Harian Kompas edisi Minggu 5 April 2009 menulis tentang kesiapan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dibeberapa daerah untuk menampung caleg yang gagal terpilih. Seolah-olah tersirat bahwa para caleg yang sekarang sedang menunggu hasil perhitungan suara ini merupakan mahluk yang sedang diuji kewarasannya.
Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam di Samarinda mempersiapkan ruangan Instalasi Pemulihan Ketergantuan Napza untuk menampung caleg yang gagal dan kemungkinan mengalami gangguan kejiwaan. Rumah sakit lainnya yang bersiap-siap adalah RSJ dr H Marzoeki Mahdi Bogor, RSJ Dr Soeharto Heerdjan di Grogol Jakarta,
Masa pencontrengan merupakan deadline bagi para caleg. Bila hasil perhitungan suara memberikan hasil yang memuaskan bagi si caleg, berarti peluang menjadi gendheng lebih kecil. Sedangkan untuk caleg yang tidak terpilih, maka RSJ sudah siap menampungnya. Si caleg yang gagal dan menunjukkan gangguan kejiwaannya harus segera mendapatkan tindakan medis untuk proses penyembuhan ke-gila-annya.
Menggadaikan Rumah
Maka untuk memperoleh suara agar bisa terpilih, banyak cara yang dilakukan oleh caleg. Bagi caleg yang ber-duit, maka seluruh harta kekayaan dipertaruhkan.
Untuk tahap pertama, si caleg berusaha agar menjadi nomor jadi. Itupun, konon memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tapi untunglah, peraturan menunjukkan bahwa terpilih tidaknya seorang caleg tidak ditentukan oleh nomor urut, tetapi ditentukan oleh jumlah suara yang diperolehnya.
Untuk tahap kedua, si caleg mengeluarkan biaya untuk “promosi” pada masa kampanye, tujuannya untuk menggaet simpati masyarakat luas. Tidak aneh bila dalam masa kampanye, muncul iklan si caleg di program TV, iklan di koran, maupun billboard, spanduk, pamflet hingga sticker yang ditebar kepenjuru arah angin. Tidak ada sudut jalan yang tidak berhias wajah caleg, baik melalui billboard mapupun spanduk. Biaya promosi semakin membludak bila si caleg harus mengeluarkan biaya lain-lain seperti : biaya pembuatan kaos, bendera, menyiapkan panggung terbuka dan honor artis-nya sekalian, apalagi kalau mengundang artis ibukota.
Tidak mengherankan bila pada masa kampanye ada caleg yang sampai menjual atau menggadaikan rumah dan kendaraannya hanya untuk biaya promosi. Bagi caleg yang “kreative”, mungkin bisa melakukan tindakan apa saja yang penting menghasilkan uang. Misal caleg DPRD Kabupaten Pandeglang , Romdoni (31), ditangkap polisi karena kasus penggandaan uang. Caleg DPRD Lebak Ujang Zaenal Abidin (40) dicokok polisi karena diduga mendalangi penjarahan kelapa sawit. Contoh yang dramatis mungkin bisa diangkat dari tertangkapnya anggota DPR Komisi V Abdul Hadi Djamal oleh KPK karena korupsi – yang kemudian dipecat keanggotannya dari PAN, salah satu alasannya adalah untuk membiayai sosialisasi pen-caleg-annya.
Bagi caleg yang kurang mampu, cukup dengan program kampanye bersih-bersih kuburan, selokan, atau sekedar memberikan setangkai bunga dan stiker kecil.
Untung caleg juga manusia yang diberikan banyak akal. Bagi caleg yang tidak mampu, cukup dengan mengunjungi rumah ke rumah (dikenal sebagai kampanye pintu ke pintu). Bahkan bagi caleg yang sama sekali tidak mampu, cukup dengan puasa sebulan penuh selama masa kampanye. Lha, mau apalagi ?
Gambar Caleg
Menarik untuk menyimak gambar-gambar caleg saat promosi pada masa kampanye. Dari pose normal seperti : mengacungkan tinju, melambaikan tangan atau hanya sekedar gambar pas foto dengan senyum sumringah.
Beberapa caleg berusaha menarik para penjalan kaki, dengan menampilkan foto-fotonya secara menarik (minimal menurut caleg sendiri), seperti : berpose dengan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, pemain sepak bola David Beckham, hingga pose yang nyeleneh.
Misal caleg memakai sergam Superman, berlatar belakang kepala harimau (mungkin supaya terlihat gagah), atau bahkan berlatar belakang kepala monyet (ini mungkin mengingatkan kita pada teori Darwin).
Ada caleg yang berpakaian adat lengkap bak raja jaman dulu dengan bintang jasa (?) di dadanya. Tetapi pada umumnya berpakaian jas seragam warna partai, atau jas hitam lengkap dengan dasi. Beberapa caleg berpenampilan sederhana, cukup dengan kemeja putih dan pici warna hitam.
Yang tidak bisa dilepaskan adalah adanya figur-figur terkenal disebelah foto si caleg. Figur itu kalau tidak Ketua Umum Partai, bisa juga artis yang kebetulan memiliki pertalian darah. Di Jawa Tengah bahkan ada caleg yang melengkapinya dengan daftar sisilah raja-raja, mungkin ingin menunjukkan bahwa si caleg masih ada kaitan silsilah raja-raja jaman dulu.
Lalu bagaimana bila si caleg tidak terpilih ? Bisa dipastikan, harta kekayaan yang dipertaruhkan lenyap. Dari seseorang yang kaya raya, tiba-tiba hartanya lenyap begitu saja – bahkan mungkin ditambah dengan pinjaman bank – sejalan dengan buyarnya impian. Si caleg terguncang jiwanya.
Pileg periode ini memang luar biasa. Lebih dari sekedar bermain di meja judi, selain mempertaruhkan kekayaan, ternyata sebagian caleg mempertaruhkan kewarasannya.
Bila nanti, ada anggota keluarga atau tetangga, yang sempat men-caleg-kan diri tiba-tiba berubah perangainya. Menjadi pendiam, atau ngomong tidak nyambung, atau berperilaku aneh, maka jangan ragu-ragu bawalah segera ke RSJ !
****Medio April 2009