WORLD CUP AFRIKA SELATAN, SEBUAH IRONI

Soweto 16 Juni, 34 tahun yang lalu. Ribuan pelajar kulit hitam  yang melakukan long march damai dari sekolah-sekolah menuju sebuah stadion – yang memprotes kebijakan pendidikan rejim apartheid, harus berhadapan dengan polisi yang memblokir jalan-jalan dikota itu.

Kerusuhan pun pecah. Polisi menembaki para pelajar yang tidak bersenjata dengan brutal. Korban pun berjatuhan. Kantor berita  Reuter mencatat pada hari itu lebih dari 500 orang menemui ajal, sedangkan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Sejarah kelam biasanya sulit dilupakan. Tapi sekarang 16 Juni 2010, hampir sepekan penyelenggaraan Piala Dunia di Afrika Selatan, orang-orang mungkin terlena ditengah keriuhan pesta sepak bola sejagat.  

Tapi apakah ini benar-benar sebuah pesta ?

Mega proyek Piala Dunia di Afrika Selatan berlangsung saat krisis ekonomi melanda dunia. Pemerintah Afrika Selatan menghabiskan lebih dari US$5 miliar (jumlah biaya sebenarnya sampai sekarang tidak jelas) untuk mengembangkan jalan, Bus Rapid Transit (BRT), bandar udara, dan infrastruktur kelas dunia lainnya untuk mengakomodasi ribuan pendukung sepak bola mancanegara.

Ironis dengan kenyataan yang terjadi, sekitar 50 % penduduk Afrika Selatan hidup dibawah garis kemiskinan. Tingkat pengangguran mencapai 39 % (tahun 2009) dan sekitar seperempat bagian dari total penduduk 49,32 juta hidup dari santunan sosial negara. Dibidang pendidikan hanya 7 %  sekolah-sekolah yang memiliki perpustakaan. 

Penduduk Afrika Selatan sendiri banyak yang mempertanyakan kebijakan membangun stadion baru, sementara banyak diantara warganya yang tidak memiliki rumah.  Dilain pihak, untuk mensukseskan Piala Dunia, pemerintah Afrika Selatan menggusur pemukiman kumuh, menggusur pedagang asongan dan menggusur “orang-orang yang tidak diinginkan” lainnya. Di kota Cape Town, pemerintah membuat Temporary Relocation Area sebanyak 1300 unit “rumah” ukuran 3 x 6m beratap seng untuk dijejalkan orang-orang miskin, karena rumah-rumah kumuh mereka terlalu dekat dengan lokasi event Piala Dunia.

The Wall Street Journal edisi 9 Juni 2010 menulis : di bukit-bukit Soweto  sebelah selatan Johanesburg, terlihat pemandangan lautan rumah kardus. Jalan-jalan yang kotor, toilet berada diluar rumah,  sedangkan penerangan berasal dari cahaya lampu pengatur lalulintas.

“Seburuk-buruknya pemerintah apartheid, selalu ada pekerjaan — orang tahu kemana harus pergi untuk bekerja,” kata Maureen Mnisi, jurubicara Landless People’s Movement di Soweto, sebuah LSM yang bergerak dalam memperjuangkan penyediaan rumah dan tanah untuk orang miskin.

“Dulu, kami adalah korban apartheid. Tetapi sekarang kami adalah korban demokrasi”,  kata seorang penduduk Soweto. “Ini hanya perbedaan istilah saja.”

Selama mega proyek Piala Dunia berlangsung, protest terhadap pemerintah yang digerakkan oleh lsm juga tidak pernah berhenti.

Setelah pesta World Cup usai, belajar dari krisis finansial yang melanda Yunani sebagai akibat menanggung hutang ketika menjadi tuan rumah Olimpiade 2004, diperkirakan Afrika Selatan akan mengalami hal yang sama. Dengan hutang luar negeri sebesar US $ 80 milyar (tiga kali lipat saat Mandela menjadi presiden), diperkirakan krisis ekonomi yang menyebabkan krisis politik akan mengancam Afrika Selatan.

*****

IED, DIMENSI BARU PERANG AFGANISTAN

Perang di Afganistan sudah berubah, dari perang konvensional berupa penyerbuan dan  pencegatan oleh Taliban terhadap tentara koalisi dibawah pimpinan AS  berubah menjadi perang menggunakan IED (Improvised Explosive Devise).

Jaringan televisi CBS menyebutkan bahwa 130 tentara AS telah tewas di Afganistan hingga Mei 2010, sebagian besar tewas akibat IED -senjata yang paling mematikan di Afganistan.  IED merupakan pembunuh no 1 bagi tentara AS di Afganistan, kata Jenderal James Matis dari marinir AS.

Perubahan taktik perang ini dilakukan oleh pihak Taliban mengingat pasukan koalisi lebih terlatih dan berpengalaman (diantaranya dalam perang Irak) serta didukung oleh persenjataan dan teknologi yang modern.

IED adalah bom rakitan yang digunakan seperti ranjau darat untuk meledakan kendaran militer, bom mobil, dan juga sebagai bom anti personal telah mencapai 50 % serangan terhadap pasukan koalisi yang menyebabkan luka-luka dan tewas. Tahun 2009, 322 tentara tewas dan 1800 lainnya terluka akibat serangan IED. Korban-korban ini disebabkan oleh meningkatnya serangan IED dari 1852 serangan pada tahun 2008 menjadi 3736 serangan pada tahun 2009.

Ditangan Taliban, teknologi IED terus berkembang dari bom rakitan konvensional hingga bom yang menggunakan sensor inframerah pasif, hingga bom yang lebih canggih terbuat dari plastik, ringan, kecil, mudah dibuat. Menurut pejabat AS, diakui bom yang dibuat Taliban semakin sophiscated dan semakin powerfull, seperti yang dikutip USA Today edisi 9 Maret 2009.

Perubahan material bom dari metal ke plastik menyebabkan bom rakitan ini menjadi semakin sulit dilacak dengan menggunakan alat pelacak metal konvensional (seperti yang dikeluhkan Pentagon terhadap  pelacak metal tipe AN/PSS-12). IED jenis ini yang menyebabkan Propinsi Helmand di Afganistan selatan  dan beberapa propinsi lainnya secara signifikan merupakan daerah paling  berbahaya bagi tentara koalisi.

Pemerintah AS mengelontorkan jutaan dollar untuk meng-countermesure jenis serangan IED ini.  Joint IED Defeat Organization, melibatkan banyak pihak diantaranya akademisi, laboratorium nasional AS, The Marine Counter IED Technology, Directorate and the Army Electronic Warfare Division. Berbagai peralatan canggih telah dibuat diantaranya : unit electronic jammer untuk men-jamming IED yang dikontrol dengan frekuensi radio seperti  handphone satelit, robot yang digunakan tim EOD (Explosive Ordnance Disposal), Unit kendaraan Cougar yang bertugas membersihkan jalan dari IED yang ditanam dijalan, alat pelindung (body armour) baik untuk kendaraan militer dan personal. Bahkan sampai pada me-rebuild kendaraan militer Humvee dengan teknologi “Frag 5″  atau ” Frag 6″ yang lebih melindungi dari serangan EFP (Explosively Formed Projectile) suatu jenis IED dari bahan pipa yang bila meledak dapat menyebarkan metal yang dapat menembus lapisan baja pelindung kendaraan militer.

Namun demikian kendaraan Humvee secara bertahap diganti dengan unit truck yang dapat menahan ledakan dikenal sebagai MRAP (Mine Resistant Ambush Protection).  Tetapi untuk tahun 2012, pihak angkatan darat dan marinir akan mengganti secara bertahap dengan kendaraan yang lebih canggih : Joint Light Tactical Vehicle (JLTV). Pihak pemerintah AS telah menyediakan dana 163,5 juta dollar AS untuk mendukung program ini, meliputi biaya riset dan pengembangan, manajemen, desain prototip dan pengembangan lanjut.

Perang Afganistan telah berkembang ke arah yang tidak terduga dan memberikan efek yang juga tidak dapat diduga. Strategi perang gerilya yang pernah dilakukan oleh Mujahidin melawan tentara Uni Sovyet, telah berubah menjadi perang dimensi lain. Taliban menggunakan bom jeins IED yang semakin sulit dilacak, sulit dijinakkan dan semakin mematikan yang dikombinasikan dengan serangan terhadap pos-pos militer, unit-unit patroli dan serangan terhadap kovoi kendaraan logistik, untuk mengimbangi kecanggihan mesin perang dan pengalaman tentara koalisi pimpinan AS.

Diatas kertas, seharusnya tentara koalisi dapat mengalahkan Taliban dan bisa menguasai Afganistan, seperti halnya tentara Israel yang didukung dengan mesin perang yang modern seharusnya dengan mudah mengalahkan pejuang Palestina.

Tetapi hingga sekarang, perang Afganistan dan perang “Israel di tanah Palestina” belum menunjukan tanda-tanda akan segera berakhir.

RACHEL ALIENE CORRIE

Rafah, disuatu perbatasan Jalur Gaza dengan  Mesir, seorang gadis muda 23 tahun- dari keluarga menengah yang biasa-biasa  saja di Amerika Serikat, berlutut di depan sebuah buldozer Caterpillar D9 milik IDF ( Israeli Defence Force) memohon agar dihentikan proses demolition home -penghancuran rumah-rumah orang Palestina.

Corrie yang lemah lembut (yang bercita-cita menjadi penulis dan seniman), berada di tempat dan waktu yang salah.  “Bulan-bulan itu merupakan a very crazy time“, kata seorang saksi mata. Tetapi Corrie dan teman-temannya telah bertindak berani – lebih jauh lagi : not only brave, they are crazy!

Corrie menjadi tameng hidup dalam menghadapi buldozer militer  Israel.

Corrie seorang warga sipil Amerika Serikat – seorang remaja melihat ketidak adilan yang mengoyak tanah Palestina. “Saya saksi mata suatu proses penghancuran yang sistematis…Sering saya duduk dengan orang-orang Palestina untuk  makan malam dan saya menyadari kami dikelilingi oleh mesin-mesin perang yang masif yang  bertujuan untuk membunuh orang-orang tsb”.

Tanggal 16 Maret 2003, tragedi itupun terjadi.  Corrie terluka parah (fatal injured) akibat  secara brutal digilas buldozer militer Israel.  Corrie kemudian dinyatakan meninggal di dalam ambulance atau dirumah sakit Palestina.

Bagi bangsa Palestina, Corrie dianggap sebagai salah seorang martir, diantara ribuan orang Palestina yang tewas ditangan militer Israel sejak gerakan intifadah dimulai.

Untuk mengenangnya, nama Rachel Corrie diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Ramallah.  Namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah kapal berbobot 18.000  ton-  MV Rachel Corrie, yang turut berlayar dalam konvoi Free Gaza Movement menembus blokade laut. Tapi angkatan laut Israel, mengganti nama kapal laut tersebut dengan codename : Linda.

Di tanah Palestina, ditempat bangsa Palestina yang terpenjara di tanah airnya – tidak ada perlindungan terhadap human right. Bahkan mungkin orang sudah tidak memikirkannya. Orang hanya berpikir bagaimana bisa melewati teror hari ini, supaya besok pagi bisa  bangun dan bersiap-siap menghadapi teror yang lain...”

SHAYETET 13

Serbuan pasukan komando Israel terhadap kapal Turki yang membawa relawan internasional Mavi Marmara merupakan hasil kerja pasukan elit dari pasukan komando angkatan laut Israel  yang dikenal sebagai unit Shayetet 13. 

Unit pasukan khusus (Spesial Force) yang didesain dan dilatih operasi penyerbuan dan operasi bawah air, unit ini juga merupakan pasukan elit yang dilatih untuk operasi CT (Counter Terorrism) yang berkerja secara rahasia di daerah musuh dan memiliki kemampuan trimatra (beroperasi di matra laut, udara dan darat). Unit Shayetet 13 saat ini juga beroperasi secara tertutup didaerah West Bank (Tepi Barat) dan Gaza Strip (Jalur Gaza), dan bertanggung jawab terhadap ratusan operasi yang menangkap dan membunuh pejuang Hamas dan Brigade Al Aqsa.

The Times melaporkan bahwa skenario awal adalah unit Shayetet 13 diturunkan ke kapal Mavi Marmara melalui teknik rapeling secara diam-diam ditengah kegelapan malam  dari helikopter Black Hawk,  kemudian menguasasi kapal untuk membelokkan kapal menjauhi pantai Gaza Strip.

Dalam wawancara dengan The Times, seorang komandan Angkatan Laut Israel mengatakan bahwa unit yang diturunkan ke kapal mengalami : “ Suprised, even shocked,” menghadapi  militansi dari para relawan internasional.

Banyak pihak menuduh bahwa tragedi yang menewaskan 9 relawan merupakan tanggung jawab institusi IDF dalam menyusun rencana operasi unit Shayetet 13 tersebut, para komandan penyusun rencana operasi terlalu underestimate.  

Operasi pencegahan masuknya kapal Mavi Marmara mungkin dinilai berhasil, seperti yang diungkapkan PM Israel Ehud Barak pada hari Kamis 4 Juni 2010. Tetapi disisi lain gelombang protes dan kecaman internasional semakin menyudutkan pemerintah Israel.

Israel kelihatannya tidak peduli. Seorang komandan Angkatan Laut Israel bahkan mengancam akan lebih agresif lagi dalam mencegah masuknya kapal kemanusiaan internasional ke pantai Gaza. Seperti yang dikutip The Times, pasukannya akan menduduki kapal dan menyerang kapal yang bermaksud menembus blokade laut.

Tidak perlu menunggu terlalu lama, kita akan melihat bagaimana IDF (Israel Defense Force) menangani kapal bantuan kemanusiaan Rachel Corrie yang mencoba menembus blokade laut di pantai Gaza.

Apakah kapal Rachel Corrie akan menemui nasib tragis seperti halnya aktivis ISM (International Solidarity Movement)  Amerika Serikat Rachel Aliene  Corrie yang tewas  digilas Buldozer Caterpillar D9R milik IDF saat memprotes penghacuran rumah-rumah orang-orang Palestina di Rafah  pada tahun 2003 lalu ?

*****

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.