Anne Mulcahy, Membangkitkan XEROX dari Kebangkrutan Melalui Sentuhan Humanisme

Ketika Anne Mulcahy ditunjuk menjadi CEO, Xerox sudah mulai tenggelam dalam kebangkrutan. Hutang perusahaan  mencapai US $ 17 milyar dan selama 6 tahun berturut-turut Xerox selalu menderita kerugian.  Yang paling menyedihkan, unit Xerox yang berada di Mexico pada saat itu sedang di investigasi oleh Securities and Exchange Commission.    

Melihat beratnya kondisi Xerox saat itu, banyak orang terkejut dengan penunjukkan Anne Mulcahy sebagai CEO.  Saat itu, pasar saham bereaksi negatif, saham Xerox langsung jatuh 15 persen. Mungkin pasar tahu kalau Anne Mulcahy memang tidak dipersiapkan untuk menduduki jabatan itu.

Kejujuran dan Kepercayaan

Anne Mulcahy masih ingat, ketika Warren Buffet (pemilik saham mayoritas dan CEO pada holding company Berkshire Hartaway) berkata : “Sebenarnya anda tidak dipromosikan. Anda diterjunkan dalam perang”.  

Untuk memenangkan perang tersebut, langkah awal yang diambil Anne Mulcahy dan tim   adalah dengan  memperkuat likuiditas perusahaan.  Memotong capital expenditur sebesar 50 persen; mengurangi sales, general dan administration expenses sebesar sepertiga dari total expenses; memotong hutang hampir setengahnya. Tetapi pada waktu yang bersamaan, Anne Mulcahy tidak menyentuh sepeser pun anggaran biaya Research and Development (R &D). Anne Mulcahy telah memutuskan untuk memperkuat core business dengan lebih fokus terhadap inovasi.  Bagi Anne Mulcahy, dalam kondisi terburuk seperti apapun, investasi (dalam inovasi) harus tetap dilaksanakan.

90 hari pertama, Anne Mulcahy melakukan perjalanan untuk mengunjungi berbagai kantor cabang. Selama waktu itu, ia hanya mendengarkan dan mendengarkan setiap orang tentang apa yang salah dengan perusahaannya.  “I think if you spends as much time listening as talking, that’s time well spent”, kata Anne Mulcahy.

Kejujuran dan kepercayaan adalah modal dalam melakukan komunikasi efektive, terutama dalam kondisi krisis. ”Pada kondisi krisis, anda harus menginformasikan kepada karyawan perusahaan tentang  kondisi sebenarnya yang anda ketahui dan mereka harus tahu bahwa anda mempunyai strategi untuk menghadapi kondisi tersebut. Yang paling penting, anda harus menjelaskan, apa yang dapat mereka lakukan”.

Dengan kondisi yang kondusif, Anne Mulcahy dapat dengan mudah mereduksi tenaga kerja di Xerox dari 96.000 orang menjadi 60.000 orang pada tahun 2000. Bahkan, Anne Mulcahy turut membantu mencarikan pekerjaan bagi 70 % bagi tenaga kerja Xerox yang terkena program pemutusan hubungan kerja. 

Proses Transformasi  

Anne Mulcahy telah menempatkan tenaga kerja sebagai mitra strategis perusahaan. Perspektif karyawan telah dirubah, dari sekedar alat produksi yang harus tunduk dalam teori ekonomi,  disimbolkan dalam angka-angka penentu produktivitas suatu line produksi atau digambarkan sebagai angka-angka dalam laporan keuangan seperti halnya alat produksi lainnya, menjadi sederajat dengan para pengambil kebijaksanaan dalam perusahaan. Melalui pendapatnya (hasil berpikir kreatif-nya), pekerja telah ikut menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai objective yang telah ditetapkan .

Tetapi sebelumnya, Anne Mulcahy telah melakukan positioning dan repositioning untuk mendapatkan tim yang terbaik bagi perusahaan. ” You may have the right people on the bus, but in the wrong seat. They can be posistioned and respositioned for the good of the company”.  Bila semuanya telah sesuai dengan yang diinginkan, maka anda siap dengan semua perubahan positif, katanya.

Tahap yang paling krusial sebenarnya adalah tahap membangun organisasi yang kuat, fleksibel, adaptif dan kompetitif. Organisasi yang kuat, karena Anne Mulcahy telah membuat karyawan merasa telah dilibatkan dalam menyelesaikan krisis.  Karyawan telah diberi peran dan dihargai untuk berkontribusi terhadap perusahaan.

“Pengalaman saya di Xerox, bahwa krisis telah menjadi motivator yang kuat.  Motivasi yang menggerakan anda untuk memilih keputusan yang mungkin tidak akan pernah dipikirkan bila dalam kondisi lain. Motivasi ini memaksa anda untuk mengintensifkan fokus, daya kompetisi untuk mencapai status  : the best in the class.  I want to do everything I can to make sure that we don’t lose  that now that we’re back on track”, katanya.

Berkat sentuhan humanisme Anne Mulcahy, sekarang Xerox telah kembali on track.

***** 

28 Agustus 2007

SUBPRIME MORTGAGE CRISIS – ANCAMAN TERHADAP RAPBN 2008

Pasar saham dunia benar-benar dibuat jatuh bangun oleh krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (AS).

Di Inggris, bursa saham FTSE 100 merugi 4,1 persen atau US $119.14 milliar, dari 6.000 ke 5.858,9 yang merupakan indek terendah sejak September 2006.  Bursa saham Perancis CAC- 40 jatuh 3.3 persen ke angka 5.265,47 merupakan indek terendah pada tahun ini. Bursa saham Jerman DAX terjerembab 2,4 persen ke 7.270,07.

Toronto Stock Exchange mengalami hal yang sama, jatuh hampir 600 point – terbesar selama enam tahun terakhir ke angka 12.848,7.

Indek saham Nikkei 225 ditutup dengan penurunan hampir 2 persen di bursa sahamTokyo Stock Exchange.  Hal yang sama terjadi di bursa saham Korea Selatan mengalami penurunan mencapai 6,9 persen, suatu rekor penurunan hingga saat ini. Di Hongkong, indek saham Hang Seng jatuh 3.3 persen, yang merupakan kejatuhan terbesar selama 2 bulan terakhir.

Bursa saham Mexico City IPC turun sebesar 1,2 persen, setelah mengalami penurunan drastis 6 persen satu hari sebelumnya.  Sedangkan di Brazil, bursa saham Ibovespa mengalami kerugian mencapai 2.6 persen. Sedangkan di Argentina,  Merval mencatat penurunan mencapai 9 persen dengan kerugian mencapai 4.7 persen.

Banyak ekonom di AS yang percaya bahwa bila tidak ada tindakan nyata dari pemerintah maka tragedi ini akan berubah menjadi badai yang menyeret AS ke jurang resesi. Para investor mulai menjerit meminta The Federal Reserve agar  turun tangan untuk menjinakkan turbulensi ekonomi.  The Fed merespon positif untuk mendinginkan gejolak ekonomi AS.  Sebelumnya, Fed telah mengucurkan hampir  US $ 120 miliar ke perbankan untuk membantu likuiditas di pasar finansial, kemudian dilanjutkan dengan memotong suku bunga dari 6,25 persen menjadi 5,75 persen.

Para pengamat ekonomi masih menunggu efek dari keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi 5.75. Mereka berharap pemotongan suku bunga dapat menstabilkan kondisi ekonomi di AS. Tetapi, bila kondisi tidak berubah, maka The Fed sudah mengirimkan pesan untuk memotong suku bunga lebih rendah lagi pada pertemuan tgl 18 September nanti.

Rupiah Terjun Bebas

Imbas turbulensi ekonomi global akhirnya membuat Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta turun 22 persen dari 2.401 pada 24 Juli menjadi 1.908.  Pada perdagangan Kamis (16/8) kurs rupiah melemah dan ditutup pada level Rp. 9.455 per dolar AS, mendekati angka psikologis Rp 9.500. Diduga portofolio dalam bentuk SBI telah dilepas oleh pihak asing (capital outflow) dan selanjutnya ditukar ke dolar AS, sehingga menyebabkan rupiah turun tajam.  

Bank Indonesia (BI) berjanji akan all out untuk menahan laju depresiasi rupiah pada angka Rp. 9.500.  Pemerintah SBY kelihatannya akan sungguh-sungguh dalam menangani pelemahan nilai rupiah, apalagi bila dikaitkan dengan momentum semakin dekatnya dengan akhir masa kepemimpinan SBY. 

Tapi bila mengacu pada RAPBN tahun 2008, dimana pemerintah mengunci nilai tukar rupiah pada level Rp. 9.100 per dolar AS, kelihatannya upaya ini akan menguras cadangan devisa. Alasannya adalah, pertama  : tidak ada jaminan bahwa bila The Fed telah memotong suku bunga menjadi 5,75 maka efek dari gejolak ekonomi global akan segera berakhir. Ini berarti tidak ada jaminan bahwa proses depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan berhenti pada Rp. 9.500. 

Penerimaan dari Sektor Pajak

Target penerimaan dari sektor pajak pada RAPBN 2008 mencapai Rp. 583.7 trilyun terlihat meningkat tajam bila dibandingkan dengan rencana penerimaan dari sektor pajak pada RAPBN-P 2007 yang hanya sebesar Rp. 489.9 trilyun.

Tingginya target penerimaan pajak ini diharapkan mendapat dorongan penuh dari proses revitalisasi di lingkungan Ditjen Pajak yang telah berjalan selama tahun 2006 – 2007 . Tapi masih dipertanyakan ke-efektif-annya dalam upaya pemenuhan target penerimaan dari sektor pajak. Wajar saja banyak orang pesimis dengan kinerja Ditjen Pajak, mengingat selama 2 tahun ini diperkirakan masih mengalami short fall penerimaan pajak. Tahun 2008 merupakan tahun pembuktian apakah proses modernisasi dan perbaikan organisasi di lingkungan Ditjen Pajak  bisa berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan ?

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah : apakah target penerimaan pajak yang demikian meningkat pesat bukan sesuatu yang terlalu optimistik ? Karena konsekuensinya adalah bila penerimaan pajak tidak bisa memenuhi target yang telah ditentukan,  darimana pemerintah akan menutupi defisit anggaran ? Apakah pemerintah akan menutupinya  melalui skema  pinjaman baru atau pemerintah akan “tega” melakukan pemotongan anggaran?

Banyak pertanyaan yang timbul mengenai RAPBN 2008, terutama bila dikaitkan dengan badai yang menerpa pasar saham dan anjloknya rupiah. Yang jelas dan patut digaris bawahi adalah proses normalisasi kurs rupiah akan menguras cadangan devisa,  hal ini yang akan dilakukan oleh BI  sebagai otoritas moneter agar rupiah tetap berada dalam posisi yang aman sesuai dengan perekonomian Indonesia.  

***** 

 19 Agustus 2008

EARNINGS MANAGEMENT, FRAUD ATAU BUKAN ? (I)

Fenomena earnings management seperti dua sisi mata uang. Pada satu sisi terang, earnings management adalah produk yang ‘legitimate’, sedangkan disisi lain (sisi gelap), earnings management dianggap sebagai produk dari suatu tindakan yang ‘immoral’ dan  ‘unethical’.

Earning  management oleh sebagian kalangan dianggap sebagai ‘proffesional judgement’ atas laporan keuangan, tetapi dapat menyesatkan (mislead) pihak stakeholder dalam melakukan interpretasi terhadap performa ekonomi (economic perfomance) suatu perusahaan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen telah dengan sengaja melakukan tindakan manipulasi atau tindakan lainnya yang dapat mempengaruhi laporan keuangan.

Konsekuensinya akan lebih luas bila earnings management dilakukan oleh manajemen perusahaan go publik, pihak insvestor akan terlihat ‘bodoh’ bila mempercayai laporan keuangan tersebut. Biasanya hal ini dilakukan oleh pihak manajemen yang mempunyai keyakinan kuat bahwa pihak insvestor tidak mempunyai akses informasi ke dalam perusahaan, sehingga investor akan melihat laporan keuangan tersebut sebagai laporan yang true report.

Bila manajemen tidak mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan, maka dapat disimpulkan bahwa earning quality telah bernilai positif. Data-data yang dilaporkan berarti dapat  dipercaya dan dapat diandalkan. Tanpa campur tangan earnings management, berarti laporan keuangan telah benar-benar merefleksikan kondisi sebenarnya suatu perusahaan dan akan membantu pihak stakeholder dalam memprediksi performa ekonomi perusahaan tersebut dimasa datang.

Sebagian kalangan – terutama kalangan akademisi, melihat bahwa earnings managemet terlihat “sangat menakutkan”, karena aktivitas  ini sangat berhubungan dengan moralitas dari manajemen.

Motivasi dalam Melakukan Earnings Management

Motivasi untuk melakukan earnings management biasanya timbul akibat “pressure” baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. Pressure dari dalam perusahaan biasanya berhubungan dengan perfoma keuangan yang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Motivasi ini semakin kencang bila performa keuangan berhubungan dengan “reward” berupa insentive keuangan, seperti bonus atau untuk mendapatkan kompensasi yang maksimal.

Sedangkan motivasi dari luar, biasanya justru datang dari pihak top manajemen yang ingin menunjukkan bahwa berkat kepemimpinan mereka performa keuangan perusahaan telah menjadi lebih baik. Terutama bila perusahaan ini adalah perusahaan go publik, maka pihak top manajemen ingin menunjukkan kepada para pemegang saham bahwa kepemimpinan mereka dapat diandalkan. Kecenderungannya akan lebih kuat, bila data aktual hanya berada dibawah sedikit dari target yang diinginkan. Maka earnings management berfungsi untuk “menyempurnakannya” menjadi laporan keuangan yang lebih baik.

Dalam kaitannya dengan pasar modal, earnings management juga dilakukan oleh pihak manajemen bila terdapat “gap” antara perfoma perusahaan dengan ekspektasi dari para analisis pasar modal. Manajemen biasanya secara agresif akan membuat laporan keuangan sesuai dengan “forecast” dari pihak analis pasar modal.

Motivasi lain adalah untuk membuat laporan keuangan lebih atraktif dan menarik dalam upaya mengajukan aplikasi pinjaman (loan aplication) atau melaksanakan IPO (Initial Public Offering).

Bahkan dalam melakukan pengajuan aplikasi pinjaman, terdapat indikasi bahwa earnings  management dilakukan justru untuk membuat laporan keuangan menjadi “sangat menyedihkan”, dengan tujuan untuk mendapatkan belas kasihan suntikan dana dari pihak bank.

Ethical Behaviour

Earning management merupakan suatu tindakan immoral. Walaupun earnings management dibuat berdasarkan Standar Akuntansi yang berlaku, tetapi tidak berarti earnings management merupakan tindakan cerdas untuk melegitimasi fraud.

Sampai saat ini belum ada metoda yang efektif untuk menghapus earnings management dari aktivitas akuntansi. Profesor Michael D. Acker dari Morquette  University menyarankan perlunya edukasi yang membahas earnings management secara luas. Sehingga, akan banyak orang yang dapat mengindentifikasi teknik-teknik earnings management. Edukasi juga bisa dilakukan melalui media bisnis dan profesional yang mengajarkan pembacanya agar dapat mendeteksi earnings management secara praktis.

Beberapa literatur menunjukkan bahwa institusi yang diciptakan oleh investor dapat mampengaruhi, memonitor dan bahkan mendisiplinkan perilaku manajemen. Sedangkan dari internal perusahaan, Board of Director ( BOD) yang berasal dari luar perusahaan cenderung akan bertindak lebih independen, sehingga dapat memonitor dan mengontrol manajemen.

Literatur lain, menyarankan adanya regulasi yang dapat dengan segera mendekteksi adanya earnings management. Dalam regulasi tersebut, diatur tentang berapa jauh manajemen boleh melakukan “judgement” terhadap laporan keuangan melalui earnings management.

*****

17 Agustus 2007

KATROK TAPI PAKAI LAPTOP

Tukul memang lucu dan menghibur. Itu yang membuat orang mau menonton acara Empat Mata.

Sebenarnya siapa sih yang mau menonton wajah “ndeso”, tapi nekad mewawancarai artis cantik ? Tapi justru, kontradiksi ini yang menjadi magnet bagi penonton setia-nya.

Tapi Tukul memang cerdas, format acara Empat Mata dibuat serba kontradiktif dan paradoksal.  Tukul “menentertawai diri sendiri” , sementara artis yang menjadi tamu-nya berpenampilan glamor dan intelek.  

Konsep acara Empat Mata adalah membuat kontradiktif ini menjadi komedi. Mungkin sudah menjadi trademark acara ini. Tukul memerankan dirinya sebagai orang dari desa yang lugu, tetapi harus mengimbanginya tamu-tamu acaranya dengan berusaha mengaktualisasikan sebagai pria metroseksual. Tukul nampak selalu berusaha menjadi “pria yang selalu menjaga estetika penampilan, imaje dan gaya hidup”. 

Yang terjadi adalah komedi yang meng- eksploitasi keluguan Tukul sebagai orang “ndeso” versus Tukul yang “berusaha gaul”. Usaha ini yang menjadi titik sentral dari kelucuan-kelucuan yang timbul dan memancing penonton untuk tertawa.

Superiority Theories 

Teori ini kemukakan oleh seorang profesor philosopy, D. H. Monro dari Monash University. Orang sering tertawa karena melihat ketidak beruntungan orang lain (disandvantage atau misfortune).  Dalam teori ini, orang tertawa karena merasa  berada dalam posisi “superior”.

Teori ini dikembangkan dari teori yang pertama kali dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes mengatakan bahwa :”kita mentertawakan atas ketidak beruntungan (misfortunes)  orang lain”.

Bila dikaitkan dengan acara Empat Mata, maka penonton dikondisikan pada posisi “Superior”, sedangkan Tukul Arwana pada posisi ”misfortune”.  Menurut teori ini, penonton tertawa karena “misfortune” yang “diperankan” oleh Tukul. Penonton menjadi terhibur karena melihat “ke-sial-an” yang menimpa Tukul.

Kembali ke Laptop

“Masak sih, Tukul saja punya laptop, kita nggak punya. Tapi pertanyaannya apakah betul masing-masing anggota bisa mengoptimalkan itu dengan baik. Saya sangsi,” cetus seorang anggota DPR, sepertiyang dikutip oleh Detikcom pada bulan Maret 2997 lalu.

Pernyataan diatas bukan bagian dari acara Empat Mata. Tetapi benar-benar sebuah pernyataan seorang anggota DPR ketika muncul gonjang-ganjing rencana pemberian laptop seharga Rp 21 juta ke setiap anggota Dewan. Rencana ini kemudian dibatalkan akibat tekanan dari masyarakat.

Masyarakat akan meng-kaitkan masalah laptop dengan acara Empat Mata dengan salah satu ” trademark-nya” adalah Laptop.  Wajar saja dalam menentang program pembagian laptop ke anggota DPR, masyarkat akan membandingkan Tukul sebagai seorang komedian dengan anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat yang terhormat. Masyarakat telah melihat kontradiktif : sementara kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, anggota DPR akan mendapat Laptop dengan harga yang sangat mahal.

Contoh diatas adalah suatu keberhasilan dari suatu pementasan sebuah acara komedi, selain keberhasilan untuk menghibur masyarakat.  Sebuah acara komedi seperti Empat Mata dikatakan berhasil bila berhasil melakukan pendidikan kepada masyarakat, selain membuat penontonnya tertawa dan terhibur.

Mudah-mudahan Tukul Arwana tidak berubah. Mudah-mudahan acara Empat Mata tetap dalam format yang sama. Mudah-mudahan penonton tetap terhibur. Mudah-mudahan rejeki-nya Tukul tetap lancar. Amin.

****** 

 11 Agustus 2007

   

INDUSTRI PENERBANGAN MERUPAKAN HIGH RISK BUSINESS

Seorang teman berseloroh. Sebenarnya tanpa dilarangpun, pesawat terbang Indonesia tidak akan pernah sampai ke daratan Eropa.  Selanjutnya, dia menceritakan tentang kasus pesawat Boeing 737-300 tujuan Bandara Hasanudin Makasar yang nyasar ke Bandara Tambolaka NTT  dan berbagai kasus kecelakaan pesawat terbang yang merebak  di tanah air.

Banyak kalangan menuduh bahwa bobroknya keamanan pesawat maskapai penerbangan di Indonesia diakibatkan adanya sistem Low Cost Carrier yang diterapkan secara salah kaprah.

Low Cost Carrier (LCC) Suatu Konsep Memenangkan Kompetisi.

Konsep LCC berasal dari Amerika Serikat (AS) sebelum menyebar ke benua Eropa pada awal tahun 1990-an. Terminologinya berasal dari industri penerbangan yang memiliki struktur operating cost yang rendah atau sangat rendah bila dibandingkan dengan industri penerbangan yang dikelola secara tradisional. Reduksi operating cost dilakukan melalui : sistem penerbangan point to point, reduksi upah buruh, menghilangkan fasilitas servis kepada penumpang selama penerbangan.

Sistem penerbangan point to point bertujuan untuk meningkatkan utilisasi unit pesawat, sehingga turn around menjadi lebih cepat dan biaya penyewaan fasilitas di bandara akan lebih murah.

Wall Street Journal edisi Oktober 2002 menginformasikan bahwa perusahaan LCC memiliki labor cost yang rendah. Sebagai contoh dua perusahaan terkemuka LCC di AS, Southwest dan JetBlue membayar labor cost 30 % – 40 % lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan penerbangan konvensional.

Saving yang ketiga, meniadakan servis selama penerbangan akan menekan biaya sebesar US$ 5 – 10  per penumpang. Dihapuskannya fasilitas makan dan minum berarti meraih saving sebesar 3.2 % dari total cost (Air Transport Association, 2001).

Ciri-ciri bisnis LCC (Wikipedia) adalah sbb :

1. Hanya ada satu kelas dalam penerbangan.

2. Menggunakan satu tipe pesawat, biasanya Airbus A320 atau Boeing 737. Dengan menggunakan satu tipe pesawat berarti mengurangi training cost dan servicing cost.

3. Skema penerbangan yang simple.

4. Tidak ada tempat duduk cadangan. Dengan tujuan agar penumpang segera boarding dan pesawat segera take off.

5. Menggunakan airport yang murah, atau terbang pagi sekali atau malam sekali untuk menghindari penundaan akibat sibuknya airport dan untuk mendapatkan tarif landing yang murah. 

6. Penerbangan jarak pendek dan utilisasi pesawat yang tinggi.

7. Rute penerbangan yang simple, yaitu point-to-point transit. Tujuannya untuk meningkatkan utilisasi pesawat dan menghindari keterlambatan penumpang atau barang akibat keterlambatan dari penerbangan sebelumnya.

8. Fokus pada direct sales, khususnya menggunakan jasa internet. Tujuannya menghindari fee atau komisi yang harus dibayar ke travel agent.

9. Karyawan bekerja dengan berbagai jenis pekerjaan, misal awak kabin juga bekerja membersihkan tempat duduk penumpang. Tujuannya mengurangi biaya tenaga kerja.

10. Eliminasi fasilitas makanan dan minuman gratis selama penerbangan, bahkan digantikan dengan penjualan makanan dan minuman diatas pesawat selama penerbangan.

11. Agresif dalam pengaturan pemakaian bahan bakar pesawat.

Industri Penerbangan Merupakan High Risk Business

Didalam dunia bisnis penerbangan, perawatan pesawat terbang komersil menyerap 30 % – 40 % dari total cost. Untuk pesawat Boeing 737, setelah mencapai 6,000 jam terbang harus dilakukan overhoule mesin dengan biaya mencapai 1 juta dollar AS (Pikiran Rakyat, 15 Januari 2007).

Perawatan pesawat memiliki prosedur yang berlapis dan sangat ketat. Sebagai contoh, pesawat Boeing 737, untuk pemeriksaan harian (daily check) sedikitnya melalui 3 tahapan : pre flight inspection (2 jam sebelum pesawat take off), pemeriksaan pada saat transit kurang lebih setengah jam, dan perawatan harian pada saat pesawat akan diinapkan.

Diluar daily check, dilakukan Three Day Inspection (pemeriksaan pesawat setiap 3 hari). Jika jam terbang Boeing sudah mencapai 125 jam, maka harus dilakukan pemeriksaan ” A Check”, yaitu pemeriksaan sehari penuh. Selanjutnya, setelah beberap jam terbang tetap dilakukan pemeriksaan khusus hingga mencapai 750 jam terbang. Setelah itu dilakukan “B Check” yang dilakukan selama seminggu.

Siklus pemeriksaan dan perawatan tersebut dilengkapi dengan riwayat pemeliharaan pesawat yang dikenal” log-book”. Keluhan pilot yang menyangkut kinerja dari sistem  pesawat dicatat dalam buku ini. Teknisi bertanggung jawab untuk menindaklanjuti kerusakan-kerusakan, juga mencatat perbaikan, penggantian suku cadang, dan sebagainya.

Pemerintah Harus Bertanggung Jawab.

Bila diasumsikan bahwa banyaknya kasus kecelakaan pesawat terbang diakibatkan oleh penyimpangan dalam pengelolaan bisnis penerbangan dengan cara menekan operating cost melalui reduksi biaya perawatan pesawat, maka pemerintah harus dituntut untuk turut bertanggung jawab.

Pemerintah dapat dikategorikan sebagai Primary Stakeholder, karena mempunyai peranan penting dalam menstimulasi dan meregulasi bisnis penerbangan yang dikenal sebagai high risk bisnis.

Peraturan dan perundangan yang berlaku meliputi UU No. 15/1992 tentang Penerbangan, CASR (Civil Aviation Safety Regulation) sebagai standar keselamatan minimum, Petunjuk Pelaksanaan dan Kebijaksaaan sebagi suplement dari CASR.

Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Hubud) menerbitkan dua dokumen yang wajib dimiliki oleh maskapai penerbangan.  Dokumen tersebut adalah AOC (Aircraft Operating Certificate atau Sertifikat Pengoperasian Pesawat) dan setiap bengkel pemeliharaan pesawat terbang wajib memiliki AMO (Approved Maintenance Organization). Selajutnya Ditjen Hubud berperan sebagi pembina pemilik AOC dan AMO, melalui pengawasan, supervisi dan pengendalian.

Kewenangan lain dari Ditjen Hubud yang sangat critical adalah bertanggung jawab dalam penerbitan lisence bagi pilot dan mekanik, juga menerbitkan otorisasi bagi dispatcher (mekanik atau pilot yang mengijinkan pesawat untuk terbang) .  Selain itu Ditjen Hubud masih berperan dalam menerbitkan Certification of Airworthiness (CoA, sertifikat kelaikan terbang) bagi pesawat yang akan beroperasi.

Tidak aneh bila Presiden SBY sempat kesal dan  ”menyentil” Dirjen Hubud akibat  adanyanya larangan terbang bagi pesawat-pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia ke daratan Eropa.  Peranan Ditjen Hubud menurut undang-undang sangat besar dalam bisnis penerbangan, dari pembinaan, pengawasan, pengendalian, hingga penerbitan berbagai macam sertifikat dan lisensi.

Bila terjadi penyimpangan, dapat diduga ada kelemahan dari pihak pemerintah dalam melakukan pembinaan dan pengawasan dalam melaksanakan regulasi yang berlaku.  Dengan kata lain, pemerintah tidak dapat lepas tangan atas segala tragedi yang menimpa dunia penerbangan di Indonesia.

Pada akhirnya, harga tiket murah dalam jangka pendek sangat menarik konsumen, tetapi harga tiket murah bukan berarti maskapai penerbangan boleh mengorbankan keselamatan penumpangnya. 

***** 

 9 Agustus 2007

Note : sebagian materi diambil dari Paper Kasus Adam Air dalam Perspektif Etika Bisnis,  sebagai tugas dalam mata kuliah Etika Bisnis.

KOMPETISI GLOBAL DALAM MENARIK INVESTOR ASING

Dalam 3 tahun kedepan, pemerintah Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang sangat berat : pertumbuhan ekonomi 6.6 % pertahun, menurunkan angka pengangguran dari 9.7 % menjadi 5.5 %, menurunkan angka kemiskinan dari 36 juta orang menjadi 17 juta orang.

Dana yang diperlukan untuk mencapai target tersebut adalah sebesar US$ 426 milyar.  US$ 72.4 milyar diantaranya berasal  dari pinjaman investasi, sedangkan sisanya US$ 353.8 milyar dari sektor swasta (baik dalam negeri maupun luar negeri). 

Kondisi sekarang dimana para investor lebih suka memarkir dana di SUN dan SBI, menyebabkan banyak kalangan mengharapkan adanya gebrakan dari investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Bahkan pada hari Kamis (9/8/2007) di Semarang saat memberi sambutan pada acara Program Semarang Pesona Asia, Presiden Bambang Susilo Yudhoyono (SBY) telah meminta kepala daerah untuk bekerja secara maksimal agar bisa bersaing ditingkat global. Investor asing diharapkan menanamkan modal dan akhirnya memberi kesejahteraan kepada pemerintah setempat dan masyarakat.

Scanning Capability

Mengundang investor asing, berarti harus memahami karakteristiknya.  Investor sebagaimana halnya businessmen menginginkan maximize profit dalam jangka pendek atau mendapatkan return yang rendah tetapi mendapat jaminan keuntungan dalam jangka panjang (long- term capital gain) .

Investor asing tidak saja menginginkan rendahnya biaya material dan upah buruh, mudahnya mendapatkan permodalan yang murah dan tersedianya transportasi yang murah dan  mudah dijangkau,  tetapi juga menginginkan longgarnya regulasi dari pemerintah setempat.  Investor asing seolah-olah mempunyai “scanning capability” untuk membandingkan peluang (opportunity), potensi kendala (problem), dan  kemudahan-kemudahan lain yang didapat dari suatu negara dengan negara lain.

Kondisi ini menyebabkan negara yang menginginkan investasi asing masuk, seakan-akan berkompetisi untuk menarik investor dengan menawarkan berbagai kemudahan. 

Ekspektasi keuntungan yang diperoleh suatu negara dengan adanya investor asing adalah : memecahkan masalah pengangguran dengan terbentuknya lapangan kerja baru, masuknya teknologi baru sebagai upaya mengurangi teknologi gap, mendapatkan tax revenue, memanfaatkan sumber daya alam, dan keuntungan bangkitnya investor domestik sebagai akibat multiplier effect.

Kompetisi Global

Timbul pertanyaan, mengapa disuatu negara banyak dipilih  oleh investor asing, sedangkan dinegara lain tidak ?

Menurut Michael Porter (1990), setidak-tidaknya ada beberapa atribut yang menggiring investor untuk melakukan hal tersebut :

Factor condition, dikenal sebagi  tradisional atau basic factor.  Terdiri dari :

1. Sumber daya alam. Ketersediaan dalam jumlah, kemudahan dan  biaya yang kompetitif  untuk mendapatkan sumber daya alam

2. Sumber daya manusia, meliputi kualitas, jumlah, biaya, faktor budaya dan etika.

3. Infrastruktur, meliputi : kualitas, jenis, biaya transportasi, sistem komunikasi, kesehatan, institusi budaya, dll.

4. Pengetahuan.

5. Sumber permodalan.

 Demand condition, merupakan sifat dari pasar domestik yang tersedia. Terdiri dari : komposisi kebutuhan konsumen,  ukuran dan pola pertumbuhan dari permintaan domestik.

Supporting industry,  merupakan kemudahan  dalam mendapatkan support – terutama ketersedian suplier industri.  Bagi investor asing, peranan suplier ini sangat penting terutama dalam membantu melakukan create new product dan sebagai jalan untuk reduce cost.

Walaupun banyak mendapat kritikan, tetapi setidaknya Washington Consensus (1990) bisa menjadi rujukan. Beberapa diantaranya : disiplin fiskal, pajak yang rendah dan pajak berdasarkan basis broadened tax, interest rate atau liberasasi finansial, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi asing secara langsung, privatisasi, deregulasi aturan mengenai ketentuan keluar masuk barang, kepastian property right.

Untuk pemerintah Indonesia, seperti yang banyak disarankan oleh ekonom adalah : kordinasi yang lebih kuat  antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menyusun regulasi sehingga tidak tumpang tindih, standar regulasi ketenagakerjaan yang fair, penyederhanaan jalur birokrasi  dan upaya yang serius terhadap upaya pemberantasan korupsi.

***** 

9 Agustus 2007