bersarung, kurang lebih berpenampilan seperti kaum Mujahidin di Afganistan dalam film Sylvester Stalonne, First Blood.
Bila benar cuplikan film dari CCTV lobby hotel beberapa detik sebelum terjadi ledakan, penampilan pembom bunuh diri jauh dari gambaran diatas. Pembom bunuh diri justru berpenampilan perlente, memakai topi bisbol untuk menyamarkan wajah, membawa koper beroda dan menggendong ransel seperti halnya tamu-tamu hotel. Bahkan informasi dari berita tv, pembom tersebut telah menginap selama beberapa hari di hotel Marriott di kamar nomor 1808. Dapat diduga, koper dan ransel berisi bom yang akan diledakkan.
Seperti halnya serbuan teroris di Mumbai, serbuan bom bunuh diri di hotel Marriott telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi aparat keamanan di Indonesia. Perubahan drastis teknik penyamaran hingga bisa menembus jaring keamanan hotel menunjukkan bahwa para teroris telah belajar dan lebih fleksibel dalam menjalankan operasinya.
Mengapa Teroris Melakukan Lagi Pemboman Di Indonesia ?
Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan yang terlibat dalam kasus Bom Bali, ternyata tidak menyurutkan aktivitas kaum teroris. Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan tidak berarti episode teror di Indonesia tutup layar. Justru dengan gegap gempitanya pemberitaan hukuman mati yang disiarkan melalui tv dan surat kabar – oleh kelompok dan pendukungnya, Imam Samudra cs dianggap sebagai martir.
Kondisi ini, mungkin dinilai lebih menguntungkan bagi kelompok teroris tersebut karena akan lebih mudah dalam proses perekrutan dan pembinaan. Kemungkinan besar proses perekrutan teroris bunuh diri dan proses pencucian otak dilakukan oleh tim Noordin M.Top, warga negara Malaysia yang hingga sekarang tidak diketahui rimbanya.
Waktu yang cukup lama dari terbunuhnya Dr. Azhari si ahli perakit bom yang juga warga negara Malaysia, hingga pemboman terakhir Jumat kemarin kelihatannya memberikan tenggang waktu yang cukup lama bagi kelompok teroris untuk melakukan revitalisasi, diantaranya melalui penyusunan organisasi baru hingga pelatihan perakitan bom.
Bila memang benar dugaan serangan bom di hotel Marriott – Carlton adalah bom bunuh diri, maka yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia adalah : mengindentifikasi jenis bom dari sisa-sisa bom, mengindentifikasi tersangka dari sisa tubuh teroris (dari sidik jari, DNA atau penggalan kepala), kemudian lebih jauh mengindentifikasi tim pendukung yang mengantarkan teroris tersebut ke hotel Marriott-Carlton, yang menyiapkan perlengkapan dan peralatan seperti tas dan booking hotel. Mengindentifikasi teroris yang meracik bom, mengindentifikasi supplier material bom, mengindentifikasi teroris yang melakukan perekrutan hingga pencucian otak. Hingga mengindentifikasi sumber pembiayaan dan terakhir adalah identifikasi tokoh intelektual, baik itu bertugas sebagai penanggung jawab operasi bom bunuh diri maupun yang bertanggung jawab dalam operasi tindakan teror secara keseluruhan.
Setelah Jakarta Selanjutnya Kemana ?
Berdasarkan pengalaman, yang akan dilakukan oleh aparat keamanan dan intelejen Indonesia adalah melakukan operasi mempersempit gerak kaum teroris. Diantaranya operasi penyekatan baik berupa razia di pintu-pintu keluar seperti pelabuhan Merak, Surabaya, Banyuwangi, hingga pelabuhan udara seperti Soekarno Hatta, dll. Selain itu dilakukan operasi berupa razia-razia di jalur-jalur keluar Jakarta, hingga jalur-jalur keluar antar propinsi.
Sebenarnya aparat keamanan sudah mempunyai modal cukup dari penangkapan-penangkapan sebelumnya, yaitu teroris yang ditangkap di Cilacap dan Malang oleh Densus 88 Mabes Polri yang diduga merupakan jaringan terdekat dengan Nordin M. Top, kemudian warga Singapura yang diduga kaki tangan Kastari, buronan kepolisian Singapura. Tersangka teroris yang tertangkap di Bandarlampung, serta tersangka teroris jaringan Palembang dan Plumpang yang sebelumnya telah terungkap.
Biasanya, kaum teroris akan melakukan cooling down sambil berupaya menghindar dari sergapan aparat keamanan. Berdasarkan pengalaman selama ini, setelah keamanan Jakarta menjadi semakin ketat, kaum teroris mengalihkan aktivitas ke Bali, yang dianggap sebagai representasi kepentingan pihak barat. Setelah terjadi peledakan bom bunuh diri oleh kelompok Noordin M. Top di Hotel J.W Marriot pada 5 Agustus 2003 lalu, kemudian serangan bom bunuh diri beralih ke Bali tanggal 1 Oktober 2005 masih dilakukan oleh kelompok Dr. Azhahari dan Noordin M. Top, yaitu di Raja Bar dan Restoran Kuta Square serta Nyoman Café Jimbaran. Sudah saatnya aparat keamanan dan intelejen di Bali mulai meningkatkan kewaspadaannya, agar tidak terjadi lagi kasus bom di pulau Bali jilid III.
Besar harapan rakyat Indonesia, supaya SBY sebagai presiden terpilih bisa menuntaskan kasus serangan bom bunuh diri segera mungkin. Memberangus jaringan-jaringan teroris hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. Siapapun yang terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Marriott – Carlton dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Termasuk didalamnya menangkap Noordin M. Top, gembong teroris warga negara Malaysia yang telah mengaduk-aduk keamanan negara Indonesia.
Sudah saatnya, pemerintah Indonesia menempatkan Noordin M. Top sebagai musuh yang paling dicari di seluruh wilayah Indonesia dan sekaligus menjawab spekulasi bahwa Noordin M. Top seorang gembong teroris warga negara Malaysia sengaja ditanam, dilindungi dan diberi akses kemudahan oleh unsur-unsur intelejen pemerintahan negara asing untuk mengacaukan keamanan Indonesia.
********
18 Juli 2009