Craig Erwin, seorang manager Quality Engineer di Motorola Semiconductor Product Sector (SPS) pernah menulis : “Sebelum meng-implementasikan six sigma, kami sangat tertarik dengan aktivitas continuous improvement, tetapi hanya berusaha fokus pada pencapaian level kualitas yang sejajar dengan kompetitor kami. ”
Tetapi setelah meng-aplikasikan six sigma, “Kami tetap terus melakukan improvement untuk meningkatkan produk reliability, meningkatkan hasil produksi dan meningkatkan kualitas internal tetapi sekarang dalam upaya memenuhi ekspektasi customer terharap produk kami.”
Demikian pula yang dikatakan oleh James Bailey, seorang Executive Vice President dan Corporate Quality Officer pada Citicorp. “Kami sekarang lebih fokus pada customer satisfaction. Kami tahu ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, tetapi kami telah memulainya dan kami puas.”
Simak apa kata John Randall, Manager Quality Improvement pada perusahaan Defense System Electronic Corp (DSEG) peraih penghargaan Malcolm Baldrige National Quality Award, “Six Sigma telah meng-improve kualitas dan customer satisfaction tetapi dengan biaya yang relatif rendah”.
Six Sigma dan Customer Satisfaction
Kata kunci dalam melakukan improvement adalah bahwa improvement tanpa mengarahkan tujuan pada customer satisfaction merupakan hal yang sia-sia.
Ketika banyak perusahaan mengimplementasi Business Process Re-engineering (BPR), maka disadari perlunya mendasari setiap improvement pada customer satisfaction.
Pada dasarnya, implementasi BPR adalah membagi aktivtas menjadi dua hal : aktivitas yang bernilai value added dan aktivitas yang tidak bernilai value added (non value added).
Aktivitas yang bernilai value added adalah aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas produksi. Sedangkan aktivitas non value added adalah aktivitas diluar aktivitas produksi seperti aktivitas transportasi, inventory, administrasi, dll. Fokus dari BPR adalah mereduksi aktivitas non value added.
Kecenderungan dalam mengimplementasikan BPR adalah memotong habis semua aktivitas non value added dengan tujuan akhir adalah untuk mendorong efisiensi ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara project-project six sigma selalu mengkaitkan improvement dengan customer satisfaction. Sehingga tidak aneh bila dalam melakukan improvement selalu ditanyakan : bagaimana pengaruhnya improvement terhadap customer satisfaction.
Kemudian akan timbul dua pilihan, apabila improvement ternyata menimbulkan degradasi pada nilai customer satisfaction, maka improvement tersebut disingkirkan. Tetapi bila improvement tersebut justru semakin memperbaiki tingkat customer satisfaction, maka improvement tersebut layak untuk dilanjutkan.
Kasus Reduction Head Account
Project BPR yang paling favorit adalah project reduction head account, dengan cara memotong habis semua aktivitas non value added.
Sebagai contoh : kasus mereduksi tenaga inspektor QC di line produksi, kelihatannya sangat mungkin dilakukan dalam BPR. Reduksi biasanya dilakukan dengan cara memperpanjang tenggang waktu pengambilan sample atau memperkecil jumlah sample.
Dengan semakin berkurangnya beban kerja si petugas inspector QC, maka peluang mereduksi jumlah petugas inspector akan semakin terbuka lebar.
Katakanlah, yang sebelumnya satu line produksi ditangani oleh satu orang inspector QC, maka setelah dilakukan improvement akan menghasilkan satu orang petugas inspector QC akan menangani dua line produksi.
Masalah mulai timbul, bila manajemen tidak melihat kaitan erat antara reduksi petugas inspector QC dengan kesempatan petugas inspector QC untuk menangkap “sinyal” penyimpangan kualitas produksi dari sample yang semakin sedikit.
Logikanya, semakin sedikit sample yang diambil atau semakin jarang sample dilakukan, maka peluang petugas QC untuk “menangkap” penyimpangan kualitas produksi akan semakin kecil, bila petugas inspector QC tidak dibekali dengan pengetahuan dan skill yang dapat meningkatkan “kepekaan” untuk menangkap penyimpangan tersebut.
Manajemen kemudian berpuas diri dengan keberhasilan dalam melakukan improvement : project mereduksi head acount petugas inspector QC telah sukses dilakukan.
Tetapi, manajemen tidak melihat bahaya complain dari customer akibat penyimpangan kualitas yang tidak “tertangkap” oleh petugas inspector QC di line produksi.
Customer kemudian kecewa karena produk yang diterima tidak sesuai dengan spec yang telah disepakati. Customer menjadi unsatisfied.
Manajemen yang selalu mendasari improvement-nya pada customer satisfaction, mestinya akan melanjutkan improvement dengan melakukan pelatihan untuk membekali petugas inspector QC dengan skill dan pengetahuan agar bisa “lebih peka” dalam menangkap setiap penyimpangan kualitas.
Lebih peka berarti walaupun jumlah sample semakin sedikit, tetapi ketrampilan dan pengetahuan untuk membaca peluang terjadinya penyimpangan kualitas akibat penyimpangan, misal : penyimpangan saat proses produksi bisa dideteksi. Penyimpangan saat proses produksi, seharusnya menjadi peringatan dini bagi si petugas. Karena penyimpangan ini akan berakibat pada hasil akhir produk, yang justru harus ditangkap dalam sampling yang dilakukan.
*****
26 September 2007
Penulis adalah seorang Green Belt yang sedang mengerjakan project Six Sigma dan project Business Process Re-Engineering ditempat kerja.