SEPATU SONTOLOYO….

Sepatu adalah alas kaki. Membungkus kaki, agar kaki tidak langsung menginjak kerikil tajam yang menyakitkan atau kotoran yang bau dan menjijikkan.

Oleh sebab itu, semahal-mahalnya sepatu, baik sepatu baru atau sepatu yang sudah kusam akan selalu berada di ”tataran” paling bawah : melindungi si-empunya kaki. Entah itu melindungi kaki anak sekolah, wartawan atau seorang presiden sekalipun…

Tapi apa jadinya bila sepatu yang berada pada posisi “hina” dilemparkan ke kepala seorang Presiden negara adi daya seperti Amerika Serikat ?

Bukan berarti sepatu sontoloyo tersebut telah mbejujak, telah “kurang ajar” naik peringkat ketataran yang lebih tinggi, ke kepala seorang manusia yang kebetulan menjabat Presiden di negara adi daya Amerika Serikat.  Bahkan, andaipun sepatu itu bertengger di kepala siapapun, sepatu tetap adalah sepatu. Sepatu hakekatnya adalah pelindung kaki, tempatnya ya di telapak kaki. Sedangkan kepala tetap eksis  berada di atas - diposisi yang luhur dan tidak akan pernah memakai sepatu untuk melindungi kepala.

Itu sebabnya, Presiden Bush berhasil dengan “sukses” menghindar lemparan sepatu wartawan Irak Az – Zaidi hari Minggu 14 Desember lalu. Presiden Bush memahami  sepenuhnya bahwa sepatu adalah sepatu : sepatu letaknya dibawah – dikaki, bukan diatas kepala. Sepatu melindungi kaki dari kerikil yang tajam dan kotoran yang bau dan menjijikan.

Presiden Bush pasti paham, bila sepatu mengenai kepalanya itu berarti bukan saja penghinaan besar terhadap eksistensi manusia tetapi juga penghinaan besar terhadap negara adi daya Amerika Serikat. Dan untunglah, Presiden Bush mempunyai pemahaman kuat tentang itu….

Desember, 24 2008

TRAGEDI MUMBAI : SERBUAN TERORIS ALA PASUKAN KOMANDO

Terlepas dari telah bermetafosis-nya ancaman teror dari serangan bom hingga serbuan secara terbuka, serbuan teror di Mumbai telah membuka mata dan memberikan banyak pelajaran bagi unit-unit anti teror di seluruh dunia.

Teror Ala Serbuan Pasukan Komando

Serbuan teroris di Mumbai telah dirancang secara baik, hal ini diakui oleh Roger W. Cressey mantan pejabat antiteroris Gedung Putih pada era Bill Clinton dan George Bush. Informasinya, untuk mempelajari secara detail peta kota Mumbai dilakukan melalui pencitraan satelit dari Google Earth.  Dari data dan peta kota Mumbai, teroris melakukan interpretasi data secara baik, interpretasi  berupa kondisi medan, cuaca, waktu yang dibutuhkan dan kemungkinan posisi aparat keamanan India ditempatkan.  Yang paling mengejutkan, teroris dilengkapi dengan alat GPS genggam dan alat komunikasi walkie-talkie serta handphone atau alat komunikasi via internet (voice-over-internet telephone services).

Kemampuan para teroris dilaporkan sangat terlatih bahkan dilaporkan dilengkapi dengan pelatihan pendaratan laut dan menyiapkan pantai pendaratan sebagai pangkalan aju dalam serbuan tersebut.

10 orang yang dilaporkan melakukan serbuan bunuh diri ala pasukan komando, dibagi menjadi tim-tim kecil yang terdiri dari 2 hingga 4 orang. Masing-masing tim dilengkapi dengan persenjataan infantri ringan, yaitu senapan serbu AK 47, granat dan cadangan amunisi. Beberapa tim dilengkapi dengan personal yang mempunyai kemampuan merakit bom (RDX). Serbuan dirancang secara baik, mereka melakukan pengalihan perhatian keamanan India dengan meledakan bom mobil dan melumpuhkan aparat keamanan India  sebelum menyerang target-target yang telah ditentukan.

Target serbuan sudah ditentukan yaitu : stasiun kereta api tersibuk di dunia Vhhatrapati Shivaji, Nariman House – bangunan milik kelompok Yahudi Ultra-Ortodok, restoran Leopold tempat populer dikalangan turis, Hotel mewah bintang lima Hotel Oberoi, Hotel Taj Mahal Palace and Tower – sebuah hotel mewah dan terkenal sejak 1903.

Pasukan komando India (kemungkinan besar pasukan elit anti teror India  Black Cat dilibatkan) perlu waktu hampir 60 jam untuk bertarung dalam pertempuran heroik jarak pendek (CQB : Clossed Quater Battle) dari kamar ke kamar di Hotel Taj Mahal  untuk membebaskan sandera dan menguasai hotel.

Pelajaran Berharga Bagi Pasukan Anti Teror Indonesia

Perspektif  ancaman teroris sudah berubah dari ancaman bom hingga sekarang serbuan secara terbuka ke tempat-tempat strategis secara serempak. 

Teror telah berubah dari bentuk teror klasis berupa teror bom seperti di Bali berupa teror bom mobil yang diledakan dari jarak jauh maupun teror bom bunuh diri, tetapi kini teroris telah berani unjuk kekuatan dengan melakukan serbuan secara frontal ke pelbagai tempat secara serempak seperti yang terjadi di kota yang berpenduduk hampir 18 juta orang dan simbol kejayaan ekonomi India.

Efeknya adalah pengamanan kota-kota besar di Indonesia sudah harus dirubah kedalam skala pengamanan terhadap serbuan teroris seperti yang terjadi di Mumbai. Kemungkinan yang menjadi masalah adalah tidak semua kota besar di Indonesia di back up oleh unit-unit pasukan  anti teror (kecuali Detasemen 88 Polri yang ada disetiap Polda). Dan masalah lain adalah : apakah unit Detasemen 88 Polri sudah melakukan pelatihan anti teror disetiap kota besar tersebut ?

BALI

Secara historis Bali sudah mengalami teror bom yang dahsyat. Berarti, teroris telah mempertimbangkan dan menetapkan Bali sebagai target teror.

Pihak intelijen dan keamanan Indonesia sudah selayaknya menempatkan Bali dalam rangking tertinggi (selain Jakarta sebagi ibu kota negara) untuk pengamanan terhadap ancaman teroris. Ini berarti Bali harus dilengkapi dengan unit-unit anti teror yang mumpuni dan dapat digerakkan secara cepat keseluruh pelosok Bali dalam waktu bersamaan ke posisi yang berbeda.

Bali perlu memiliki unit-unit anti teror aspek matra laut karena Bali dikelilingi oleh laut dan memungkinkan terjadinya serangan teror berawal dari laut seperti di Mumbai.  Perlu dihitung juga apakah Detasemen 88 Polri yang ada di Polda Bali mempunyai kemampuan dan telah berlatih untuk  meng-counter serbuan teroris yang menyerang 4 atau 5 lokasi secara serempak ? Kelihatannya Polda Bali harus mulai melakukan pelatihan anti teror untuk bisa meng-counter teror seperti yang terjadi di Mumbai.

Untuk mengenang teror di Mumbai.

Desember 20, 2008