Harga Minyak Dunia Diprediksi Mencapai US $ 150 per Barrel

Harga minyak dunia bereaksi mencapai rekor baru US $ 130.47 per barrel untuk minyak jenis Light, sweet crude untuk penyerahan bulan Juni di bursa perdagangan elekrtonik New York Merchantile Exchange.

Kenaikan ini dipicu oleh ketakutan akan suplay minyak jangka panjang dan inventory  minyak di dalam negeri AS dalam jangka pendek berkurang. Tetapi sebagian analis berpendapat kenaikan harga minyak disebabkan juga oleh turunnya nilai dollar.

Pada hari Rabu ini US dollar diperdagangkan pada 103.62 yen, turun dibawah range 104 -105 dibandingkan minggu lalu.  Sementara Euro naik menjadi $1.5735 pada siang hari di Eropa, sedangkan di New York, dollar jatuh satu persen pada perdagangan  Selasa sore menjadi $1.5669.

Menurut Sekretaris Jenderal OPEC Abdullah al-Badri, lemahnya dollar merupakan salah satu faktor yang mendorong naiknya harga minyak. Walaupun Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya, tetapi negara-negara anggota OPEC lainnya justru menurunkan produksi minyaknya.

Harga Minyak akan Mencapai US $ 150 per barrel

T. Boone Pickens,  founder dan pimpinan BP Capital LLC mengatakan di jaringan televisi CNBC, bahwa harga minyak akan mencapai US $ 150 per barrel  pada tahun ini, akibat dari suplay yang tidak bisa memenuhi permintaan.

Picken menjelaskan bahwa prediksi kenaikan harga minyak tersebut disebabkan oleh terbatasnya produksi minyak secara global dan kebutuhan Cina yang kuat akan minyak.

Gempa bumi yang melanda Cina pada 15 Mei lalu menyebabkan hancurnya infrastruktrur tenaga listrik dan menghancurkan jaringan transportasi batubara.  Akibat gempa bumi yang dahsyat, Cina kekurangan pasokan batubara, untuk menutupinya maka Cina memerlukan suplai minyak.

Ancaman Presiden George W. Bush terhadap fasilitas nuklir Iran, bahkan menurut laporan dari media masa di Israel, AS akan melakukan operasi militer terhadap fasilitas nuklir Iran pada beberapa bulan kedepan diperkirakan akan menjadi alasan bagi naiknya harga minyak dikemudian hari.

Padahal Iran adalah produsen minyak terbesar kedua di dunia, sementara seperempat suplai minyak dunia dialirkan melalui Selat Hormuz, yang merupakan wilayah terdekat dengan Iran. Serbuan AS terhadap fasilitas Nuklir Iran, diperkirakan akan menyebabkan suplai minyak akan jauh berkurang, sehingga akan memicu kenaikan harga minyak dunia ke rekor harga minyak yang lebih tinggi.

******

21 Mei 2008

 

KENAIKAN HARGA BBM : DANCING WITH RISK

Presiden SBY pada hari Senin 5/5 di Istana Negara mengatakan tentang resiko kenaikan harga BBM di depan para pemimpin redaksi, “Selalu ada resiko, ya politik, sosial dan keamanan”.

Kenaikan harga BBM sudah demikian mendesak, bukan lagi kapan tetapi berapa persen kenaikan yang dapat diterima oleh masyarakat.

Presiden SBY mengatakan : ” Tapi naik berapa. Apakah naik 20, 25, 30 atau 35 persen”.

Kenaikan harga BBM kelihatannya akan sulit dihindari. Pada Rabu 7/5 kemarin dilaporkan telah mencapai rekor baru US $ 123.93 per barrel untuk jenis Light, sweet crude untuk penyerahan Juni di pasar New York Merchantile Exchange.

Kenaikan harga minyak ini ternyata merupakan kelanjutan dari rekor harga minyak US $ 120 per barrel pada minggu lalu, akibat informasi dari The Energy Departement Energy Information Administration tentang  turunnya cadangan BBM di Amerika Serikat.

Para analis mengatakan bahwa harga minyak cenderung akan terus melakukan rally.  “Ini menunjukkan bahwa kondisi pasar …tidak menunjukan adanya kecenderungan bearish, ” kata Phil Flyin, analis dari Alaron Trading Corp seperti yang dikutip oleh AP.

Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa penguatan dollar AS ternyata tidak menolong bagi penurunan harga minyak.  Tetapi dilain pihak, menurunnya nilai tukar dollar AS  terhadap euro dan mata uang asing lainya menyebabkan harga minyak meningkat. Kejadian kenaikan harga minyak hingga mencapai rekor terbaru ini justru terjadi pada saat dollar AS menguat.

Dancing with Risk

Pemerintah pasti belajar dari sejarah kenaikan harga BBM pada tahun 2005 lalu (kenaikan 29 % pada bulan Maret 2005 dan 100 % pada bulan Oktober 2005), bahwa kenaikan harga BBM akan memukul perekonomian rakyat. Kenaikan harga BBM akan mempengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah bawah seperti buruh, pekerja sektor informal, petani, nelayan.

Menurut pengamat ekonomi Dr. Hamonangan Ritonga, kenaikan BBM tahun 2005, menyebabkan inflasi pada tahun itu mencapai 17.3 %. Dari inflasi sebesar 17.3 %, 10 % diantaranya merupakan dampak kenaikan BBM, sedangkan 7 % merupakan dampak faktor lainnya. Akibat kenaikan BBM tahun 2005, diperkirakan jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 50 juta orang pada bulan Maret 2006, jauh bila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin tahun 2004 yang mencapai 36.1 juta orang.

Kenaikan harga BBM secara langsung mempengaruhi kenaikan harga-harga barang lain.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM pada bulan Maret 2005 menyebabkan kenaikan harga barang pada jenis barang : padi, sayuran, hasil ternak, perikanan laut, minyak goreng, beras, gula, pertambangan, pupuk, industri baja, listrik, gas, air bersih, konstruksi, perdagangan, restoran, hotel, angkutan kereta api, angkutan darat, pelayaran, angkutan air, angkutan udara, komunikasi, keuangan dan jasa-saja lain. Kenaikan tertinggi terjadi pada angkutan darat, angkutan air, pelayaran, angkutan kereta api dan angkutan udara.

Untuk mengurangi beban rakyat miskin, pemerintah berencana memberikan kompensasi diantaranya melalui program : Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), dan bantuan tunai langsung. Perlu disadari bahwa program kebijakan kompensasi terhadap masyarakat miskin bukanlah suatu program pengentasan kemiskinan. Pengalaman pada waktu lalu mengatakan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan kenaikan barang secara permanen, sedangkan program kompensasi terhadap masyarakat miskin relatif terbatas dalam jumlah dana yang disiapkan dan dilaksanakan dalam waktu yang terbatas pula.

Tetapi perlu diperhitungkan juga bahwa kenaikan harga BBM tetap akan menimbulkan keresahan dan mungkin penolakan. Resiko terbesar yang akan dihadapi adalah terhadap perolehan suara bila Presiden SBY mencalonkan diri pada Pemilu 2009. Kenaikan harga minyak akan menyebabkan turunnya popularitas Presiden SBY.

Kampanye Gerakan Berhemat

Presiden SBY bisa saja memulai kampanye Gerakan Berhemat dengan cara yang elegan. Misal melakukan kunjungan tidak menggunakan pesawat kepresidenan, tetapi menggunakan pesawat komersil seperti yang dilakukan oleh seorang presiden dari benua Afrika beberapa tahun lalu. Alternatif lain, Presiden SBY bisa saja mulai kampanye untuk menyumbangkan sebagian besar gaji-nya secara rutin setiap bulan untuk kesejahteraan rakyat.

Tapi yang paling diharapkan masyarakat banyak, Presiden SBY mulai banyak menggiatkan pertemuan, mendengarkan keluhan dan memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat kecil. Presiden harus menjadi contoh dalam melakukan penghematan secara nyata, dalam arti masyarakat melihat keteladanan  dalam melakukan penghematan secara riil, bukan dari sekedar retorika belaka.

*****

8 Mei 2008

 

 

STRUKTUR BIAYA NENAS SEGAR DAN NENAS KALENG 2005 PHILIPINA

Catatan :

1. Struktur biaya ini dikutip dari hasil penelitian dari Univeritas Philipina.

2. Struktur biaya ini perlu dikaji ulang.

Item                    Harga/Biaya per karton (US$)   % bila dijual di Jepang

                           Nenas segar  Nenas Kaleng     Nenas Segar  Nenas Kaleng

———————————————————–

Harga Jual                  10.5              8                      100                100

Perawatan tanaman      3.5             2.5                      33                  31

Bibit                              0.6             0.4                       6                     5

Material Packaging        0.8            1.6                       8                   20

Kaleng                              0            1.2                       0                   15

Label                              0.1            0.1                       1                     1 

Karton                            0.7            0.3                       7                     4

Upah                               1              0.7                     10                      9    

Pestisida                         1.3           0.9                      12                    11

Ocean Freight                 1.9            1.2                      18                    15

Transportasi darat          0.5            0.4                         5                     5     

————————————————————

THE THINGS THEY CARRIED – KENANGAN SANG PRAJURIT, TIM O’BRIEN

Jujur saja, pertama kali saya mendapatkan buku ini karena terdapat tulisan kecil dikulit buku :  “Karya fiksi yang menggetarkan jiwa dan ditulis dengan indah” – THE ASSOCIATED PRESS.

Waktu itu saya berpikir, apakah mungkin cerita perang di Vietnam ditulis sebagai karya sastra ? Cerpen The Things They Carried ternyata mendapat penghargaan National Magazine Award, sedangkan novelnya sendiri yang diterbitkan pada tahun 1990 dipilih oleh para editor New York Time Book Review sebagai buku terbaik tahun itu.

Tim O’Brien, si penulis buku ini, menumpahkan pengalaman perangnya di Vietnam sebagai anggota dari prajurit infantri dari kesatuan Alpa Company bukan dalam bahasa teknis perang, tetapi dituturkan dalam bahasa yang indah dan kelihatannya ditulis dengan jiwa-nya.

Di dalam buku ini, tidak akan ditemui tentang taktik perang seperti strategi pertempuran anti gerilya yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan tentara VC (Vietcong – sebutan untuk pihak tentara komunis).

Tidak ada taktik regu atau peleton dalam melakukan penyergapan atau taktik pertempuran jarak pendek yang biasa dihadapi dalam perang di Vietnam.

***** 

Buku The Things They Carried -Kenangan Seorang Prajurit, yang diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, berisi 22 cerita pendek. Cerpen yang tampil dihalaman pertama tentu saja dengan judul : The Things They Carried, yang diterjemahkan menjadi : Barang Bawaan Mereka. 

Awal keterlibatan Timmy dalam perang yang kelam itu ditemui dalam cerpen yang berjudul : Di Sungai Rainy.

Pada cerpen ini, Timmy menceritakan tentang pergulatan hatinya ketika mendapatkan surat  panggilan wajib militer. 

“Perang bukan levelku. Dunia sudah ada dalam genggamanku – siswa terbaik di kelas, predikat summa cum laude, ketua organisasi kemahasiswaan, dan beasiswa penuh untuk pascasarjana di Harvard”.

“Aku ingat amarah yang berkecamuk dalam perutku, yang kemudian mereda menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan lalu mati rasa”.

Diceritakan, untuk menghindari wajib militer,  akhirnya Timmy kabur ke perbatasan Kanada. Selama enam hari, Timmy mengalami pergolakan batin hebat antara menyeberang ke Kanada atau kembali ke kota asal untuk mengikuti wajib militer.

Selama enam hari Timmy tinggal disebuah pondokan Tip Top Lodge, bertemu dengan pemilik pondokan Elroy Berdahl, orang tua yang arif.

Pada hari ke enam, Elroy mengajak Timmy berperahu untuk memancing di sungai Rainy yang berbatasan dengan Kanada. Timmy menulis dalam cerpennya :

“Aku ingat menatap Elroy, lalu menatap tanganku, lalu Kanada. Garis pantainya tampak penuh dengan semak dan pepohonan. Aku bisa melihat buah yang tumbuh di semak. Aku bisa melihat tupai di atas pohon birch dan burung gagak yang menatapku dari batu besar di tepi sungai. Begitu dekat – dua puluh meter – dan aku bisa melihat jalinan rumit dedaunan, tekstur tanahnya, buah pohon pinus yang cokelat. Dua puluh meter. Aku bisa saja melompat dan berenang demi mencari kehidupannya. Dalam tubuhku, dalam dadaku, aku merasakan tekanan yang amat kuat. Bahkan sekarang, saat menuliskan ini, aku masih bisa merasakan tekanan itu.

Apa yang akan kau lakukan ?

Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis perlahan, bukan tangisan keras, hanya menangis tersedu-sedu. Sepertinya dari semua tempat, dari pohon, air dan langit, kepiluan sebesar dunia sedang menekanku, kepiluan yang berat.

Aku mencoba membulatkan tekadku untuk meloncat keluar perahu.

Aku mencoba, tak bisa.

Itulah yang paling menyedihkan. Dan demikianlah aku duduk di haluan perahu sambil menangis.

Tangisanku sekarang menjadi tangis yang keras dan nyaring”.

*****

The Things They Carried, kisah master piece dalam buku itu bertutur tentang barang bawaan para prajurit ketika melakukan operasi tempur. Selain membawa perlengkapan militer, ternyata mereka membawa beban lainnya.

“Mereka membawa semua beban emosional sebagai orang yang mungkin akan mati. Kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan-semuanya tak bisa dilihat, tapi semua hal yang tidak nyata itu punya massa dan berat jenis sendiri, semuanya punya berat yang bisa dirasakan. Mereka membawa ingatan yang memalukan. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tidak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, atau sembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, karena beban ini tak pernah bisa diletakkan. Beban ini menuntut kesimbangan dan postur tubuh yang sempurna. Mereka membawa reputasi mereka. Mereka membawa ketakutan terbesar seorang tentara, yaitu ketakutan untuk terlihat memalukan. Orang membunuh, dan juga mati, karena mereka malu untuk tidak membunuh. Inilah yang sebenarnya membawa mereka dalam peperangan, tak ada hal yang positif, bukan impian kebanggaan atau kehormatan, hanya untuk menghindari malu karena kehilangan kehormatan”.

******

Perang tidaklah selalu tentang kengerian dan kekerasan. Terkadang beberapa hal boleh dikatakan tampak indah. Misalnya, aku masih ingat seorang bocah laki-laki berkaki plastik. Aku ingat bagaimana ia meloncat-loncat mendekati Azar, lalu minta sebatang cokelat – “GI nomor satu, ” kata si bocah – dan Azar tertawa sambil memberikan cokelatnya. Ketika bocah itu meloncat pergi, Azar berdecak dan berkata, ” Perang memang jahat.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Satu kaki, sunggu jahat. Orang yang menembaknya pasti kehabisan peluru”

Cerita ini akan ditemukan pada cerpen berjudul : Sisi Lain dari Perang.

***** 

Coba simak tulisan Timmy dalam cerpen yang lain : Bagaimana Cara Menceritakan Kisah Perang yang Sesungguhanya.

“Mungkin saja pada intinya, perang hanyalah nama lain untuk kematian. Namun, setiap tentara bisa bercerita – bila ia berkata jujur – bahwa kedekatan dengan kematian membawa pula kedekatan dengan kehidupan. Setelah tembak menembak sengit, selalu ada kepuasan luar biasa bahwa kita masih bisa merasakan hidup. Pohon yang hidup. Rumput, tanah- semuanya. Semua benda di sekeliling kita sungguh hidup, termasuk juga diri kita, dan perasaan hidup itu akan membuat kita gemetar. Kita merasakan keberadaan kuat jiwa raga kita-diri kita yang sejati, sosok manusia yang kita cita-citakan dan kemudian bisa kita wujudkan hanya dengan menginginkannya”.

*****

Tak berlebihan bila Peter S. Presscott dari Newsweek mengomentari buku ini  :

“…O’Brien telah menemukan gaya bercerita yang tepat untuk mengisahkan perang ini : gaya yang membeberkan begitu banyak perasaan, namun tidak cengeng dan tetap terjaga lewat tulisannya yang ringkas dan cukup banyak menampilkan penggalan kejadian yang jenaka ….”

***** 

30 April 2008