DEBAT CAPRES, BUKAN DEBAT KUSIR

Tidak diragukan lagi debat calon presiden di televisi adalah bentuk dari kampanye politik yang modern.  Tujuannya sama dengan iklan-iklan kampanye pasangan capres dan cawapres yang menjamur di layar kaca,  yaitu meraup suara pemilih sebanyak-banyaknya.

Metode yang digunakan dalam debat di televisi tidak berubah. Moderator memberikan pertanyaan, kemudian masing-masing calon presiden memberikan jawaban.

Jawaban yang dikemukakan oleh capres, tentu saja harus lebih baik dari capres lainnya. Harus lebih menjanjikan berbagai kemudahan dan kesejahteraan – untuk mendapatkan simpati dan suara calon pemilih. Karena debat di televisi adalah salah satu bentuk kampanye, maka isinya sebagian besar adalah janji-janji dari program kerja yang akan direalisasikan bila capres itu terpilih. 

Apakah Debat Dapat Mengkatrol Perolehan Suara ?

 Di Amerika Serika (AS), debat capres di televisi pertama kali diadakan tahun 1960, yaitu debat antara capres Kennedy-Nixon, waktu itu ditonton rata-rata oleh 63.1 juta pasang mata.

Debat capres di AS diidentifikasi kedalam 5 point, pertama : menunjukkan kesiapan untuk menjadi presiden. Kedua : menjelaskan program kerja pemerintahan, ketiga menjelaskan kebijakan yang akan diambil. 

Yang menarik justru pada point ke empat : respon bertahan bila capres  lawan  mengkritik atau menyerang jawaban. Sedangkan point ke lima adalah menyerang balik atau mengkritik balik argumen dari capres lawan.

Capres harus menunjukkan bahwa tiga point pertama harus lebih baik dari kandidat lain, sedangkan pada point empat dan lima seorang capres prinsipnya harus secara efektif  mengkritik kelemahan capres lainnya.

Dengan demikian, audience akan melihat semua kelebihan dari seorang capres dan justru melihat kelemahan dari capres yang lain.  Selanjutnya audience akan menilai dan menimbang kemana suaranya akan disalurkan.

Debat Cawapres di Indonesia

Perlu ada penelitian apakah debat cawapres di Indonesia  akan mengkatrol perolehan suara capres pasangannya ?  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa debat cawapres hanya memberikan dampak yang kecil dan terbatas. Kecuali bila cawapres bisa menunjukkan visi yang lebih baik dari pasangan capresnya sendiri.

Mungkin perlu ada pertanyaan “nakal” dari moderator untuk cawapres : “Apa yang akan dilakukan bila capres (bila terpilih) kemudian tidak dapat melanjutkan tugas-tugasnya (misal : karena meninggal dunia) ?

Pertanyaan ini akan melihat apakah cawapres mempunyai ambisi untuk menggantikan presiden (pasangannya)  dipertengahan waktu kekuasaaannya. 

*****

26 Juni 2009

KONFLIK AMBALAT, SIAPA YANG MENANG ?

Provokasi kapal patroli Malaysia di perairan Ambalat yang kaya akan minyak dan gas bumi  telah memicu ketegangan politik kedua negara.  Kapal-kapal perang TNI AL didukung oleh pesawat-pesawat pengintai meng-counter dengan melakukan patroli laut yang lebih ketat.

Mengapa Tentara Diraja Malaysia berani melakukan tindakan tersebut ?

ALUTSISTA TUDM

Dibandingkan dengan TNI AU, Royal Malaysia Air Force atau TUDM (Tentara  Udara Diraja  Malaysia) memang memiliki alutsista yang lebih baik.  Ujung tombak TUDM didukung oleh skadron  F/A-18 D Hornet yang dimodernisasi menjadi F/A-18 F Super Hornet  dengan basis di Kuantan AB dan 18 unit SU-30MkM Sukhoi yang dibagi menjadi 2 skadron (home base di Kuantan AB).  Selain itu TDUM masih memiliki skadron Mig -29 (home base di Kuantan AB), Hawk 208 (home base di Kuantan AB dan Butterwoth AB), Hawk 209 (home base di Labuan AB) , F-5E, F-5F dan F5E Tiger II (home base di Butterworth AB) dan Beech 200T di Subang AB. 

Pesawat transport meliputi pesawat angkut berat C-130 Herkules dan dilengkapi dengan  KC-130 H untuk pesawat tanker (home base di Subang dan Labuan AB). Pesawat angkut ringan dan VIP antara lain adalah DHC 4 Caribou, Fokker F-28 Fellowship, Dassault Falcon 90, CN 235 yang tersebar di Kuching AB dan Subang AB.

 Skadron helikopter terdiri dari Sikorsky S61A-4 (multi purpose), Mi-171Sh,  Agusta Sikorsky A56-N1, Agusta Sikorsky A-109C, Sikorsky S-70 Black Hawk. TUDM bahkan didukung oleh pesawat UAV dari tipe CTRM Eagle ARV.

Kekuatan udara Malaysia kemungkinan menjadi kunci kekuatan Malaysia untuk berperang dengan Indonesia. Skenario yang mungkin dilakukan adalah : pesawat jet tempur melakukan serangan secara serentak terhadap satuaan radar TNI AU, pangkalan pesawat tempur TNI AU, pangkalan TNI AL, dan pusat-pusat logistik lainnya disekitar Ambalat. Sementara kapal cepat dan kapal selam melakukan operasi penghancuran kapal-kapal perang TNI AL di perairan yang tersebut. 

Untuk meng-conter serangan Malaysia, batalyon-batalyon infantri TNI AD  kemungkinan akan digerakan ke perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Utara, baik melalui penyusupan, duel arteleri dan serbuan langsung.   Pasukan TNI AD kemungkinan akan berhadapan langsung dengan pasukan darat dari Divisi 3 dan 4 serta resimen-resimen Askhar Wathaniah.  Marinir TNI AL akan bertempur di pulau Sebatik dan perairan di Kalimantan Timur.

Perang Terbatas

Malaysia tidak akan berperang difront pertempuran yang luas. Target yang masuk akal adalah menguasai perairan Ambalat, dan menguasai beberapa daerah atau pulau seperti pulau Sebatik dan beberapa kilometer masuk ke wilayah Indonesia di pulau Kalimantan Utara.

Setelah tujuan tercapai, Malaysia akan segera menarik Indonesia ke meja perundingan. Targetnya jelas, di meja perundingan Malaysia akan menawarkan untuk melepaskan daerah-daerah yang diduduki, tetapi dengan konsesi :  tidak akan mundur di Ambalat.

Perebutan wilayah yang telah diduduki oleh Malaysia mirip dengan skenario  Latgab TNI beberapa waktu lalu. Tetapi kecepatan operasi tempur TNI harus lebih cepat daripada kesepakatan di meja perundingan. Kecepatan menjadi kata kunci dari keberhasilan operasi tempur TNI.  Untuk mengirim pasukan secara cepat ke daerah konflik, maka operasi tempur TNI diperkirakan dilakukan melalui operasi penerjunan pasukan linud. Ini berarti TNI AU akan banyak melibatkan skadron pesawat angkut berat C-130 Hercules dengan dikawal oleh pesawat jet tempur.   Sementara mobilitas pasukan didarat banyak ditentukan oleh kesiapan helikopter angkut dalam melakukan mobilisasi udara.  Yang jadi pertanyaan apakah : pesawat Hercules, helikopter angkut dan jet-jet tempur sudah siap melayani operasi tempur seperti itu ?

Dalam skenario ini, bila TNI tidak segera merebut kembali daerah-daerah yang diduduki Malaysia, maka Malaysia akan memperoleh keuntungan diplomasi di meja perundingan.

Pada akhirnya, untuk disegani oleh pihak lain, TNI harus lebih kuat di lingkungan ASEAN.  Selama kekuatan TNI lebih lemah dibandingkan dengan negara-negara lain, maka ancaman kedaulatan RI akan terbuka.

***

10 Juni 2009

PRITA SUDAH MEMENANGKAN SETENGAH PEPERANGAN

Media mungkin lebih berpihak kepada Prita Mulyasari – penulis keluhan pelayanan RS Omni Internasional via surat elektronik yang kemudian diganjar hukuman penjara.

TV dan surat kabar lebih banyak menggambarkan Prita sebagai Ibu yang innocent, taat beribadah, ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang lucu.

 Seorang ibu rumah tangga yang baik tetapi harus menjalankan episode kehidupan yang kelam - kehidupan seorang ibu bagi kedua anak balitanya direnggut dengan paksa oleh suatu tindakan yang dinilai oleh banyak pendukung Prita sebagai suatu kebiadaban.

Komnas Ham kemudian menilai tindakan RS OMNI Internasional sebagai tindakan melanggar HAM ! Bahkan kalangan DPR menilai RS OMNI Internasional sebagai pihak yang bersalah sehingga merekomendasikan pemerintah untuk mencabut ijin Rumah Sakit tersebut. Sementara pihak Kejaksaaan telah memeriksa dua orang Jaksa Penuntut yang telah mencantumkan pasal 27  ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik  dalam tuntutan pengadilan sehingga Prita harus mendekam dipenjara selama 3 minggu,  sekali lagi – hanya karena Prita  menulis keluhan pelayanan dari RS OMNI Internasional.

Dalam perang selalu ada yang menang dan kalah. Media telah memenangkan sebagaian pertempuran  Prita, sedangkan RS OMNI Internasional secara beruntun mulai menuai kekalahan.

 Seandainya Prita berhasil dikalahkan dalam pengadilan oleh RS OMNI Internasional, sebenarnya bukan kemenangan yang akan diraih oleh pihak RS OMNI Internasional tetapi merupakan awal dari pahitnya kekalahan.

Semua orang akan takut untuk memakai jasa di RS OMNI Internasional : takut akan terjadinya kesalahan (seperti yang dikeluhkan Prita), hingga takut akan dituntut di pengadilan.

Kekalahan RS OMNI Internasional akan berujung pada mundurnya kinerja. Customer akan takut untuk berobat di RS OMNI Internasional, calon pasien akan memilih Rumah Sakit lain.  Kerja sama bisnis dengan berbagai pihak akan mengalami kebuntuan bahkan kehancuran.  Bahkan nama baik RS OMNI Internasioanl  akan turut hancur.

Semua pihak  menunggu tindakan  “smart” dari RS OMNI Internasional dalam menyelesaikan kasus ini. 

Hingga saat ini, dalam pemikiran banyak orang : customer adalah raja. Customer yang puas akan menjadi pelanggan setia, bahkan akan menjadi media promosi yang ampuh untuk merangkul pelanggan lain.

***

9  Juni 2009