Perang di Afganistan sudah berubah, dari perang konvensional berupa penyerbuan dan pencegatan oleh Taliban terhadap tentara koalisi dibawah pimpinan AS berubah menjadi perang menggunakan IED (Improvised Explosive Devise).
Jaringan televisi CBS menyebutkan bahwa 130 tentara AS telah tewas di Afganistan hingga Mei 2010, sebagian besar tewas akibat IED -senjata yang paling mematikan di Afganistan. IED merupakan pembunuh no 1 bagi tentara AS di Afganistan, kata Jenderal James Matis dari marinir AS.
Perubahan taktik perang ini dilakukan oleh pihak Taliban mengingat pasukan koalisi lebih terlatih dan berpengalaman (diantaranya dalam perang Irak) serta didukung oleh persenjataan dan teknologi yang modern.
IED adalah bom rakitan yang digunakan seperti ranjau darat untuk meledakan kendaran militer, bom mobil, dan juga sebagai bom anti personal telah mencapai 50 % serangan terhadap pasukan koalisi yang menyebabkan luka-luka dan tewas. Tahun 2009, 322 tentara tewas dan 1800 lainnya terluka akibat serangan IED. Korban-korban ini disebabkan oleh meningkatnya serangan IED dari 1852 serangan pada tahun 2008 menjadi 3736 serangan pada tahun 2009.
Ditangan Taliban, teknologi IED terus berkembang dari bom rakitan konvensional hingga bom yang menggunakan sensor inframerah pasif, hingga bom yang lebih canggih terbuat dari plastik, ringan, kecil, mudah dibuat. Menurut pejabat AS, diakui bom yang dibuat Taliban semakin sophiscated dan semakin powerfull, seperti yang dikutip USA Today edisi 9 Maret 2009.
Perubahan material bom dari metal ke plastik menyebabkan bom rakitan ini menjadi semakin sulit dilacak dengan menggunakan alat pelacak metal konvensional (seperti yang dikeluhkan Pentagon terhadap pelacak metal tipe AN/PSS-12). IED jenis ini yang menyebabkan Propinsi Helmand di Afganistan selatan dan beberapa propinsi lainnya secara signifikan merupakan daerah paling berbahaya bagi tentara koalisi.
Pemerintah AS mengelontorkan jutaan dollar untuk meng-countermesure jenis serangan IED ini. Joint IED Defeat Organization, melibatkan banyak pihak diantaranya akademisi, laboratorium nasional AS, The Marine Counter IED Technology, Directorate and the Army Electronic Warfare Division. Berbagai peralatan canggih telah dibuat diantaranya : unit electronic jammer untuk men-jamming IED yang dikontrol dengan frekuensi radio seperti handphone satelit, robot yang digunakan tim EOD (Explosive Ordnance Disposal), Unit kendaraan Cougar yang bertugas membersihkan jalan dari IED yang ditanam dijalan, alat pelindung (body armour) baik untuk kendaraan militer dan personal. Bahkan sampai pada me-rebuild kendaraan militer Humvee dengan teknologi “Frag 5″ atau ” Frag 6″ yang lebih melindungi dari serangan EFP (Explosively Formed Projectile) suatu jenis IED dari bahan pipa yang bila meledak dapat menyebarkan metal yang dapat menembus lapisan baja pelindung kendaraan militer.
Namun demikian kendaraan Humvee secara bertahap diganti dengan unit truck yang dapat menahan ledakan dikenal sebagai MRAP (Mine Resistant Ambush Protection). Tetapi untuk tahun 2012, pihak angkatan darat dan marinir akan mengganti secara bertahap dengan kendaraan yang lebih canggih : Joint Light Tactical Vehicle (JLTV). Pihak pemerintah AS telah menyediakan dana 163,5 juta dollar AS untuk mendukung program ini, meliputi biaya riset dan pengembangan, manajemen, desain prototip dan pengembangan lanjut.
Perang Afganistan telah berkembang ke arah yang tidak terduga dan memberikan efek yang juga tidak dapat diduga. Strategi perang gerilya yang pernah dilakukan oleh Mujahidin melawan tentara Uni Sovyet, telah berubah menjadi perang dimensi lain. Taliban menggunakan bom jeins IED yang semakin sulit dilacak, sulit dijinakkan dan semakin mematikan yang dikombinasikan dengan serangan terhadap pos-pos militer, unit-unit patroli dan serangan terhadap kovoi kendaraan logistik, untuk mengimbangi kecanggihan mesin perang dan pengalaman tentara koalisi pimpinan AS.
Diatas kertas, seharusnya tentara koalisi dapat mengalahkan Taliban dan bisa menguasai Afganistan, seperti halnya tentara Israel yang didukung dengan mesin perang yang modern seharusnya dengan mudah mengalahkan pejuang Palestina.
Tetapi hingga sekarang, perang Afganistan dan perang “Israel di tanah Palestina” belum menunjukan tanda-tanda akan segera berakhir.