INFORMASI ASIMETRIS TRAGEDI GAZA…

Sudah hampir beberapa minggu ini, setiap saat informasi tragedi Gaza hadir di dalam ruang keluarga. Isi informasi bisa dikatakan seragam, kecanggihan mesin perang Israel yang meluluhlantakan setiap nurani yang menyaksikannya. Jet-jet tempur F-16I dan Helikopter serang AH 64-Apache menembakkan peluru kendali ke sasaran yang telah ditentukan dengan akurat.

Di darat, arteleri IDF (Israel Defence Force) menembakkan peluru penghancur ke seluruh bagian kota Gaza. Untuk mengkoreksi kordinat tembakan, dipastikan Israel menempatkan pointer di Gaza. Dipastikan pointer dapat berupa helikopter maupun mata-mata Israel yang bergerilya di Gaza. Akibat pemboman yang masif, baik dari serangan udara, darat maupun dari kapal perang Israel, menghasilkan puing-puing kota dan asap hitam kehancuran yang memenuhi udara.

Sementara dari pihak Hamas,  tanpa ada payung udara berupa radar dan peluru kendali darat ke udara yang memadai, menyebabkan pesawat-pesawat tempur Israel merajalela dalam menghancurkan target di darat. Rudal darat ke darat yang dilepaskan pihak Hamas tidak memberikan hasil yang menghancurkan karena hanya bersifat psikologis.

Di layar kaca, disuguhkan hampir setiap waktu di ruang keluarga selain menampilkan kisah sukses proses penghancuran kota Gaza, juga memperlihatkan lembaran hitam tragedi kemanusiaan yang membuat trenyuh dan menggedor rasa solidaritas. Coba simak apa yang ditampilkan : tentang anak-anak korban perang yang menangis dengan wajah bersimbah darah,   atau tentang seorang Bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarga karena rumahnya hancur terkena bom Israel. Mayat-mayat penduduk kota  yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan kehancuran gedung-gedung disepanjang sisi jalan itu. Rumah sakit yang sibuk menerima korban-korban baru, tanpa ada support obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.

Kondisi Gaza memang mirip kondisi : kehancuran Hirosima dan  Nagasaki yang di bom atom oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II ditambah dengan tragedi kemanusian Ethiopia beberapa tahun lalu digabung dijadikan satu.

Sehingga logis, bila respon dari sebagian besar penduduk dunia adalah sama. Memprotes serbuan tentara Israel yang menimbulkan korban di pihak sipil, memprotes blokade Israel karena rumah sakit-rumah sakit tidak memiliki tenaga medis dan obat-obatan yang memadai untuk mengobati korban perang, hingga pada respons untuk membuka pendaftaran jihad bertempur melawan tentara Israel  di tanah Palestina. Apakah ini tidak berlebihan ?

Untuk mengalahkan tentara Israel di medan perang Gaza tidak cukup dengan semangat. Keberhasilan pejuang Hezbollah mengalahkan tentara Israel di Lebanon, karena mereka mendapat pelatihan yang ketat dan disiplin, boleh dikatakan sebagai pelatihan pasukan komando. Pejuang Hezbollah membentuk unit-unit tempur yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang independen. Mereka menguasai medan tempur dan dengan mental juang yang kuat, sehingga dengan modal senjata serbu dan senjata anti tank, mereka berani berhadapan dengan pasukan komando Israel yang didukung oleh persenjataan canggih seperti Tank Merkava, tank paling handal di dunia. Padahal dalam setiap pergerakan tempurnya, tentara Israel selalu didukung oleh tembakan bantuan baik dari satuan alteleri maupun tembakan dari pesawat tempur   secara on call.

Tulis sebuah Komentar