PEROKOK BAGAIKAN SEBATANG LILIN…..

Seorang teman perokok berat, meng-ibaratkan dirinya sebagai sebatang lilin. Menerangi sekitarnya, tetapi mengorbankan dirinya. Teman tadi bilang, dengan merokok berarti turut membiayai pembangunan melalui cukai rokok yang dibayarnya. Dengan bangga dia mengatakan : seorang perokok adalah pahlawan pembangunan.

Ketika disinggung tentang ancaman berbagai penyakit akibat merokok, teman tadi dengan enteng menjawab : kita sebagai manusia yang perokok   maupun yang tidak merokok pada akhirnya akan mati. Ya lebih baik merokok toh…

Laporan Tobacco Atlas yang dikutip kantor berita Antara mengatakan bahwa 100 juta orang telah tewas pada abad XX akibat tembakau.  Satu dari sepuluh kematian di dunia disebabkan oleh rokok. Usia seorang perokok rata-rata lebih pendek 15 tahun daripada bukan perokok. Bahkan ditempat kerja diperkirakan pekerja menemui ajalnya sebanyak 200.000 orang per tahun karena dia kebetulan seorang perokok pasif.

Laporan tadi juga menyebutkan bahwa satu milyar orang didunia ini adalah perokok. 35 persen pria di negara kaya dan 50 persen pria di negera berkembang. 250 juta perempuan merokok setiap harinya. 22 persen di negara maju dan 9 persen dinegara berkembang.

Di Indonesia, kita dengan mudah akan menemukan perokok. Dari pengemis, pemulung, tukang becak, pekerja kantoran hingga anak-anak  sekolah. Itu mungkin yang menyebabkan pembangunan di Indonesia jalan terus tiada henti. Semakin banyak perokok berarti semakin banyak pajak yang dikumpulkan. 

Teman saya sambil berseloroh bilang, ada tiga keuntungan yang didapat dari seorang perokok :

Pertama, katanya. Rumahnya tidak pernah kemalingan. Karena siperokok tersebut akan terbangun dan terbatuk-batuk setiap malamnya akibat penyakit karena merokok. Maling tidak akan menyatroni rumah orang yang belum tidur, bukan…?

Kedua, seorang perokok tidak akan mempunyai rambut putih. Karena sebelum rambutnya dipenuhi uban, dia telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Ketiga, seorang perokok tidak akan pernah digigit anjing, katanya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Karena seorang perokok yang sakit-sakitan pasti membawa tongkat kemana-mana supaya jalannya tidak limbung.  Anjing kan takut digebuk tongkat. Katanya sambil terkekeh-kekeh, disela-sela batuknya. Wah yang terakhir itu kelihatannya lelucon yang agak memaksa.

Hidup perokok, hidup cukai rokok, hidup pembangunan Indonesia.

***************

Awal Agustus 2009

BABAK BARU MEMERANGI TERORIS DI INDONESIA

Terbongkarnya rencana teroris yang akan mem-bom Istana Negara dengan tujuan mengincar Presiden SBY merupakan babak baru bagi sejarah terorisme di Indonesia.

Selama ini, sasaran operasi teroris adalah menghancurkan target yang berhubungan dengan kepentingan pihak Amerika Serikat atau pihak barat. Dengan menggeser target operasinya, berarti prinsip perjuangan teroris telah berubah.

Banyak analisa mengatakan bahwa terjadinya pergeseran terhadap tujuan awal teroris  sebagai akibat tuntutan untuk menuntaskan dendam dijatuhkannya hukuman mati terhadap Imam Samudera cs.  

Dilain pihak, ancaman pembunuhan bagi seorang Presiden yang notabene seorang muslim dan seorang Jenderal (purn.)  TNI AD, akan mendapat tentangan dari  dalam organisasi teroris sendiri yang mengatasnamakan agama Islam untuk melakukan aksi terornya.

Ancaman terhadap lambang negara Indonesia, menyebabkan TNI akan turun tangan bahu membahu dengan pihak POLRI untuk memberangus terorisme di Indonesia. Diaktivkannya kembali Desk Anti Teror disetiap KODAM, akan mengektifkan kegiatan intelejen  TNI.  Sementara itu pasukan anti teror yang dimiliki setiap angkatan, seolah mendapat suntikan semangat baru untuk berlomba-lomba mengasah ketrampilan sebelum diterjunkan dalam suatu operasi penghancuran sel-sel teroris di Indonesia.

Berarti, Noordin M Top dan kawan-kawan akan mendapat lawan tangguh dari Detasemen Sat-81  Gultor Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara TNI AL dan Detasemen  Bravo 90 TNI  AU yang memang dilatih keras  dan tanpa kompromi untuk menghancurkan teroris secara profesional.

Seperti dalam operasi militer, pihak intelejen TNI akan melakukan pemetaan wilayah, identifikasi daerah rawan (daerah yang memiliki jaringan pendukung teroris),  jalur logistik dan jalur lalu lintas para teroris, identifikasi potensi ancaman, dll. Setelah itu menggiring dan mengurung teroris, selanjutnya menjebaknya dalam suatu operasi penyerbuan oleh satuan elit anti teror TNI.

TNI AD melalui Kodam-Kodam yang menjaga perbatasan negara, bisa aktiv menutup perbatasan dan ikut memburu teroris yang melarikan diri. Sementara kapal-kapal perang TNI AL  akan berpatroli dan menutup pergerakan teroris yang menggunakan sarana laut. 

Bila perlu, dengan ijin dari otoritas negara tetangga, satuan-satuan elit anti teror TNI  bekerja sama dengan satuan elit negara tetangga bisa masuk ke sarang-sarang teroris di negara tersebut untuk melakukan operasi penghancuran.

******

19 Agustus 2009