MISTERI WAKTU PELEDAKAN BOM BUNUH DIRI DI HOTEL MARRIOTT –CARLTON

Potongan-potongan informasi mengenai peledakan bom bunuh diri di hotel Marriot – Carlton  seperti puzzle yang belum terangkai menjadi suatu gambar yang jelas.

Informasi pertama adalah adanya bom ketiga (jenis black powder low explosive) yang gagal meledak akibat timer mengalami malfungsi. Informasi dari pihak kepolisian yang diberitakan di tv, bom ketiga yang berada dikamar 1808 adalah bom yang seharusnya diseting meledak pertama kemudian diikuti oleh peledakan bom bunuh diri di Marriot dan Carlton. Diduga, bom pertama diseting meledak minimal saat pembom bunuh diri sudah berada dititik target peledakan.

Berarti ada tiga buah bom yang dipersiapkan oleh teroris untuk serangan yang mematikan di Marriott – Carlton. Bila diasumsikan bom yang meledak itu sama jenisnya dengan bom yang berhasil diungkap di Cilacap oleh tim Densus 88 Mabes Polri, apakah ini berarti bom yang meledak di Marriot – Carlton adalah bom yang berhasil lolos sergapan tim Densus 88 di Cilacap ? Bila memang benar demikian, yang menjadi pertanyaan adalah : berapa buah bom lagi yang berhasil diloloskan oleh teroris ? Lalu dimana bom-bom tersebut sekarang disembunyikan ?

Bila benar apa yang diasumsikan oleh mantan Kadensus 88 Brigjen (purn.) Suryadharma Salim (?) di sebuah tv swasta ada 40-an buah bom yang disita oleh tim Densus 88 Mabes Polri di Cilacap, berarti di-indikasikan teroris sudah mampu  melakukan pembuatan bom maut secara masal.

Dan bila asumsi dari mantan Kadensus 88 bahwa pelaku bom bunuh diri bukanlah si pembuat bom, berarti pembuat bom masih bebas berkeliaran dan masih terbuka peluang membuat bom-bom yang sama dahsyatnya secara masal. Ini memberikan kesimpulan yang sangat mengerikan : ancaman serangan bom masih sangat terbuka di Indonesia.

Peranan Orang Dalam di JW Marriott                                                                                                               

Menarik untuk mengkaji pernyataan mantan Kadensus 88 dalam acara tv tersebut, yang menyatakan adanya peranan orang dalam JW Marriott yang mendukung serangan bom bunuh diri tersebut.

Tidak jadi soal apakah diduga bahan-bahan bom dirakit di kamar 1808 atau bom siap meledak disusupkan ke dalam hotel, asumsi ini memang logis bila ada orang dalam yang turut berperan dalam memuluskan serangan bom bunuh diri tersebut.

Bila benar ada orang dalam yang terlibat, berarti jaringan teroris sudah mempunyai perencanaan jangka panjang yang cukup matang : dari mencari, membina dan menyusupkannya ke Marriott – hotel yang notabene memiliki pengamanan yang sangat ketat.

Kenyataan pahit ini, mengharuskan manajemen semua hotel yang dianggap sebagai representasi pihak barat (oleh para teroris) harus mereview kembali seluruh pegawainya, baik karyawan hotel sendiri maupun karyawan outsourcing.

Peran orang dalam sangat menentukan dari dugaan menyusupkan bom hingga memberi detail informasi mengenai lay out, aktivitas rutin hotel dan kegiatan penting lainnya. Dari informasi ini, teroris melakukan perencanaan detil operasi serangan bom di kedua hotel tersebut, melakukan uji coba waktu yang diperlukan dari kamar 1808 hingga titik peledakan, merencanakan jalur keluar yang aman untuk pendukung teroris keluar dari Marriot – Carlton. Berarti ada pertemuan-pertemuan yang sangat intens dalam merumuskan detil rencana serangan bom bunuh diri tersebut. Polri harus bisa melacak kegiatan orang dalam di Marriott dengan mempelajari CCTV atau dari saksi-saksi sesama karyawan di hotel tersebut.

Misteri Waktu Peledakan

Sampai saat ini masih menjadi misteri mengapa waktu peledakan adalah jam 07.47 pagi seperti yang diberitakan di televisi. Apakah penentuan waktu ini sesuai dengan informasi yang telah didapat dan diperhitungkan oleh para teroris ? Apakah para teroris berasumsi bahwa pada waktu tersebut merupakan waktu yang tepat untuk memberi dampak yang besar dari akibat serangan bom mereka ? Atau apakah ada alasan lain ?

Kemungkinan alternatif lain : penentuan waktu ini disesuaikan dengan rencana operasi teroris untuk memberikan waktu yang cukup bagi para pendukung teror untuk kabur dari lokasi peledakan. Misalnya, disesuaikan dengan waktu yang diperlukan oleh para pendukung teroris untuk kabur via bandara Soekarno-Hatta ke tujuan yang telah dipersiapkan. Bila teroris mampu menginap di hotel berbintang sekelas JW Marriot, maka tidak mustahil mereka sudah memiliki tiket pesawat dengan tujuan dan waktu boarding yang telah ditentukan. Ini berarti pihak keamanan harus mencek semua jadwal penerbangan ke kota-kota yang dicurigai dan mempelajari manifest penumpang tersebut.

***** 

21 Juli 2009

Noordin M. Top, Teroris atau Intelejen Negara Asing ?

Sulitnya sebuah lembaga khusus anti terror setangguh Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polri untuk menangkap Noordin M.Top menjadi sebuah pertanyaan besar. Perburuan gembong teroris warga negara Malaysia ini selama hampir 7 tahun oleh aparat intelejen Indonesia seolah hanya bisa menyentuh bayangannya saja. Hingga saat ini, gembong teroris Noordin M Top bisa dikatakan sebagai the untouchtable.

Ada dua pendapat mengapa Noordin begitu licin, pertama Noordin memang mempunyai kemampuan untuk menghindar dari sergapan aparat keamanan Indonesia. Ini berarti sebelum terjun ke Indonesia, Noordin M. Top telah dibekali/membekali diri dengan berbagai keahlian, diantaranya kemampuan kontra intelejen.

Pendapat kedua, dalam operasi terror-nya Noordin M. Top mendapat bantuan dari pihak luar yang memang menghendaki Indonesia menjadi chaos, yang menyebabkan terhambatnya pembangunan ekonomi Indonesia sehingga melemahkan kemampuan berkompetisi dikawasan Asia Tenggara.

Noordin M. Top dan  Dr. Azhahari adalah warga negara Malaysia, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin berbagai serangan bom bunuh diri di Jakarta dan Bali. Sehingga logis bila ada pendapat dan dugaan bahwa kedua teroris tersebut memang disiapkan oleh unsur intelejen pemerintah asing untuk beroperasi di Indonesia.

Tentu saja pemerintah Malaysia akan menolak keras keterkaitannya dengan kedua gembong teroris. Dilain pihak sangat sulit untuk membuktikan keterkaitan  kedua gembong teroris tersebut dengan pemerintah Malaysia.

Tetapi fakta menunjukkan, akibat serangan bom bunuh diri di JW Marriott 2003 lalu dan bom Bali II 2005 lalu telah memberi dampak terpuruknya pada perekonomian Indonesia, terutama dalam  persaingan menarik  investasi asing dan mendatangkan wisatawan asing. Sementara negara tetangga akan mendapatkan limpahan berbagai keuntungan ekonomis dari keterpurukan Indonesia.

Akibat serbuan bom bunuh diri terakhir di Marriott – Carlton pada Jumat kemarin, dipastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami stagnasi. Investasi asing akan sulit masuk ke Indonesia, demikian pula wisatawan asing akan menghindari Indonesia karena berbagai negara mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya untuk tidak berkunjung ke Indonesia akibat kondisi yang dinilai tidak aman.

Noordin M. Top, Teroris atau Intelejen Negara Asing ?

Sungguh mengherankan bila lembaga seprestisius Densus 88 Polri mengalami  kesulitan untuk mengendus dan menangkap Noordin M. Top. Ini berarti, Noordin M. Top telah memiliki kemampuan dua hal, pertama kemampuan memahami gerak intelejen Indonesia  (kemampuan kontra intelejen) dan kemampuan untuk melakukan kegiatan teror. Apakah ini berarti Nordin M. Top merupakan intelejen asing dengan keahlian melakukan teror yang disusupkan oleh negara asing  ke negara Indonesia ?

Pendapat lain adalah bahwa Noordin M.Top selama pergerakannya dibantu oleh unsur intelejen negara  asing, baik berupa kemudahan mendapat informasi, hingga bantuan sarana dan prasarana untuk keluar dari sergapan aparat keamanan. Terutama kemudahan mendapatkan akses keluar berbagai wilayah Indonesia bila posisi Noordin M. Top merasa terjepit dan  atau masuk kembali ke Indonesia ke wilayah yang telah disiapkan.

Pembiayaan Operasi Noordin M. Top di Indonesia kemungkinan dibantu oleh suatu lembaga keuangan yang sama-sama misterius. Tidak mungkin ada negara lain yang akan mengakui membiayai operasi Noordin M. Top  secara terbuka, karena ini adalah operasi intelejen. Kemungkinan besar, informasi bantuan keuangan ini akan dituduhkan ke pihak lain, seperti jaringan teroris Al Qaeda. Tentu saja ini argumentasi yang paling aman.

*****

21 Juli 2009

PASCA SERANGAN BOM BUNUH DIRI DI HOTEL MARRIOTT – CARLTON, SELANJUTNYA BAGAIMANA ?

Serbuan teroris di Mumbai telah menunjukkan aktivitas teroris telah bermetomorfosis secara drastis. Teroris tidak lagi menggunakan metoda teror melalui bom yang diledakan dengan timer atau dengan alat kendali jarak jauh, kemudian teroris melenggang dengan aman setelah bom diledakan.

Di Mumbai, teroris membentuk tim-tim kecil terdiri dari 2 atau 3 orang  yang menyerbu berbagai target penting bagai serbuan  pasukan komando. Teroris menyamarkan aktivitasnya dengan memakai celana jeans, kaos t-shirt, membawa ransel dan berwajah kelimis. Setiap personal dilengkapi dengan senjata serbu AK 47, dengan amunisi yang cukup untuk serbuan jangka pendek, dilengkapi dengan senjata genggam, alat komunikasi, alat gps genggam, bahkan beberapa tim dilengkapi personal yang mampu merakit bom rdx. Kemampuan setiap personal adalah mampu melakukan pertempuran jarak pendek melawan pasukan komando India bahkan pasukan elit anti teror India.

Teror bom di hotel J.W. Marriott dan The Ritz-Carlton Jumat (17 Juli 2009) kemarin pagi, telah membuka mata Indonesia. Selama ini, sebagian orang mencap kaum teroris diidentifikasikan dengan Islam garis keras dengan berpenampilan yang khas. Berjenggot, memakai sorban, memakai baju koko dan bersarung, kurang lebih berpenampilan seperti kaum Mujahidin di Afganistan dalam film Sylvester Stalonne, First Blood.

Bila benar cuplikan film dari CCTV lobby hotel beberapa detik sebelum terjadi ledakan, penampilan pembom bunuh diri jauh dari gambaran diatas. Pembom bunuh diri justru berpenampilan perlente, memakai topi bisbol untuk menyamarkan wajah, membawa koper beroda dan menggendong ransel seperti halnya tamu-tamu hotel. Bahkan informasi dari berita tv, pembom tersebut telah menginap selama beberapa hari di hotel Marriott di kamar nomor 1808. Dapat diduga, koper dan ransel berisi bom yang akan diledakkan.

Seperti halnya serbuan teroris di Mumbai, serbuan bom bunuh diri di hotel Marriott telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi aparat keamanan di Indonesia. Perubahan drastis  teknik penyamaran hingga bisa menembus jaring keamanan hotel menunjukkan bahwa para teroris telah belajar dan lebih fleksibel dalam menjalankan operasinya.

 Mengapa Teroris Melakukan Lagi Pemboman Di Indonesia ?   

Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan yang terlibat dalam kasus Bom Bali, ternyata tidak menyurutkan aktivitas kaum teroris. Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan tidak berarti episode teror di Indonesia tutup layar. Justru dengan gegap gempitanya pemberitaan hukuman mati yang disiarkan melalui tv dan surat kabar – oleh kelompok dan pendukungnya, Imam Samudra cs dianggap sebagai martir.

Kondisi ini, mungkin dinilai lebih menguntungkan bagi kelompok teroris tersebut karena akan lebih mudah dalam proses perekrutan dan pembinaan. Kemungkinan besar proses perekrutan teroris bunuh diri dan proses pencucian otak dilakukan oleh tim Noordin M.Top, warga negara Malaysia yang hingga sekarang tidak diketahui rimbanya.

Waktu yang cukup lama dari terbunuhnya Dr. Azhari si ahli perakit bom yang juga warga negara Malaysia, hingga pemboman terakhir Jumat kemarin kelihatannya memberikan tenggang  waktu yang cukup lama  bagi kelompok teroris untuk melakukan revitalisasi, diantaranya melalui penyusunan organisasi baru hingga pelatihan perakitan bom.

Bila memang benar dugaan serangan bom di hotel Marriott – Carlton adalah bom bunuh diri, maka yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia adalah : mengindentifikasi jenis bom dari sisa-sisa bom, mengindentifikasi tersangka dari sisa tubuh teroris (dari sidik jari, DNA atau penggalan kepala), kemudian lebih jauh mengindentifikasi tim pendukung yang mengantarkan teroris tersebut ke hotel Marriott-Carlton, yang menyiapkan perlengkapan dan peralatan seperti  tas dan booking hotel. Mengindentifikasi teroris yang meracik bom, mengindentifikasi supplier material bom, mengindentifikasi teroris yang melakukan perekrutan hingga pencucian otak. Hingga mengindentifikasi sumber pembiayaan dan terakhir adalah identifikasi tokoh intelektual, baik itu bertugas sebagai penanggung jawab operasi bom bunuh diri maupun yang bertanggung jawab dalam operasi tindakan teror secara keseluruhan.

Setelah Jakarta Selanjutnya Kemana ?

Berdasarkan pengalaman, yang akan dilakukan oleh aparat keamanan dan intelejen Indonesia adalah melakukan operasi mempersempit gerak kaum teroris. Diantaranya operasi penyekatan baik berupa razia di pintu-pintu keluar seperti pelabuhan Merak, Surabaya, Banyuwangi, hingga pelabuhan udara seperti Soekarno Hatta, dll. Selain itu dilakukan operasi berupa razia-razia di jalur-jalur keluar Jakarta, hingga jalur-jalur keluar antar propinsi.

Sebenarnya aparat keamanan sudah mempunyai modal cukup dari penangkapan-penangkapan sebelumnya, yaitu teroris yang ditangkap di Cilacap  dan Malang oleh Densus 88 Mabes Polri yang diduga merupakan jaringan terdekat dengan Nordin M. Top, kemudian warga Singapura yang diduga kaki tangan Kastari, buronan kepolisian Singapura. Tersangka teroris yang tertangkap di Bandarlampung,  serta tersangka teroris jaringan Palembang dan Plumpang yang sebelumnya telah terungkap.

Biasanya, kaum teroris akan melakukan cooling down sambil berupaya  menghindar dari sergapan aparat keamanan.  Berdasarkan pengalaman selama ini, setelah keamanan Jakarta menjadi semakin ketat, kaum teroris mengalihkan aktivitas ke Bali, yang dianggap sebagai representasi kepentingan pihak barat. Setelah terjadi peledakan bom bunuh diri oleh kelompok Noordin M. Top di Hotel J.W Marriot pada 5 Agustus 2003 lalu, kemudian serangan bom bunuh diri beralih ke Bali tanggal 1 Oktober 2005 masih dilakukan oleh kelompok Dr. Azhahari dan Noordin M. Top, yaitu di Raja Bar dan Restoran Kuta Square serta Nyoman Café Jimbaran. Sudah saatnya aparat keamanan dan intelejen di Bali mulai meningkatkan kewaspadaannya, agar tidak terjadi lagi kasus bom di pulau Bali jilid III.

Besar harapan rakyat Indonesia,  supaya SBY sebagai presiden terpilih bisa menuntaskan kasus serangan bom bunuh diri segera mungkin. Memberangus jaringan-jaringan teroris hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. Siapapun yang terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Marriott – Carlton dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Termasuk didalamnya  menangkap Noordin M. Top, gembong  teroris warga negara Malaysia yang telah mengaduk-aduk keamanan negara Indonesia.

Sudah saatnya, pemerintah Indonesia menempatkan Noordin M. Top sebagai musuh yang paling dicari di seluruh wilayah Indonesia dan sekaligus menjawab spekulasi bahwa Noordin M. Top seorang gembong teroris warga negara Malaysia sengaja ditanam, dilindungi dan diberi akses kemudahan oleh unsur-unsur intelejen pemerintahan negara asing untuk mengacaukan keamanan Indonesia.

 

********

18 Juli 2009