Januari 6, 2009 pada 6:19 am (HANYA SATU KOLOM)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada pembukaan perdagangan Bursa Saham tahun 2009 sempat menyesalkan ketidak profesionalan para pejabat Pertamina, berkaitan dengan ketersediaan BBM beberapa waktu lalu.
Presiden SBY berhak marah dan menegur Pertamina. Program konversi minyak tanah ke LPG yang gencar dilakukan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM, berakhir semrawut. Ketika sebagian besar penduduk melaksanakan program pemerintah dengan meng-konversi minyak tanah ke LPG, ternyata LPG 3 kg lenyap dari muka bumi. Truk-truk pengangkut tabung LPG harus mengantri di pelataran parkir dan jaln masuk stasiun pengisian LPG. Tentu saja, ditingkat pengecer sulit menemukan LPG 3 kg dan LPG 12 kg, kalaupun ada sangat sedikit dan dijual dengan harga yang lebih mahal.
Pihak Pertamina tentu saja berkelit dengan mengajukan alasan Unit Pengolahan Balongan sedang menjalani program maintenance rutin, ditambah dengan alasan masalah jalur suplay yang terhambat. Detail alasannya adalah : kapal pengangkut LPG sulit merapat ke pelabuhan karena ombak besar, pembangunan tanki penimbunan sedang dalam tahap penyelesaian, dan lain-lain. Tidak lupa, setelah mengemukakan berbagai permasalahan, diikuti dengan janji-janji tentang jaminan kelancaran suplay di kemudian hari….
Maka berita-berita di TV dan Surat kabar dipenuhi dengan berita tentang warga yang meng-antri LPG, meng-antri minyak tanah yang hampir dinyatakan punah, atau tentang keluh kesah pedagang kecil yang terpaksa mengikat lebih erat perutnya karena tidak dapat berjualan lagi akibat sulitnya mendapatkan LPG 3 kg andalannya.
Akhirnya masyarakat kembali melakukan program re-konversi LPG ke kayu bakar untuk sekedar menyambung hidup. Untung ada kayu bakar, sehingga program konversi ini berjalan sukses tanpa perlu campur tangan pemerintah.
Suatu saat nanti di negeri yang kaya ini, bila pemerintah mengadakan konversi energi dari LPG ke energi Nuklir, mungkin perlu belajar dari pengalaman buruk saat mengkonversi minyak tanah ke LPG. Jalan yang paling mudah, siapkan saja kayu bakar, itupun kalau kayu bakar masih mudah ditemukan.
1 Komentar
Januari 6, 2009 pada 5:47 am (HANYA SATU KOLOM)
Sudah hampir beberapa minggu ini, setiap saat informasi tragedi Gaza hadir di dalam ruang keluarga. Isi informasi bisa dikatakan seragam, kecanggihan mesin perang Israel yang meluluhlantakan setiap nurani yang menyaksikannya. Jet-jet tempur F-16I dan Helikopter serang AH 64-Apache menembakkan peluru kendali ke sasaran yang telah ditentukan dengan akurat.
Di darat, arteleri IDF (Israel Defence Force) menembakkan peluru penghancur ke seluruh bagian kota Gaza. Untuk mengkoreksi kordinat tembakan, dipastikan Israel menempatkan pointer di Gaza. Dipastikan pointer dapat berupa helikopter maupun mata-mata Israel yang bergerilya di Gaza. Akibat pemboman yang masif, baik dari serangan udara, darat maupun dari kapal perang Israel, menghasilkan puing-puing kota dan asap hitam kehancuran yang memenuhi udara.
Sementara dari pihak Hamas, tanpa ada payung udara berupa radar dan peluru kendali darat ke udara yang memadai, menyebabkan pesawat-pesawat tempur Israel merajalela dalam menghancurkan target di darat. Rudal darat ke darat yang dilepaskan pihak Hamas tidak memberikan hasil yang menghancurkan karena hanya bersifat psikologis.
Di layar kaca, disuguhkan hampir setiap waktu di ruang keluarga selain menampilkan kisah sukses proses penghancuran kota Gaza, juga memperlihatkan lembaran hitam tragedi kemanusiaan yang membuat trenyuh dan menggedor rasa solidaritas. Coba simak apa yang ditampilkan : tentang anak-anak korban perang yang menangis dengan wajah bersimbah darah, atau tentang seorang Bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarga karena rumahnya hancur terkena bom Israel. Mayat-mayat penduduk kota yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan kehancuran gedung-gedung disepanjang sisi jalan itu. Rumah sakit yang sibuk menerima korban-korban baru, tanpa ada support obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.
Kondisi Gaza memang mirip kondisi : kehancuran Hirosima dan Nagasaki yang di bom atom oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II ditambah dengan tragedi kemanusian Ethiopia beberapa tahun lalu digabung dijadikan satu.
Sehingga logis, bila respon dari sebagian besar penduduk dunia adalah sama. Memprotes serbuan tentara Israel yang menimbulkan korban di pihak sipil, memprotes blokade Israel karena rumah sakit-rumah sakit tidak memiliki tenaga medis dan obat-obatan yang memadai untuk mengobati korban perang, hingga pada respons untuk membuka pendaftaran jihad bertempur melawan tentara Israel di tanah Palestina. Apakah ini tidak berlebihan ?
Untuk mengalahkan tentara Israel di medan perang Gaza tidak cukup dengan semangat. Keberhasilan pejuang Hezbollah mengalahkan tentara Israel di Lebanon, karena mereka mendapat pelatihan yang ketat dan disiplin, boleh dikatakan sebagai pelatihan pasukan komando. Pejuang Hezbollah membentuk unit-unit tempur yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang independen. Mereka menguasai medan tempur dan dengan mental juang yang kuat, sehingga dengan modal senjata serbu dan senjata anti tank, mereka berani berhadapan dengan pasukan komando Israel yang didukung oleh persenjataan canggih seperti Tank Merkava, tank paling handal di dunia. Padahal dalam setiap pergerakan tempurnya, tentara Israel selalu didukung oleh tembakan bantuan baik dari satuan alteleri maupun tembakan dari pesawat tempur secara on call.
Tinggalkan sebuah Komentar
Januari 2, 2009 pada 4:43 am (HANYA SATU KOLOM, MILITER)
Mungkin sudah taqdir, tidak akan ditemukan merpati putih perdamaian di Jalur Gaza (Gaza Strip). Mungkin sudah takdir pula, tanah Gaza adalah tanah yang paling berdarah-darah di muka bumi ini.
Serbuan Israel pada minggu terakhir di bulan Desember 2008, sangat mematikan. Peluru kendali yang diluncurkan dari heli serang AH-64 Apache dan pesawat jet tempur F-15 dan F-16 seakan mempunyai mata elang yang tajam untuk menghantam target penting di Gaza secara akurat. Serangan udara (air strike) yang didukung dengan unit UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Hevron, kelihatannya merupakan sebuah pre-emption assault, sebelum ditutup dengan serbuan Angkatan Darat.
Darah membanjiri tanah Gaza. Isak tangis penduduk kota bercampur dengan riuhnya dentuman bom memenuhi langit di kota Gaza yang muram. Perang asimetris, perang tidak seimbang ini telah memakan korban ratusan jiwa melayang dan melukai ribuan penduduk lainnya. Perang memang tidak memiliki nurani dan belas kasihan.
Sementara itu diperbatasan Gaza Israel, puluhan ribu pasukan angkatan darat dengan didukung Main Battle Tank (MBT) paling andal di dunia tank “pelumat” Merkava telah bergegas menunggu perintah pimpinan IDF (Israel Defence Force) untuk menyerbu masuk ke tanah yang sudah porak poranda. Pimpinan militer masih menunggu apakah kondisi di Gaza sudah terbebas dari ancaman pejuang Hamas, terutama bebas dari ancaman persenjataan alteleri Hamas.
Bagi petinggi militer Israel, ancaman dari pejuang Hamas masih terlihat menakutkan, terutama peluncur roket tipe Katyusha, anti tank konvensional RPG, peluru kendali anti tank Metis, mortir, pelontar granat anti personal dan berbagai senapan serbu yang dimiliki Hamas terutama : Kalaniskov AK 47.
Satu hal lagi yang dipertimbangkan oleh pimpinan militer Israel, adalah daya juang pejuang Hamas. Pimpinan Israel tidak mau pukulan telak yang memalukan yang diterima dari pejuang Hezbolah di Lebanon terulang di Gaza.
Pertempuran di Gaza, diperkirakan memancing negara-negara Arab pendukung Hamas untuk bereaksi. Mungkinkah perang di tanah Palestina merupakan awal dari perang dunia ?
Tinggalkan sebuah Komentar