KAISAR DAN GADIS KECIL

Ada satu malam yang gelap dalam cerpen yang ditulis Bernard Shaw, pemenang Nobel Kesusastraan tahun1926.  Dengan setting perang antara Perancis-Inggris melawan Jerman, sang maestro sastra dari kelahiran Irlandia bertutur tentang satire seorang Kaisar.

……..

Terkadang, kalau ada granat cahaya yang terlalu dekat sehingga ia tampak terang, ia berhenti dan berdiri tegak sambil melipat tangannya. Setelah gelap kembali ia berjalan lagi,melangkah seperti orang yang angkuh, meskipun ia harus hati-hati menapakkan kakinya karena tanah penuh rongga dan kepingan-kepingan bom, dan jangan sampai mayat prajurit terinjak olehnya. Ia bersifat angkuh dan tinggi hati, karena  ia Kaisar Jerman.

“Bukan kehendakku menjadi kaisar. Kau yang membimbingku kearah itu, dan kau yang melarang aku berbuat seperti manusia biasa, sejajar denganmu. Maka sekarang kuperintahkan kau memperlakukan aku sebagai dewa, sebagaimana kau telah menjadikanku; tidak sebagai manusia biasa sebagaimana Tuhan menjadikanku”, damprat Kaisar kepada seorang prajuritnya yang sedang sekarat.

“Nah, tapi mengapa kau harus berdusta? Kata gadis kecil yang ditemuinya pada suatu malam.

“Aku harus begitu,”kata Kaisar.”Itulah kewajiban seorang Kaisar. Ia harus mau mengatakan sesuatu yang tak mungkin dipercaya oleh dirinya sendiri, ataupun oleh orang lain”.

Kehidupan sebenarnya penuh dengan symbol. Dan Bernard Shaw secara dramatis berhasil menokohkan sang Kaisar sebagai pemimpin yang angkuh dan penuh siasat. Gadis kecil yang membawa air minum yang dijumpainya pada malam-malam gelap mungkin simbolik dari rakyat kecil yang polos dan lugu. Masing-masing mempunyai peran dan alasan untuk memerankannya. Cerita antagonis disuatu sisi dan melankolis disisi lain adalah sebuah realita yang harus ada, dan harus ada yang memerankan.

Jika realita itu pernah ada di jaman Bernard Shaw, mungkin akan terjadi dalam jaman yang lebih absurd seperti  sekarang.

Pemimpin memang harus memiliki sifat yang unggul. Sifat itu selayaknya muncul dari dalam kerendahan hatinya. Sifat itu menjadi imaji yang terpancarkan dari sebuah ketulusan, bukan dari sebuah kesengajaan untuk mencitrakan kedalam tingkah laku sehari-hari. Pencitraan akan membuat rakyat kecil menjadi iba, karena dalam himpitan kemiskinan, mereka masih bisa menilai ketulusan seorang pemimpin.

”Kasihan”, kata gadis kecil. ”Aku kasihan padamu. Mudah-mudahan kau tidak mendapat luka. Tetapi jika kau terluka, kubawakan air nanti.”

————

Sumber : Kaisar dan Gadis kecil, Antologi Cerpen Nobel, Penerbit Bentang

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.