DEBAT CAPRES, BUKAN DEBAT KUSIR

Tidak diragukan lagi debat calon presiden di televisi adalah bentuk dari kampanye politik yang modern.  Tujuannya sama dengan iklan-iklan kampanye pasangan capres dan cawapres yang menjamur di layar kaca,  yaitu meraup suara pemilih sebanyak-banyaknya.

Metode yang digunakan dalam debat di televisi tidak berubah. Moderator memberikan pertanyaan, kemudian masing-masing calon presiden memberikan jawaban.

Jawaban yang dikemukakan oleh capres, tentu saja harus lebih baik dari capres lainnya. Harus lebih menjanjikan berbagai kemudahan dan kesejahteraan – untuk mendapatkan simpati dan suara calon pemilih. Karena debat di televisi adalah salah satu bentuk kampanye, maka isinya sebagian besar adalah janji-janji dari program kerja yang akan direalisasikan bila capres itu terpilih. 

Apakah Debat Dapat Mengkatrol Perolehan Suara ?

 Di Amerika Serika (AS), debat capres di televisi pertama kali diadakan tahun 1960, yaitu debat antara capres Kennedy-Nixon, waktu itu ditonton rata-rata oleh 63.1 juta pasang mata.

Debat capres di AS diidentifikasi kedalam 5 point, pertama : menunjukkan kesiapan untuk menjadi presiden. Kedua : menjelaskan program kerja pemerintahan, ketiga menjelaskan kebijakan yang akan diambil. 

Yang menarik justru pada point ke empat : respon bertahan bila capres  lawan  mengkritik atau menyerang jawaban. Sedangkan point ke lima adalah menyerang balik atau mengkritik balik argumen dari capres lawan.

Capres harus menunjukkan bahwa tiga point pertama harus lebih baik dari kandidat lain, sedangkan pada point empat dan lima seorang capres prinsipnya harus secara efektif  mengkritik kelemahan capres lainnya.

Dengan demikian, audience akan melihat semua kelebihan dari seorang capres dan justru melihat kelemahan dari capres yang lain.  Selanjutnya audience akan menilai dan menimbang kemana suaranya akan disalurkan.

Debat Cawapres di Indonesia

Perlu ada penelitian apakah debat cawapres di Indonesia  akan mengkatrol perolehan suara capres pasangannya ?  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa debat cawapres hanya memberikan dampak yang kecil dan terbatas. Kecuali bila cawapres bisa menunjukkan visi yang lebih baik dari pasangan capresnya sendiri.

Mungkin perlu ada pertanyaan “nakal” dari moderator untuk cawapres : “Apa yang akan dilakukan bila capres (bila terpilih) kemudian tidak dapat melanjutkan tugas-tugasnya (misal : karena meninggal dunia) ?

Pertanyaan ini akan melihat apakah cawapres mempunyai ambisi untuk menggantikan presiden (pasangannya)  dipertengahan waktu kekuasaaannya. 

*****

26 Juni 2009

KONFLIK AMBALAT, SIAPA YANG MENANG ?

Provokasi kapal patroli Malaysia di perairan Ambalat yang kaya akan minyak dan gas bumi  telah memicu ketegangan politik kedua negara.  Kapal-kapal perang TNI AL didukung oleh pesawat-pesawat pengintai meng-counter dengan melakukan patroli laut yang lebih ketat.

Mengapa Tentara Diraja Malaysia berani melakukan tindakan tersebut ?

ALUTSISTA TUDM

Dibandingkan dengan TNI AU, Royal Malaysia Air Force atau TUDM (Tentara  Udara Diraja  Malaysia) memang memiliki alutsista yang lebih baik.  Ujung tombak TUDM didukung oleh skadron  F/A-18 D Hornet yang dimodernisasi menjadi F/A-18 F Super Hornet  dengan basis di Kuantan AB dan 18 unit SU-30MkM Sukhoi yang dibagi menjadi 2 skadron (home base di Kuantan AB).  Selain itu TDUM masih memiliki skadron Mig -29 (home base di Kuantan AB), Hawk 208 (home base di Kuantan AB dan Butterwoth AB), Hawk 209 (home base di Labuan AB) , F-5E, F-5F dan F5E Tiger II (home base di Butterworth AB) dan Beech 200T di Subang AB. 

Pesawat transport meliputi pesawat angkut berat C-130 Herkules dan dilengkapi dengan  KC-130 H untuk pesawat tanker (home base di Subang dan Labuan AB). Pesawat angkut ringan dan VIP antara lain adalah DHC 4 Caribou, Fokker F-28 Fellowship, Dassault Falcon 90, CN 235 yang tersebar di Kuching AB dan Subang AB.

 Skadron helikopter terdiri dari Sikorsky S61A-4 (multi purpose), Mi-171Sh,  Agusta Sikorsky A56-N1, Agusta Sikorsky A-109C, Sikorsky S-70 Black Hawk. TUDM bahkan didukung oleh pesawat UAV dari tipe CTRM Eagle ARV.

Kekuatan udara Malaysia kemungkinan menjadi kunci kekuatan Malaysia untuk berperang dengan Indonesia. Skenario yang mungkin dilakukan adalah : pesawat jet tempur melakukan serangan secara serentak terhadap satuaan radar TNI AU, pangkalan pesawat tempur TNI AU, pangkalan TNI AL, dan pusat-pusat logistik lainnya disekitar Ambalat. Sementara kapal cepat dan kapal selam melakukan operasi penghancuran kapal-kapal perang TNI AL di perairan yang tersebut. 

Untuk meng-conter serangan Malaysia, batalyon-batalyon infantri TNI AD  kemungkinan akan digerakan ke perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Utara, baik melalui penyusupan, duel arteleri dan serbuan langsung.   Pasukan TNI AD kemungkinan akan berhadapan langsung dengan pasukan darat dari Divisi 3 dan 4 serta resimen-resimen Askhar Wathaniah.  Marinir TNI AL akan bertempur di pulau Sebatik dan perairan di Kalimantan Timur.

Perang Terbatas

Malaysia tidak akan berperang difront pertempuran yang luas. Target yang masuk akal adalah menguasai perairan Ambalat, dan menguasai beberapa daerah atau pulau seperti pulau Sebatik dan beberapa kilometer masuk ke wilayah Indonesia di pulau Kalimantan Utara.

Setelah tujuan tercapai, Malaysia akan segera menarik Indonesia ke meja perundingan. Targetnya jelas, di meja perundingan Malaysia akan menawarkan untuk melepaskan daerah-daerah yang diduduki, tetapi dengan konsesi :  tidak akan mundur di Ambalat.

Perebutan wilayah yang telah diduduki oleh Malaysia mirip dengan skenario  Latgab TNI beberapa waktu lalu. Tetapi kecepatan operasi tempur TNI harus lebih cepat daripada kesepakatan di meja perundingan. Kecepatan menjadi kata kunci dari keberhasilan operasi tempur TNI.  Untuk mengirim pasukan secara cepat ke daerah konflik, maka operasi tempur TNI diperkirakan dilakukan melalui operasi penerjunan pasukan linud. Ini berarti TNI AU akan banyak melibatkan skadron pesawat angkut berat C-130 Hercules dengan dikawal oleh pesawat jet tempur.   Sementara mobilitas pasukan didarat banyak ditentukan oleh kesiapan helikopter angkut dalam melakukan mobilisasi udara.  Yang jadi pertanyaan apakah : pesawat Hercules, helikopter angkut dan jet-jet tempur sudah siap melayani operasi tempur seperti itu ?

Dalam skenario ini, bila TNI tidak segera merebut kembali daerah-daerah yang diduduki Malaysia, maka Malaysia akan memperoleh keuntungan diplomasi di meja perundingan.

Pada akhirnya, untuk disegani oleh pihak lain, TNI harus lebih kuat di lingkungan ASEAN.  Selama kekuatan TNI lebih lemah dibandingkan dengan negara-negara lain, maka ancaman kedaulatan RI akan terbuka.

***

10 Juni 2009

PRITA SUDAH MEMENANGKAN SETENGAH PEPERANGAN

Media mungkin lebih berpihak kepada Prita Mulyasari – penulis keluhan pelayanan RS Omni Internasional via surat elektronik yang kemudian diganjar hukuman penjara.

TV dan surat kabar lebih banyak menggambarkan Prita sebagai Ibu yang innocent, taat beribadah, ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang lucu.

 Seorang ibu rumah tangga yang baik tetapi harus menjalankan episode kehidupan yang kelam - kehidupan seorang ibu bagi kedua anak balitanya direnggut dengan paksa oleh suatu tindakan yang dinilai oleh banyak pendukung Prita sebagai suatu kebiadaban.

Komnas Ham kemudian menilai tindakan RS OMNI Internasional sebagai tindakan melanggar HAM ! Bahkan kalangan DPR menilai RS OMNI Internasional sebagai pihak yang bersalah sehingga merekomendasikan pemerintah untuk mencabut ijin Rumah Sakit tersebut. Sementara pihak Kejaksaaan telah memeriksa dua orang Jaksa Penuntut yang telah mencantumkan pasal 27  ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik  dalam tuntutan pengadilan sehingga Prita harus mendekam dipenjara selama 3 minggu,  sekali lagi – hanya karena Prita  menulis keluhan pelayanan dari RS OMNI Internasional.

Dalam perang selalu ada yang menang dan kalah. Media telah memenangkan sebagaian pertempuran  Prita, sedangkan RS OMNI Internasional secara beruntun mulai menuai kekalahan.

 Seandainya Prita berhasil dikalahkan dalam pengadilan oleh RS OMNI Internasional, sebenarnya bukan kemenangan yang akan diraih oleh pihak RS OMNI Internasional tetapi merupakan awal dari pahitnya kekalahan.

Semua orang akan takut untuk memakai jasa di RS OMNI Internasional : takut akan terjadinya kesalahan (seperti yang dikeluhkan Prita), hingga takut akan dituntut di pengadilan.

Kekalahan RS OMNI Internasional akan berujung pada mundurnya kinerja. Customer akan takut untuk berobat di RS OMNI Internasional, calon pasien akan memilih Rumah Sakit lain.  Kerja sama bisnis dengan berbagai pihak akan mengalami kebuntuan bahkan kehancuran.  Bahkan nama baik RS OMNI Internasioanl  akan turut hancur.

Semua pihak  menunggu tindakan  “smart” dari RS OMNI Internasional dalam menyelesaikan kasus ini. 

Hingga saat ini, dalam pemikiran banyak orang : customer adalah raja. Customer yang puas akan menjadi pelanggan setia, bahkan akan menjadi media promosi yang ampuh untuk merangkul pelanggan lain.

***

9  Juni 2009

HUMOR PILEG : NGGAK KEPILIH NGGAK PATHEKEN, TAPI KOK JADI GEMBLUNG ?

Harian Kompas edisi Minggu 5 April 2009 menulis tentang kesiapan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dibeberapa daerah untuk menampung caleg yang gagal terpilih. Seolah-olah tersirat bahwa para caleg yang sekarang sedang menunggu hasil perhitungan suara ini merupakan mahluk yang sedang diuji kewarasannya.

Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD)  Atma Husada Mahakam di Samarinda mempersiapkan ruangan Instalasi Pemulihan Ketergantuan Napza untuk menampung caleg yang gagal dan kemungkinan mengalami gangguan kejiwaan. Rumah sakit lainnya yang bersiap-siap adalah RSJ dr H Marzoeki Mahdi Bogor, RSJ Dr Soeharto Heerdjan di Grogol Jakarta,

Masa pencontrengan merupakan deadline bagi para caleg. Bila hasil perhitungan suara memberikan hasil yang memuaskan bagi si caleg, berarti peluang menjadi gendheng lebih kecil. Sedangkan untuk caleg yang tidak terpilih, maka RSJ sudah siap menampungnya. Si caleg yang gagal dan menunjukkan gangguan kejiwaannya harus segera mendapatkan tindakan medis untuk proses penyembuhan ke-gila-annya.

Menggadaikan Rumah

Maka untuk memperoleh suara agar bisa terpilih, banyak cara yang dilakukan oleh caleg. Bagi caleg yang ber-duit, maka seluruh harta kekayaan dipertaruhkan.

Untuk tahap pertama, si caleg berusaha agar menjadi nomor jadi. Itupun, konon memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tapi untunglah,  peraturan menunjukkan bahwa terpilih tidaknya seorang caleg tidak ditentukan oleh nomor urut, tetapi ditentukan oleh jumlah suara yang diperolehnya.

Untuk tahap kedua, si caleg mengeluarkan biaya untuk “promosi” pada masa kampanye, tujuannya untuk menggaet simpati masyarakat luas. Tidak aneh bila dalam masa kampanye, muncul iklan si caleg di program TV, iklan di koran, maupun billboard, spanduk, pamflet hingga sticker yang ditebar kepenjuru arah angin. Tidak ada sudut jalan yang tidak berhias wajah caleg, baik melalui billboard mapupun spanduk.  Biaya promosi semakin membludak bila si caleg harus mengeluarkan biaya lain-lain seperti : biaya pembuatan kaos, bendera, menyiapkan panggung terbuka dan honor artis-nya sekalian, apalagi kalau mengundang artis ibukota.

Tidak mengherankan bila pada masa kampanye ada caleg yang sampai menjual atau menggadaikan rumah dan kendaraannya hanya untuk biaya promosi.  Bagi caleg yang “kreative”, mungkin bisa melakukan tindakan apa saja yang penting menghasilkan uang. Misal caleg DPRD Kabupaten Pandeglang , Romdoni (31), ditangkap polisi karena kasus penggandaan uang. Caleg DPRD Lebak Ujang Zaenal Abidin (40) dicokok polisi karena diduga mendalangi penjarahan kelapa sawit. Contoh yang dramatis mungkin bisa diangkat dari tertangkapnya anggota DPR Komisi V Abdul Hadi Djamal  oleh KPK karena korupsi – yang kemudian dipecat keanggotannya dari PAN, salah satu alasannya adalah untuk membiayai sosialisasi pen-caleg-annya.

Bagi caleg yang kurang mampu, cukup dengan program kampanye bersih-bersih kuburan, selokan, atau sekedar memberikan setangkai bunga dan stiker kecil.

Untung caleg juga manusia yang diberikan banyak akal. Bagi caleg yang tidak mampu, cukup dengan mengunjungi rumah ke rumah (dikenal sebagai kampanye pintu ke pintu). Bahkan bagi caleg yang  sama sekali tidak mampu, cukup dengan puasa sebulan penuh selama masa kampanye. Lha, mau apalagi ?

Gambar Caleg

Menarik untuk menyimak gambar-gambar caleg saat promosi pada masa kampanye. Dari pose normal seperti : mengacungkan tinju, melambaikan tangan atau hanya sekedar gambar pas foto dengan senyum sumringah.

Beberapa caleg berusaha menarik para penjalan kaki, dengan menampilkan foto-fotonya secara menarik (minimal menurut caleg sendiri), seperti : berpose dengan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, pemain sepak bola David Beckham, hingga  pose yang nyeleneh.   

Misal caleg memakai sergam Superman, berlatar belakang kepala harimau (mungkin supaya terlihat gagah), atau bahkan berlatar belakang  kepala monyet (ini mungkin mengingatkan kita pada teori Darwin).

Ada caleg yang berpakaian adat lengkap bak raja jaman dulu dengan bintang jasa (?) di dadanya.  Tetapi pada umumnya berpakaian jas seragam warna partai, atau jas hitam lengkap dengan dasi.  Beberapa caleg berpenampilan sederhana, cukup dengan kemeja putih dan pici warna hitam.

Yang tidak bisa dilepaskan adalah adanya figur-figur terkenal disebelah foto si caleg.  Figur itu kalau tidak Ketua Umum Partai, bisa juga artis yang kebetulan memiliki pertalian darah.  Di Jawa Tengah bahkan ada caleg yang melengkapinya dengan daftar sisilah raja-raja,  mungkin ingin menunjukkan bahwa si caleg masih ada kaitan silsilah raja-raja jaman dulu.

Lalu bagaimana bila si caleg tidak terpilih ?  Bisa dipastikan, harta kekayaan yang dipertaruhkan lenyap. Dari seseorang yang kaya raya,  tiba-tiba hartanya lenyap begitu saja – bahkan mungkin ditambah dengan pinjaman bank –  sejalan dengan buyarnya impian.  Si caleg terguncang jiwanya.

Pileg periode ini memang luar biasa.  Lebih dari sekedar bermain di meja judi, selain mempertaruhkan kekayaan, ternyata sebagian caleg mempertaruhkan kewarasannya.

Bila nanti, ada anggota keluarga atau tetangga, yang sempat men-caleg-kan diri tiba-tiba berubah perangainya.  Menjadi pendiam, atau ngomong tidak nyambung, atau berperilaku aneh, maka jangan ragu-ragu bawalah  segera ke RSJ !

****Medio April 2009

KESERAKAHAN SI PENJUAL KURSI..

Bangsa Amerika Serikat ternyata masih belum belajar dari kasus subprime mortgage yang kemudian menjadi tragedi tsunami ekonomi yang terus meluas melanda dunia.

Keserakahan dengan membuat persyaratan yang demikian mudah untuk mendapatkan  kredit perumahan (mortgate),  sehingga kredit sejenis KPR ini  masuk dalam rating subprime. Kredit yang berkatagori resiko tinggi tersebut kemudian dikemas sedemikian menariknya untuk mendapatkan fasilitas hedging (lindung nilai). Selanjutnya, dilepas di pasar bursa. Akibatnya, begitu kredit menjadi macet, bencana menyebar kemana-mana.  Amerika Serikat sendiri kemudian menuai krisis ekonomi yang demikian parah. Negara adi daya tersebut tenggelam ke dalam resesi ekonomi yang bersumber dari keserakahan bangsa tersebut.

Entah apa yang sebenarnya sedang  terjadi di negara Paman Sam. Entah apa pula yang  ada dalam pikiran Gubernur Illinois Milorad “Rod” R. Blagojevich, kursi senat yang kosong yang ditinggalkan oleh Barack Obama kemudian “dijual”, lebih tepat-nya dilelang kepada  seseorang yang berani membayar dengan harga tinggi kursi senat tersebut. Keserakahan telah menutup mata hati seorang Blagojevich yang sebenarnya telah memimpin Illinois sejak tahun 2003.   

Hanya dalam hitungan hari, Rod Blagojevich tersungkur dari jabatannya. Impeachment yang dilakukan oleh House of Representatif -nya Illinois tanggal 8 Januari 2009 menghasilkan dukungan suara  114 – 1 untuk mencopotnya dari kursi gubernur,  dilanjutkan dengan dukungan  penuh oleh Senat Illinois dengan mendapat 59 suara melawan 0 pada tanggal 29 Januari 2009.   Akibatnya, Rod Blagojevich terpental dari kedudukannya sebagai Gubernur Illinois. Nama dan foto Blagojevich dihapus dari website pemerintah negara bagian tesebut. Blagojevich harus menyerahkan kursi jabatan gubernur Illnois karena telah melakukan tindakan yang dikatagorikan  “alleged abuses of power and alleged abusses attempt to sell gubernatorial appointment and legislative authorization and/or veto to the higgist bidder”. Lebih jauh lagi,  pemerintah Federal sedang menyusun tuntutan dugaan korupsi terhadap Blagojevich. 

Kasus ini mendapat perhatian serius dari Presiden  terpilih Barrak Obama, mantan Senator Illinois. Presiden Barrack Obama sempat berkomentar tentang kasus ini setelah impeachment diberlakukan : ” Hari ini adalah akhir dari hari-hari yang menyakitkan bagi Illinois. Beberapa bulan lalu pemerintahan (di Illinonis) telah mengalami krisis kepemimpinan. Tetapi sekarang kebenaran telah terungkap”.

Di Indonesia, kasus korupsi dengan cara men-jual kursi legislatif mungkin sangat jarang terjadi. Yang mungkin terjadi di Indonesia adalah menjual kursi, meja bahkan mungkin bangunan kantornya sekalian…..

5 Desember 2009

KONVERSI MINYAK TANAH KE ENERGI NUKLIR…..

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada pembukaan perdagangan Bursa Saham tahun 2009 sempat menyesalkan ketidak profesionalan para pejabat Pertamina, berkaitan dengan ketersediaan BBM beberapa waktu lalu.

Presiden SBY berhak marah dan menegur Pertamina. Program konversi minyak tanah ke LPG yang gencar dilakukan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM, berakhir semrawut.  Ketika sebagian besar penduduk melaksanakan program pemerintah dengan meng-konversi minyak tanah ke LPG, ternyata LPG 3 kg lenyap dari muka bumi. Truk-truk pengangkut tabung LPG harus mengantri di pelataran parkir  dan jaln masuk stasiun pengisian LPG.  Tentu saja, ditingkat pengecer sulit menemukan LPG 3 kg dan LPG 12 kg, kalaupun ada sangat sedikit dan dijual dengan harga yang lebih mahal.

Pihak Pertamina tentu saja berkelit dengan mengajukan alasan Unit Pengolahan Balongan sedang menjalani program maintenance rutin, ditambah dengan alasan masalah jalur suplay yang terhambat. Detail alasannya adalah : kapal pengangkut LPG sulit merapat ke pelabuhan karena ombak besar, pembangunan tanki penimbunan sedang dalam tahap penyelesaian, dan lain-lain. Tidak lupa, setelah mengemukakan berbagai permasalahan, diikuti dengan janji-janji tentang jaminan kelancaran suplay di kemudian hari….   

Maka berita-berita di TV dan Surat kabar dipenuhi dengan berita tentang warga yang meng-antri LPG, meng-antri minyak tanah yang hampir dinyatakan punah, atau tentang keluh kesah pedagang kecil yang terpaksa mengikat lebih erat perutnya karena tidak dapat berjualan lagi akibat sulitnya mendapatkan LPG 3 kg andalannya.

Akhirnya masyarakat kembali melakukan program re-konversi LPG ke kayu bakar untuk sekedar menyambung hidup.  Untung ada kayu bakar, sehingga program konversi ini berjalan sukses tanpa perlu campur tangan pemerintah.

Suatu saat nanti di negeri yang kaya ini, bila pemerintah mengadakan konversi energi dari LPG ke energi Nuklir, mungkin perlu belajar dari pengalaman buruk saat mengkonversi minyak tanah ke LPG. Jalan yang paling mudah, siapkan saja kayu bakar, itupun kalau kayu bakar masih mudah ditemukan.

INFORMASI ASIMETRIS TRAGEDI GAZA…

Sudah hampir beberapa minggu ini, setiap saat informasi tragedi Gaza hadir di dalam ruang keluarga. Isi informasi bisa dikatakan seragam, kecanggihan mesin perang Israel yang meluluhlantakan setiap nurani yang menyaksikannya. Jet-jet tempur F-16I dan Helikopter serang AH 64-Apache menembakkan peluru kendali ke sasaran yang telah ditentukan dengan akurat.

Di darat, arteleri IDF (Israel Defence Force) menembakkan peluru penghancur ke seluruh bagian kota Gaza. Untuk mengkoreksi kordinat tembakan, dipastikan Israel menempatkan pointer di Gaza. Dipastikan pointer dapat berupa helikopter maupun mata-mata Israel yang bergerilya di Gaza. Akibat pemboman yang masif, baik dari serangan udara, darat maupun dari kapal perang Israel, menghasilkan puing-puing kota dan asap hitam kehancuran yang memenuhi udara.

Sementara dari pihak Hamas,  tanpa ada payung udara berupa radar dan peluru kendali darat ke udara yang memadai, menyebabkan pesawat-pesawat tempur Israel merajalela dalam menghancurkan target di darat. Rudal darat ke darat yang dilepaskan pihak Hamas tidak memberikan hasil yang menghancurkan karena hanya bersifat psikologis.

Di layar kaca, disuguhkan hampir setiap waktu di ruang keluarga selain menampilkan kisah sukses proses penghancuran kota Gaza, juga memperlihatkan lembaran hitam tragedi kemanusiaan yang membuat trenyuh dan menggedor rasa solidaritas. Coba simak apa yang ditampilkan : tentang anak-anak korban perang yang menangis dengan wajah bersimbah darah,   atau tentang seorang Bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarga karena rumahnya hancur terkena bom Israel. Mayat-mayat penduduk kota  yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan kehancuran gedung-gedung disepanjang sisi jalan itu. Rumah sakit yang sibuk menerima korban-korban baru, tanpa ada support obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.

Kondisi Gaza memang mirip kondisi : kehancuran Hirosima dan  Nagasaki yang di bom atom oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II ditambah dengan tragedi kemanusian Ethiopia beberapa tahun lalu digabung dijadikan satu.

Sehingga logis, bila respon dari sebagian besar penduduk dunia adalah sama. Memprotes serbuan tentara Israel yang menimbulkan korban di pihak sipil, memprotes blokade Israel karena rumah sakit-rumah sakit tidak memiliki tenaga medis dan obat-obatan yang memadai untuk mengobati korban perang, hingga pada respons untuk membuka pendaftaran jihad bertempur melawan tentara Israel  di tanah Palestina. Apakah ini tidak berlebihan ?

Untuk mengalahkan tentara Israel di medan perang Gaza tidak cukup dengan semangat. Keberhasilan pejuang Hezbollah mengalahkan tentara Israel di Lebanon, karena mereka mendapat pelatihan yang ketat dan disiplin, boleh dikatakan sebagai pelatihan pasukan komando. Pejuang Hezbollah membentuk unit-unit tempur yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang independen. Mereka menguasai medan tempur dan dengan mental juang yang kuat, sehingga dengan modal senjata serbu dan senjata anti tank, mereka berani berhadapan dengan pasukan komando Israel yang didukung oleh persenjataan canggih seperti Tank Merkava, tank paling handal di dunia. Padahal dalam setiap pergerakan tempurnya, tentara Israel selalu didukung oleh tembakan bantuan baik dari satuan alteleri maupun tembakan dari pesawat tempur   secara on call.

JALUR GAZA….

Mungkin sudah taqdir, tidak akan ditemukan merpati putih perdamaian di Jalur Gaza (Gaza Strip).  Mungkin sudah takdir pula, tanah Gaza adalah tanah yang paling berdarah-darah di muka bumi ini.

Serbuan Israel pada minggu terakhir di bulan Desember 2008, sangat mematikan. Peluru kendali yang diluncurkan dari heli serang AH-64 Apache dan pesawat jet tempur F-15 dan F-16 seakan mempunyai mata elang yang tajam  untuk menghantam target penting di Gaza secara akurat. Serangan udara (air strike) yang didukung dengan unit UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Hevron, kelihatannya merupakan sebuah pre-emption assault, sebelum ditutup dengan serbuan Angkatan Darat.

Darah membanjiri tanah Gaza. Isak tangis penduduk kota bercampur dengan riuhnya dentuman bom memenuhi langit di kota Gaza yang muram.  Perang asimetris, perang tidak seimbang ini telah memakan korban ratusan jiwa melayang dan melukai ribuan penduduk lainnya.  Perang memang tidak memiliki nurani dan belas kasihan.

Sementara itu diperbatasan Gaza Israel, puluhan ribu pasukan angkatan darat dengan didukung Main Battle Tank (MBT) paling andal di dunia tank “pelumat” Merkava telah bergegas menunggu perintah pimpinan IDF  (Israel Defence Force) untuk menyerbu masuk ke tanah yang sudah porak poranda.  Pimpinan militer masih menunggu apakah kondisi di Gaza sudah terbebas dari ancaman pejuang Hamas, terutama bebas dari ancaman persenjataan alteleri Hamas. 

Bagi petinggi militer Israel, ancaman dari pejuang Hamas masih terlihat menakutkan, terutama peluncur roket tipe Katyusha, anti tank konvensional RPG, peluru kendali anti tank Metis,  mortir, pelontar granat anti personal dan berbagai senapan serbu yang dimiliki Hamas terutama : Kalaniskov AK 47.

Satu hal lagi yang dipertimbangkan oleh pimpinan militer Israel, adalah daya juang pejuang Hamas. Pimpinan Israel tidak mau pukulan telak yang memalukan yang diterima dari pejuang Hezbolah di Lebanon terulang di Gaza.

Pertempuran di Gaza, diperkirakan memancing negara-negara Arab pendukung Hamas untuk bereaksi. Mungkinkah perang di tanah Palestina merupakan awal dari perang dunia ?

SEPATU SONTOLOYO….

Sepatu adalah alas kaki. Membungkus kaki, agar kaki tidak langsung menginjak kerikil tajam yang menyakitkan atau kotoran yang bau dan menjijikkan.

Oleh sebab itu, semahal-mahalnya sepatu, baik sepatu baru atau sepatu yang sudah kusam akan selalu berada di ”tataran” paling bawah : melindungi si-empunya kaki. Entah itu melindungi kaki anak sekolah, wartawan atau seorang presiden sekalipun…

Tapi apa jadinya bila sepatu yang berada pada posisi “hina” dilemparkan ke kepala seorang Presiden negara adi daya seperti Amerika Serikat ?

Bukan berarti sepatu sontoloyo tersebut telah mbejujak, telah “kurang ajar” naik peringkat ketataran yang lebih tinggi, ke kepala seorang manusia yang kebetulan menjabat Presiden di negara adi daya Amerika Serikat.  Bahkan, andaipun sepatu itu bertengger di kepala siapapun, sepatu tetap adalah sepatu. Sepatu hakekatnya adalah pelindung kaki, tempatnya ya di telapak kaki. Sedangkan kepala tetap eksis  berada di atas - diposisi yang luhur dan tidak akan pernah memakai sepatu untuk melindungi kepala.

Itu sebabnya, Presiden Bush berhasil dengan “sukses” menghindar lemparan sepatu wartawan Irak Az – Zaidi hari Minggu 14 Desember lalu. Presiden Bush memahami  sepenuhnya bahwa sepatu adalah sepatu : sepatu letaknya dibawah – dikaki, bukan diatas kepala. Sepatu melindungi kaki dari kerikil yang tajam dan kotoran yang bau dan menjijikan.

Presiden Bush pasti paham, bila sepatu mengenai kepalanya itu berarti bukan saja penghinaan besar terhadap eksistensi manusia tetapi juga penghinaan besar terhadap negara adi daya Amerika Serikat. Dan untunglah, Presiden Bush mempunyai pemahaman kuat tentang itu….

Desember, 24 2008

TRAGEDI MUMBAI : SERBUAN TERORIS ALA PASUKAN KOMANDO

Terlepas dari telah bermetafosis-nya ancaman teror dari serangan bom hingga serbuan secara terbuka, serbuan teror di Mumbai telah membuka mata dan memberikan banyak pelajaran bagi unit-unit anti teror di seluruh dunia.

Teror Ala Serbuan Pasukan Komando

Serbuan teroris di Mumbai telah dirancang secara baik, hal ini diakui oleh Roger W. Cressey mantan pejabat antiteroris Gedung Putih pada era Bill Clinton dan George Bush. Informasinya, untuk mempelajari secara detail peta kota Mumbai dilakukan melalui pencitraan satelit dari Google Earth.  Dari data dan peta kota Mumbai, teroris melakukan interpretasi data secara baik, interpretasi  berupa kondisi medan, cuaca, waktu yang dibutuhkan dan kemungkinan posisi aparat keamanan India ditempatkan.  Yang paling mengejutkan, teroris dilengkapi dengan alat GPS genggam dan alat komunikasi walkie-talkie serta handphone atau alat komunikasi via internet (voice-over-internet telephone services).

Kemampuan para teroris dilaporkan sangat terlatih bahkan dilaporkan dilengkapi dengan pelatihan pendaratan laut dan menyiapkan pantai pendaratan sebagai pangkalan aju dalam serbuan tersebut.

10 orang yang dilaporkan melakukan serbuan bunuh diri ala pasukan komando, dibagi menjadi tim-tim kecil yang terdiri dari 2 hingga 4 orang. Masing-masing tim dilengkapi dengan persenjataan infantri ringan, yaitu senapan serbu AK 47, granat dan cadangan amunisi. Beberapa tim dilengkapi dengan personal yang mempunyai kemampuan merakit bom (RDX). Serbuan dirancang secara baik, mereka melakukan pengalihan perhatian keamanan India dengan meledakan bom mobil dan melumpuhkan aparat keamanan India  sebelum menyerang target-target yang telah ditentukan.

Target serbuan sudah ditentukan yaitu : stasiun kereta api tersibuk di dunia Vhhatrapati Shivaji, Nariman House – bangunan milik kelompok Yahudi Ultra-Ortodok, restoran Leopold tempat populer dikalangan turis, Hotel mewah bintang lima Hotel Oberoi, Hotel Taj Mahal Palace and Tower – sebuah hotel mewah dan terkenal sejak 1903.

Pasukan komando India (kemungkinan besar pasukan elit anti teror India  Black Cat dilibatkan) perlu waktu hampir 60 jam untuk bertarung dalam pertempuran heroik jarak pendek (CQB : Clossed Quater Battle) dari kamar ke kamar di Hotel Taj Mahal  untuk membebaskan sandera dan menguasai hotel.

Pelajaran Berharga Bagi Pasukan Anti Teror Indonesia

Perspektif  ancaman teroris sudah berubah dari ancaman bom hingga sekarang serbuan secara terbuka ke tempat-tempat strategis secara serempak. 

Teror telah berubah dari bentuk teror klasis berupa teror bom seperti di Bali berupa teror bom mobil yang diledakan dari jarak jauh maupun teror bom bunuh diri, tetapi kini teroris telah berani unjuk kekuatan dengan melakukan serbuan secara frontal ke pelbagai tempat secara serempak seperti yang terjadi di kota yang berpenduduk hampir 18 juta orang dan simbol kejayaan ekonomi India.

Efeknya adalah pengamanan kota-kota besar di Indonesia sudah harus dirubah kedalam skala pengamanan terhadap serbuan teroris seperti yang terjadi di Mumbai. Kemungkinan yang menjadi masalah adalah tidak semua kota besar di Indonesia di back up oleh unit-unit pasukan  anti teror (kecuali Detasemen 88 Polri yang ada disetiap Polda). Dan masalah lain adalah : apakah unit Detasemen 88 Polri sudah melakukan pelatihan anti teror disetiap kota besar tersebut ?

BALI

Secara historis Bali sudah mengalami teror bom yang dahsyat. Berarti, teroris telah mempertimbangkan dan menetapkan Bali sebagai target teror.

Pihak intelijen dan keamanan Indonesia sudah selayaknya menempatkan Bali dalam rangking tertinggi (selain Jakarta sebagi ibu kota negara) untuk pengamanan terhadap ancaman teroris. Ini berarti Bali harus dilengkapi dengan unit-unit anti teror yang mumpuni dan dapat digerakkan secara cepat keseluruh pelosok Bali dalam waktu bersamaan ke posisi yang berbeda.

Bali perlu memiliki unit-unit anti teror aspek matra laut karena Bali dikelilingi oleh laut dan memungkinkan terjadinya serangan teror berawal dari laut seperti di Mumbai.  Perlu dihitung juga apakah Detasemen 88 Polri yang ada di Polda Bali mempunyai kemampuan dan telah berlatih untuk  meng-counter serbuan teroris yang menyerang 4 atau 5 lokasi secara serempak ? Kelihatannya Polda Bali harus mulai melakukan pelatihan anti teror untuk bisa meng-counter teror seperti yang terjadi di Mumbai.

Untuk mengenang teror di Mumbai.

Desember 20, 2008

« Tulisan sebelumnya Halaman Berikutnya » Halaman Berikutnya »