MIYABI TIDAK JADI DICULIK

Seorang blogger menulis tentang Miyabi.  Saat orang pertama kali melihat foto Ozawa akan berkata : “Wait a minute, you are saying this woman does hardcore pornography?”

Banyak orang tidak percaya dengan penampilan Miyabi (Maria Ozawa) yang terlihat innocent adalah seorang bintang film terkenal AVs (adult videos). Wajah blasteran Jepang dengan Perancis- Canada yang terlihat eksotis, ternyata malang melintang di dunia industri AV di Jepang. Tahun 2006, Maria Ozawa memenangkan sebuah kompetisi AV di Jepang. Bahkan pada tahun 2009, AV yang dibintangi Ozawa memenangi the Best Violence Video Award dan AV yang lainnya memenangi Special Award in the Feature Actrees Video Catagory pada acara 2009 AV GrandPrix.

Industri film jenis AV memang merupakan industri besar di Jepang yang meraup keuntungan yang tidak sedikit.  Dilaporkan, sekarang Ozawa menikmati kehidupan yang mewah,  tinggal di sebuah mansion (high-class apartment)  dengan sewa AS$ 1.682 per bulan, dengan pendapatan minimum AS$ 8.000 per bulan.

Miyabi representasi geisha modern  (wanita penghibur), hal yang lumrah dan merupakan budaya di Jepang. Kehidupan  Miyabi mungkin mirip dengan Mayonaka no Heiko, geisha paling terkenal di Edo dalam novel Samurai, Kastel Awan Burung Gereja yang mengambil setting cerita di abad 19 karangan Takashi Matsuoka. Kehidupan pejabat kekaisaran dan para samurai tidak dapat dipisahkan dengan cerita para geisha.

Miyabi (Maria Ozawa), muncul pertama kali di Indonesia lewat iklan menyambut bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Pada iklan tersebut Miyabi menggunakan jilbab dan menyapa fans-nya di Indonesia.

Sekitar bulan September 2009, Miyabi kemudian menjadi topik pemberitaan, setelah timbul laporan Maxima Picture hendak membuat film komedi dengan judul : Menculik Miyabi, berdasarkan cerita yang dibuat oleh Raditya Dika, seorang penulis buku remaja.

Pro dan kontra menjadi publikasi gratis bagi Miyabi. Mungkin dengan adanya geger penolakan kedatangannya ke Indonesia akan menambah popularitasnya. 

Tetapi dilain pihak, bagi Raditya Dika, heboh penolakan Miyabi menjadi publikasi yang bersifat negatif.  Pada suatu blog, ada penulis yang menuduh bahwa penulis dan sutradara film Menculik Miyabi sudah kehabisan cara untuk membuat film yang bisa meledak meraup penonton di Indonesia.  Bahkan ada penulis yang memberi komentar : ”Kenapa mesti Miyabi, memang di Indonesia tidak ada bintang film panas ?”.

Kerasnya penolakan masyarakat Indonesia membuahkan hasil. Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia. Tapi sekarang kepolulerannya semakin terdongkrak dengan adanya peristiwa diatas. 

Miyabi tidak jadi diculik. Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia bisa bernafas lega. Tapi, mungkin sekarang makin banyak orang Indonesia yang penasaran melakukan surfing mencari AV-nya Miyabi di internet.  

*****

End of October 2009

“AUDISI” CALON MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU II

Audisi adalah istilah yang lebih populer daripada istilah rekruitmen. Audisi calon menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, sebenarnya adalah proses rekruitmen calon menteri-menteri yang dilakukan oleh Presiden SBY.  Recruitment, melalui proses uji dan seleksi tersebut  berangkat untuk menguji calon menteri yang berasal dari dua latar belakang yang berbeda, yaitu berasal dari para politikus dan para professional. Calon menteri dari latar belakang politikus berasal dari partai politik yang sudah menyatakan berkoalisi secara terbuka dengan Partai Demokrat,  yaitu partai pemenang pemilu lalu.

Calon menteri dari partai-partai yang berkoalisi, berarti secara eksplisit menyatakan mendukung dan dapat bekerja sama dengan presiden yang terpilih. Menteri-menteri merupakan pembantu presiden, sehingga perlu dilakukan seleksi agar menteri yang terpilih memiliki “chemistry” dengan presiden-apapun latar belakang partainya, diharapkan memiliki kinerja yang seirama dalam menjalankan program kerja presiden.

Berbeda dengan proses “audisi” calon menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid I, pada saat itu JK sebagai wakil presiden mempunyai bargaining position yang kuat  dalam menentukan gerbong cabinet. Dapat dipastikan, pada proses “audisi” kali ini, Budiono sebagai wakil presiden tidak se-powerfull JK dalam menentukan calon pembantu presiden tersebut.

Publikasi proses “audisi” calon menteri begitu gegap gempita, seakan ingin menjelaskan kepada masyarakat bahwa proses rekruitmen dilakukan secara professional dan terbuka, walaupun memang ada kesan “balas jasa” kepada para elit partai yang telah memenangkan SBY dalam pertarungan pilpres. 

Untuk partai besar seperti PDIP yang tidak menyatakan berkoalisi dengan partai pemenang pemilu kemungkinan besar tidak akan ada kadernya yang mengikuti proses rekrutment. Ini berarti tidak ada calon menteri yang berasal dari kader partai tersebut.

Banyak yang mempertanyakan kompetensi dari para calon menteri yang berasal dari para politikus. Dilain pihak, banyak juga kalangan yang pesimis pada integritas para calon menteri dari politikus, apakah bisa bekerja secara professional sebagai menteri atau malah ”bermain mata” dengan kepentingan partai politiknya, walaupun bisa saja dikemudian hari calon menteri tersebut mundur dari jabatannya di partai politik.

Semakin banyak partai politik yang berkoalisi, maka semakin kuat dukungan terhadap pemerintah. Tapi kekuasaan yang terlalu besar harus diimbangi oleh kekuatan penyeimbang yang diharapkan  dilakukan oleh partai politik yang tidak tergabung dalam koalisi. Masyarakat berharap PDIP dan partai lainnya yang tidak tergabung dalam koalisi bisa berperan sebagai kekuatan penyeimbang tersebut. Megawati diharapkan menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan ekonomi kerakyaan (yang selama ini dijanjikan dalam kampanye pemilu lalu) untuk meng-counter program ekonomi Budiono dan Sri Mulyani yang sering dicap sebagai ekonomi neo-liberal.

Sosok Budiono sebagai Wakil Presiden suatu saat sangat menentukan,terutama bila Presiden tidak dapat menjalankan tugas-tugas kepresidenannya. Tidak ada yang menyangsikan kompetensinya dibidang ekonomi, tetapi apakah bisa bekerja sama dengan seluruh menteri-menteri yang dipilih  oleh Presiden – hal ini penting mengingat terlihat begitu  mendominasinya Presiden SBY dalam proses audisi calon-calon menteri tsb.

Presiden SBY kemungkinan besar akan bekerja secara powerfull, mengingat dukungan koalisi partai politik dan menteri-menteri yang dipilihnya secara langsung.  Ini berbeda bila “suatu saat”  Wapres Budiono – seorang profesional  harus menggantikan Presiden SBY, tidak ada jaminan mendapat dukungan dari koalisi partai pendukung Presiden SBY baik dukungan dari kabinet maupun dari DPR.

Bisa diperkirakan, bila Wapres Budiono harus menggantikan Presiden SBY karena alasan tidak dapat melanjutkan tugas-tugas kepresidennya, akan terjadi tarik-menarik kekuasaan. Akibatnya bisa sangat mengerikan : koalisi partai akan pecah yang berakibat  dukungan terhadap pemerintahan akan melemah. Pada saat itu, kekacauan di tingkat elit politik akan mempengaruhi arah pembangunan ekonomi, pada akhirnya akan dirasakan oleh rakyat banyak.  Kondisi yang tidak stabil dapat menyebabkan tingkat kepercayaan investor akan turun tajam dan berdampak pada  investasi  yang berkurang.  

Disisi lain, pulihnya ekonomi Amerika Serikat kemungkinan besar akan menyebabkan naiknya harga minyak dunia.  Dengan berat hati, pemerintahan akan mengambil kebijakan tidak populer dengan menaikkan harga bbm. Menaikkan harga bbm menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok akan meroket, dampak langsung adalah naiknya angka kemiskinan.

*******

 

 

 

 

 

DARI PAPUA MENEROPONG INDONESIA

Membaca buku ini seperti membaca isi hati orang Papua tentang permasalahan di pulau paling timur Indonesia. Ans Gregory da Iry, adalah seorang jurnalis berpengalaman  yang mungkin lebih berdarah Papua ketika menulis permasalahan di Papua.  Buku Dari Papua Meneropong Indonesia merupakan kumpulan artikel yang ditulis dengan bahasa yang lugas, sistematis dan santun -  yang diterbitkan di surat kabar Timika Pos dan Radar Timika, ketika penulis buku ini berkarya di PT Freeport Indonesia selama 11 tahun.

Buku ini dibuka dengan cerita tentang teror penembakan di mile 53 yang menewaskan Drew Nicholas Grant, seorang karyawan Freeport berkebangsaan Australia, tanggal 11 Juli 2009. Teror ini ternyata merupakan rangkaian serangan bersenjata yang memanaskan situasi keamanan sejak awal 2009. Harian Kompas menggambarkan serangan bersenjata ini sebagai ‘pesan teror’ dari Papua untuk Jakarta agar memberikan perhatian kepada provinsi itu, karena Papua masih menyimpan banyak masalah yang belum diselesaikan.

Permasalahannya sangat jelas. Propinsi Papua masih tercatat sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Alamnya kaya raya tapi mayoritas penduduk aslinya miskin, bahkan sangat miskin.

Masalah Papua bukan sekedar masalah separatis, melainkan soal rakyat yang terpinggirkan, pertarungan pejabat dan elit suku, serta program otonomi khusus yang disahkan Presiden Megawati tahun 2001 lalu -  yang ternyata hanya  menguntungkan segelintir orang dan tidak memakmurkan rakyat banyak, khususnya masyarakat asli Papua.

Menyitir hasil penelitian LIPI, setidaknya ada empat akar permasalahan di provinsi itu. Pertama, adanya marginalisasi dan tindakan diskriminatif dalam pembangunan ekonomi terhadap orang asli Papua sejak 1970.  Pemerintah gagal melakukan pembangunan terutama dibidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Belum adanya kesamaan paradigma sejarah bergabungnya Papua ke Indonesia. Keempat, belum adanya rekonsiliasi serta pertanggungjawaban atas kekerasan terhadap masyarakat asli yang dilakukan negara pada masa lalu.

Dalam buku ini, terdapat artikel yang berjudul : Akankah ada Damai di Bumi Papua ? (bab 2, hal 11).  Ans Gregory Da Iry menangkap ketegangan-ketegangan yang dirasakan selama beberapa bulan ini di Papua  dan menulisnya sbb : Papua  berada dalam situasi dan  kondisi yang tidak kondusif, dan bahkan keadaan di Papua saat ini ibaratnya “Perang tidak Damaipun tiada”. 

Tidak ada perang karena memang tidak ada bentrokan senjata kecuali insiden Wamena dan Abepura. Tetapi juga tidak bisa dikatakan damai karena kita menyaksikan dan merasakan sendiri situasi yang tidak menentu, yang panas dan bahkan tegang dan menakutkan. Mungkin keadaan kita saat ini dapat dikatakan sebagai keadaan ” perang dingin atau perang urat syaraf” seperti yang terjadi beberapa dekade lalu antara Amerika dan Uni Sovyet.

****

Rakyat Papua melalui buku ini seakan menagih janji Presiden SBY untuk menyelesaikan  konflik Papua secara damai, adil, bermartabat dengan menekankan dialog yang persuasif.

Penulis buku ini percaya bahwa merdeka atau otonomi bagi Papua bukanlah hal yang terpenting dan bukan pula suatu harga mati sebagaimana sering dikatakan oleh mereka yang tidak setuju Otonomi Khusus Papua. Sebab yang terutama dan terpenting adalah bagaimana masyarakat Papua nantinya dapat mewujudkan cita-cita keinginan dan harapannya akan suatu masa depan yang lebih baik, yang sejahtera, tenang, aman dan damai.

Seperti yang dikatakan oleh Hobbes :” Damai bukan berarti tidak ada pertempuran atau perkelahian antara sesama manusia. Damai juga bukan berarti bahwa manusia harus berubah menjadi malakikat atau orang kudus yang hidup bersama dalam cinta kasih persaudaraan sejati. Sebab hal ini mustahil akan terjadi di bumi. Tetapi yang jelas adalah bahwa damai ada dimana orang dapa menyelesaikan perselisihan mereka dengan kata-kata dan bukan dengan senjata atau kekerasan.

Buku Dari Papua Meneropong Indonesia berisi 26 buah artikel yang dibagi kedalam empat bab.  Sebagian besar tulisannya sangat membumi ke tanah Papua, menyentuh kedalam ranah sosial, budaya dan politik  dalam  kehidupan sehari-hari  masyarakat Papua.

*****

15 Oktober 2009

NOTE : Pak Ans -demikian saya menyapanya, adalah teman dan senior yang bekerja di perusahan yang sama di tempat saya bekerja.  Saya mengenalnya bertahun-tahun yang lalu dan pada bulan-bulan terakhir komunikasi semakin instens sehubungan dengan implementasi program lean manufacturing yang diterapkan di grup perusahaan.

MEREKA YANG PERKASA : PEMUDIK BERMOTOR

Diprediksi 3.9 juta pemudik bermotor akan mengarungi keganasan jalan untuk suatu tujuan yang mulia : berlebaran dikampung halaman.  Salahkah mereka ?

Sebagai gambaran tentang keganasan yang harus dihadapi oleh pemudik bermotor, tahun lalu dari 2.3 juta pemudik bermotor tercatat telah terjadi 1.052 kecelakaan lalu lintas, dimana 70 % menimpa pemudik bermotor.

Mengendarai motor untuk perjalanan jarak jauh perlu ketabahan dan kesabaran.  Saat mudik, kita akan terbiasa melihat motor yang dijejali oleh suatu keluarga lengkap : Suami sebagi rider, Istri dibonceng sambil menggendong satu orang anak. Atau satu orang anak lagi duduk berbagi dengan pengendara.  Belum lagi di belakang jok ditambah kayu untuk penahan barang biasanya kardus atau tas besar yang berisi pakaian, atau sekedar oleh-oleh untuk handai taulan di kampung halaman.

Untuk motor jenis bebek, ada  ruang kosong  antara stang motor dan jok biasanya diisi dengan barang bawaan, baik berupa tas besar atau kardus mie instan.  Untuk motor jenis matik, terdapat ruang yang lebih leluasa untuk pijakan kaki, yang tentu saja bisa dijejali dengan barang-barang.

Akibatnya rider harus konsentrasi lebih tinggi  lagi untuk menjaga kesimbangan agar tidak terjungkal, padahal saat mudik seperti itu ada ratusan bahkan ribuan motor yang berjalan bersama.  Sementara perilaku pengendara motor tidak seragam, ada yang sabar dan ada juga yang kurang sabar dengan menyelinap kesana kemari dengan kecepatan tinggi.  Perilaku buruk pengendara yang kurang sabar, menyebabkan pengendara lain harus lebih hati-hati.

Perlu ketabahan untuk mengarungi perjalanan lebih dari 6 sampai 8 jam agar bisa sampai tujuan dengan selamat. Untuk itu perlu kerjasama yang baik antara pengendara dengan penumpang yang di bonceng. Perjalanan panjang bukan saja memeras energi pengendara, bahkan akan menyiksa  penumpang yang dibonceng – biasanya menimpa kaum ibu. Suatu posisi yang biasanya kurang nyaman bila perjalanan lebih dari 2 jam.

Perlu ada kordinasi yang baik, kapan waktunya untuk istirahat sekedar melemaskan otot-otot yang dipaksa tegang dalam posisi duduk sambil menjaga kesimbangan selama beberapa jam. Perlu adanya kesabaran antara suami sebagai pengendara dan istri yang dibonceng.    

Mudik bermotor bukanlah suatu pilihan yang terbaik, tetapi suatu keterpaksaan. Motor bukanlah suatu kendaraan yang nyaman untuk suatu perjalanan jarak jauh, apalagi dikendarai oleh satu keluarga lengkap.

Mudik bermotor adalah suatu perjalananan yang berat, tetapi masyarakat banyak  tidak punya pilihan.  Apalagi bila ditinjau dari sudut ekonomis. Mudik bermotor jelas lebih ekonomis dibandingkan dengan bis, kereta api atau pesawat terbang.

Perjalanan yang berat ke kampung halaman, akan terobati dengan bila sudah bertemu dengan sanak saudara.  Bertemu setahun sekali dengan keluarga besar dan tetangga, seakan merupakan suntikan  energi baru yang melarutkan segala kesulitan selama perjalanan.

Sampai saat ini, perjalanan mudik dengan menggunakan motor masih merupakan pilihan bagi masyarakat banyak. Mudik bermotor bukanlah suatu perjalanan yang ringan, justru merupakan suatu perjuangan yang panjang – sepanjang jalan yang menghubungkan kota asal hingga kampung halaman.

Perjalanan yang berat dan tidak nyaman, tetapi kemungkinan akan diulangi lagi pada lebaran tahun depan.

*******

PEROKOK BAGAIKAN SEBATANG LILIN…..

Seorang teman perokok berat, meng-ibaratkan dirinya sebagai sebatang lilin. Menerangi sekitarnya, tetapi mengorbankan dirinya. Teman tadi bilang, dengan merokok berarti turut membiayai pembangunan melalui cukai rokok yang dibayarnya. Dengan bangga dia mengatakan : seorang perokok adalah pahlawan pembangunan.

Ketika disinggung tentang ancaman berbagai penyakit akibat merokok, teman tadi dengan enteng menjawab : kita sebagai manusia yang perokok   maupun yang tidak merokok pada akhirnya akan mati. Ya lebih baik merokok toh…

Laporan Tobacco Atlas yang dikutip kantor berita Antara mengatakan bahwa 100 juta orang telah tewas pada abad XX akibat tembakau.  Satu dari sepuluh kematian di dunia disebabkan oleh rokok. Usia seorang perokok rata-rata lebih pendek 15 tahun daripada bukan perokok. Bahkan ditempat kerja diperkirakan pekerja menemui ajalnya sebanyak 200.000 orang per tahun karena dia kebetulan seorang perokok pasif.

Laporan tadi juga menyebutkan bahwa satu milyar orang didunia ini adalah perokok. 35 persen pria di negara kaya dan 50 persen pria di negera berkembang. 250 juta perempuan merokok setiap harinya. 22 persen di negara maju dan 9 persen dinegara berkembang.

Di Indonesia, kita dengan mudah akan menemukan perokok. Dari pengemis, pemulung, tukang becak, pekerja kantoran hingga anak-anak  sekolah. Itu mungkin yang menyebabkan pembangunan di Indonesia jalan terus tiada henti. Semakin banyak perokok berarti semakin banyak pajak yang dikumpulkan. 

Teman saya sambil berseloroh bilang, ada tiga keuntungan yang didapat dari seorang perokok :

Pertama, katanya. Rumahnya tidak pernah kemalingan. Karena siperokok tersebut akan terbangun dan terbatuk-batuk setiap malamnya akibat penyakit karena merokok. Maling tidak akan menyatroni rumah orang yang belum tidur, bukan…?

Kedua, seorang perokok tidak akan mempunyai rambut putih. Karena sebelum rambutnya dipenuhi uban, dia telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Ketiga, seorang perokok tidak akan pernah digigit anjing, katanya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Karena seorang perokok yang sakit-sakitan pasti membawa tongkat kemana-mana supaya jalannya tidak limbung.  Anjing kan takut digebuk tongkat. Katanya sambil terkekeh-kekeh, disela-sela batuknya. Wah yang terakhir itu kelihatannya lelucon yang agak memaksa.

Hidup perokok, hidup cukai rokok, hidup pembangunan Indonesia.

***************

Awal Agustus 2009

BABAK BARU MEMERANGI TERORIS DI INDONESIA

Terbongkarnya rencana teroris yang akan mem-bom Istana Negara dengan tujuan mengincar Presiden SBY merupakan babak baru bagi sejarah terorisme di Indonesia.

Selama ini, sasaran operasi teroris adalah menghancurkan target yang berhubungan dengan kepentingan pihak Amerika Serikat atau pihak barat. Dengan menggeser target operasinya, berarti prinsip perjuangan teroris telah berubah.

Banyak analisa mengatakan bahwa terjadinya pergeseran terhadap tujuan awal teroris  sebagai akibat tuntutan untuk menuntaskan dendam dijatuhkannya hukuman mati terhadap Imam Samudera cs.  

Dilain pihak, ancaman pembunuhan bagi seorang Presiden yang notabene seorang muslim dan seorang Jenderal (purn.)  TNI AD, akan mendapat tentangan dari  dalam organisasi teroris sendiri yang mengatasnamakan agama Islam untuk melakukan aksi terornya.

Ancaman terhadap lambang negara Indonesia, menyebabkan TNI akan turun tangan bahu membahu dengan pihak POLRI untuk memberangus terorisme di Indonesia. Diaktivkannya kembali Desk Anti Teror disetiap KODAM, akan mengektifkan kegiatan intelejen  TNI.  Sementara itu pasukan anti teror yang dimiliki setiap angkatan, seolah mendapat suntikan semangat baru untuk berlomba-lomba mengasah ketrampilan sebelum diterjunkan dalam suatu operasi penghancuran sel-sel teroris di Indonesia.

Berarti, Noordin M Top dan kawan-kawan akan mendapat lawan tangguh dari Detasemen Sat-81  Gultor Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara TNI AL dan Detasemen  Bravo 90 TNI  AU yang memang dilatih keras  dan tanpa kompromi untuk menghancurkan teroris secara profesional.

Seperti dalam operasi militer, pihak intelejen TNI akan melakukan pemetaan wilayah, identifikasi daerah rawan (daerah yang memiliki jaringan pendukung teroris),  jalur logistik dan jalur lalu lintas para teroris, identifikasi potensi ancaman, dll. Setelah itu menggiring dan mengurung teroris, selanjutnya menjebaknya dalam suatu operasi penyerbuan oleh satuan elit anti teror TNI.

TNI AD melalui Kodam-Kodam yang menjaga perbatasan negara, bisa aktiv menutup perbatasan dan ikut memburu teroris yang melarikan diri. Sementara kapal-kapal perang TNI AL  akan berpatroli dan menutup pergerakan teroris yang menggunakan sarana laut. 

Bila perlu, dengan ijin dari otoritas negara tetangga, satuan-satuan elit anti teror TNI  bekerja sama dengan satuan elit negara tetangga bisa masuk ke sarang-sarang teroris di negara tersebut untuk melakukan operasi penghancuran.

******

19 Agustus 2009

MISTERI WAKTU PELEDAKAN BOM BUNUH DIRI DI HOTEL MARRIOTT –CARLTON

Potongan-potongan informasi mengenai peledakan bom bunuh diri di hotel Marriot – Carlton  seperti puzzle yang belum terangkai menjadi suatu gambar yang jelas.

Informasi pertama adalah adanya bom ketiga (jenis black powder low explosive) yang gagal meledak akibat timer mengalami malfungsi. Informasi dari pihak kepolisian yang diberitakan di tv, bom ketiga yang berada dikamar 1808 adalah bom yang seharusnya diseting meledak pertama kemudian diikuti oleh peledakan bom bunuh diri di Marriot dan Carlton. Diduga, bom pertama diseting meledak minimal saat pembom bunuh diri sudah berada dititik target peledakan.

Berarti ada tiga buah bom yang dipersiapkan oleh teroris untuk serangan yang mematikan di Marriott – Carlton. Bila diasumsikan bom yang meledak itu sama jenisnya dengan bom yang berhasil diungkap di Cilacap oleh tim Densus 88 Mabes Polri, apakah ini berarti bom yang meledak di Marriot – Carlton adalah bom yang berhasil lolos sergapan tim Densus 88 di Cilacap ? Bila memang benar demikian, yang menjadi pertanyaan adalah : berapa buah bom lagi yang berhasil diloloskan oleh teroris ? Lalu dimana bom-bom tersebut sekarang disembunyikan ?

Bila benar apa yang diasumsikan oleh mantan Kadensus 88 Brigjen (purn.) Suryadharma Salim (?) di sebuah tv swasta ada 40-an buah bom yang disita oleh tim Densus 88 Mabes Polri di Cilacap, berarti di-indikasikan teroris sudah mampu  melakukan pembuatan bom maut secara masal.

Dan bila asumsi dari mantan Kadensus 88 bahwa pelaku bom bunuh diri bukanlah si pembuat bom, berarti pembuat bom masih bebas berkeliaran dan masih terbuka peluang membuat bom-bom yang sama dahsyatnya secara masal. Ini memberikan kesimpulan yang sangat mengerikan : ancaman serangan bom masih sangat terbuka di Indonesia.

Peranan Orang Dalam di JW Marriott                                                                                                               

Menarik untuk mengkaji pernyataan mantan Kadensus 88 dalam acara tv tersebut, yang menyatakan adanya peranan orang dalam JW Marriott yang mendukung serangan bom bunuh diri tersebut.

Tidak jadi soal apakah diduga bahan-bahan bom dirakit di kamar 1808 atau bom siap meledak disusupkan ke dalam hotel, asumsi ini memang logis bila ada orang dalam yang turut berperan dalam memuluskan serangan bom bunuh diri tersebut.

Bila benar ada orang dalam yang terlibat, berarti jaringan teroris sudah mempunyai perencanaan jangka panjang yang cukup matang : dari mencari, membina dan menyusupkannya ke Marriott – hotel yang notabene memiliki pengamanan yang sangat ketat.

Kenyataan pahit ini, mengharuskan manajemen semua hotel yang dianggap sebagai representasi pihak barat (oleh para teroris) harus mereview kembali seluruh pegawainya, baik karyawan hotel sendiri maupun karyawan outsourcing.

Peran orang dalam sangat menentukan dari dugaan menyusupkan bom hingga memberi detail informasi mengenai lay out, aktivitas rutin hotel dan kegiatan penting lainnya. Dari informasi ini, teroris melakukan perencanaan detil operasi serangan bom di kedua hotel tersebut, melakukan uji coba waktu yang diperlukan dari kamar 1808 hingga titik peledakan, merencanakan jalur keluar yang aman untuk pendukung teroris keluar dari Marriot – Carlton. Berarti ada pertemuan-pertemuan yang sangat intens dalam merumuskan detil rencana serangan bom bunuh diri tersebut. Polri harus bisa melacak kegiatan orang dalam di Marriott dengan mempelajari CCTV atau dari saksi-saksi sesama karyawan di hotel tersebut.

Misteri Waktu Peledakan

Sampai saat ini masih menjadi misteri mengapa waktu peledakan adalah jam 07.47 pagi seperti yang diberitakan di televisi. Apakah penentuan waktu ini sesuai dengan informasi yang telah didapat dan diperhitungkan oleh para teroris ? Apakah para teroris berasumsi bahwa pada waktu tersebut merupakan waktu yang tepat untuk memberi dampak yang besar dari akibat serangan bom mereka ? Atau apakah ada alasan lain ?

Kemungkinan alternatif lain : penentuan waktu ini disesuaikan dengan rencana operasi teroris untuk memberikan waktu yang cukup bagi para pendukung teror untuk kabur dari lokasi peledakan. Misalnya, disesuaikan dengan waktu yang diperlukan oleh para pendukung teroris untuk kabur via bandara Soekarno-Hatta ke tujuan yang telah dipersiapkan. Bila teroris mampu menginap di hotel berbintang sekelas JW Marriot, maka tidak mustahil mereka sudah memiliki tiket pesawat dengan tujuan dan waktu boarding yang telah ditentukan. Ini berarti pihak keamanan harus mencek semua jadwal penerbangan ke kota-kota yang dicurigai dan mempelajari manifest penumpang tersebut.

***** 

21 Juli 2009

Noordin M. Top, Teroris atau Intelejen Negara Asing ?

Sulitnya sebuah lembaga khusus anti terror setangguh Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polri untuk menangkap Noordin M.Top menjadi sebuah pertanyaan besar. Perburuan gembong teroris warga negara Malaysia ini selama hampir 7 tahun oleh aparat intelejen Indonesia seolah hanya bisa menyentuh bayangannya saja. Hingga saat ini, gembong teroris Noordin M Top bisa dikatakan sebagai the untouchtable.

Ada dua pendapat mengapa Noordin begitu licin, pertama Noordin memang mempunyai kemampuan untuk menghindar dari sergapan aparat keamanan Indonesia. Ini berarti sebelum terjun ke Indonesia, Noordin M. Top telah dibekali/membekali diri dengan berbagai keahlian, diantaranya kemampuan kontra intelejen.

Pendapat kedua, dalam operasi terror-nya Noordin M. Top mendapat bantuan dari pihak luar yang memang menghendaki Indonesia menjadi chaos, yang menyebabkan terhambatnya pembangunan ekonomi Indonesia sehingga melemahkan kemampuan berkompetisi dikawasan Asia Tenggara.

Noordin M. Top dan  Dr. Azhahari adalah warga negara Malaysia, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin berbagai serangan bom bunuh diri di Jakarta dan Bali. Sehingga logis bila ada pendapat dan dugaan bahwa kedua teroris tersebut memang disiapkan oleh unsur intelejen pemerintah asing untuk beroperasi di Indonesia.

Tentu saja pemerintah Malaysia akan menolak keras keterkaitannya dengan kedua gembong teroris. Dilain pihak sangat sulit untuk membuktikan keterkaitan  kedua gembong teroris tersebut dengan pemerintah Malaysia.

Tetapi fakta menunjukkan, akibat serangan bom bunuh diri di JW Marriott 2003 lalu dan bom Bali II 2005 lalu telah memberi dampak terpuruknya pada perekonomian Indonesia, terutama dalam  persaingan menarik  investasi asing dan mendatangkan wisatawan asing. Sementara negara tetangga akan mendapatkan limpahan berbagai keuntungan ekonomis dari keterpurukan Indonesia.

Akibat serbuan bom bunuh diri terakhir di Marriott – Carlton pada Jumat kemarin, dipastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami stagnasi. Investasi asing akan sulit masuk ke Indonesia, demikian pula wisatawan asing akan menghindari Indonesia karena berbagai negara mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya untuk tidak berkunjung ke Indonesia akibat kondisi yang dinilai tidak aman.

Noordin M. Top, Teroris atau Intelejen Negara Asing ?

Sungguh mengherankan bila lembaga seprestisius Densus 88 Polri mengalami  kesulitan untuk mengendus dan menangkap Noordin M. Top. Ini berarti, Noordin M. Top telah memiliki kemampuan dua hal, pertama kemampuan memahami gerak intelejen Indonesia  (kemampuan kontra intelejen) dan kemampuan untuk melakukan kegiatan teror. Apakah ini berarti Nordin M. Top merupakan intelejen asing dengan keahlian melakukan teror yang disusupkan oleh negara asing  ke negara Indonesia ?

Pendapat lain adalah bahwa Noordin M.Top selama pergerakannya dibantu oleh unsur intelejen negara  asing, baik berupa kemudahan mendapat informasi, hingga bantuan sarana dan prasarana untuk keluar dari sergapan aparat keamanan. Terutama kemudahan mendapatkan akses keluar berbagai wilayah Indonesia bila posisi Noordin M. Top merasa terjepit dan  atau masuk kembali ke Indonesia ke wilayah yang telah disiapkan.

Pembiayaan Operasi Noordin M. Top di Indonesia kemungkinan dibantu oleh suatu lembaga keuangan yang sama-sama misterius. Tidak mungkin ada negara lain yang akan mengakui membiayai operasi Noordin M. Top  secara terbuka, karena ini adalah operasi intelejen. Kemungkinan besar, informasi bantuan keuangan ini akan dituduhkan ke pihak lain, seperti jaringan teroris Al Qaeda. Tentu saja ini argumentasi yang paling aman.

*****

21 Juli 2009

PASCA SERANGAN BOM BUNUH DIRI DI HOTEL MARRIOTT – CARLTON, SELANJUTNYA BAGAIMANA ?

Serbuan teroris di Mumbai telah menunjukkan aktivitas teroris telah bermetomorfosis secara drastis. Teroris tidak lagi menggunakan metoda teror melalui bom yang diledakan dengan timer atau dengan alat kendali jarak jauh, kemudian teroris melenggang dengan aman setelah bom diledakan.

Di Mumbai, teroris membentuk tim-tim kecil terdiri dari 2 atau 3 orang  yang menyerbu berbagai target penting bagai serbuan  pasukan komando. Teroris menyamarkan aktivitasnya dengan memakai celana jeans, kaos t-shirt, membawa ransel dan berwajah kelimis. Setiap personal dilengkapi dengan senjata serbu AK 47, dengan amunisi yang cukup untuk serbuan jangka pendek, dilengkapi dengan senjata genggam, alat komunikasi, alat gps genggam, bahkan beberapa tim dilengkapi personal yang mampu merakit bom rdx. Kemampuan setiap personal adalah mampu melakukan pertempuran jarak pendek melawan pasukan komando India bahkan pasukan elit anti teror India.

Teror bom di hotel J.W. Marriott dan The Ritz-Carlton Jumat (17 Juli 2009) kemarin pagi, telah membuka mata Indonesia. Selama ini, sebagian orang mencap kaum teroris diidentifikasikan dengan Islam garis keras dengan berpenampilan yang khas. Berjenggot, memakai sorban, memakai baju koko dan bersarung, kurang lebih berpenampilan seperti kaum Mujahidin di Afganistan dalam film Sylvester Stalonne, First Blood.

Bila benar cuplikan film dari CCTV lobby hotel beberapa detik sebelum terjadi ledakan, penampilan pembom bunuh diri jauh dari gambaran diatas. Pembom bunuh diri justru berpenampilan perlente, memakai topi bisbol untuk menyamarkan wajah, membawa koper beroda dan menggendong ransel seperti halnya tamu-tamu hotel. Bahkan informasi dari berita tv, pembom tersebut telah menginap selama beberapa hari di hotel Marriott di kamar nomor 1808. Dapat diduga, koper dan ransel berisi bom yang akan diledakkan.

Seperti halnya serbuan teroris di Mumbai, serbuan bom bunuh diri di hotel Marriott telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi aparat keamanan di Indonesia. Perubahan drastis  teknik penyamaran hingga bisa menembus jaring keamanan hotel menunjukkan bahwa para teroris telah belajar dan lebih fleksibel dalam menjalankan operasinya.

 Mengapa Teroris Melakukan Lagi Pemboman Di Indonesia ?   

Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan yang terlibat dalam kasus Bom Bali, ternyata tidak menyurutkan aktivitas kaum teroris. Hukuman mati bagi Imam Samudra dan kawan-kawan tidak berarti episode teror di Indonesia tutup layar. Justru dengan gegap gempitanya pemberitaan hukuman mati yang disiarkan melalui tv dan surat kabar – oleh kelompok dan pendukungnya, Imam Samudra cs dianggap sebagai martir.

Kondisi ini, mungkin dinilai lebih menguntungkan bagi kelompok teroris tersebut karena akan lebih mudah dalam proses perekrutan dan pembinaan. Kemungkinan besar proses perekrutan teroris bunuh diri dan proses pencucian otak dilakukan oleh tim Noordin M.Top, warga negara Malaysia yang hingga sekarang tidak diketahui rimbanya.

Waktu yang cukup lama dari terbunuhnya Dr. Azhari si ahli perakit bom yang juga warga negara Malaysia, hingga pemboman terakhir Jumat kemarin kelihatannya memberikan tenggang  waktu yang cukup lama  bagi kelompok teroris untuk melakukan revitalisasi, diantaranya melalui penyusunan organisasi baru hingga pelatihan perakitan bom.

Bila memang benar dugaan serangan bom di hotel Marriott – Carlton adalah bom bunuh diri, maka yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia adalah : mengindentifikasi jenis bom dari sisa-sisa bom, mengindentifikasi tersangka dari sisa tubuh teroris (dari sidik jari, DNA atau penggalan kepala), kemudian lebih jauh mengindentifikasi tim pendukung yang mengantarkan teroris tersebut ke hotel Marriott-Carlton, yang menyiapkan perlengkapan dan peralatan seperti  tas dan booking hotel. Mengindentifikasi teroris yang meracik bom, mengindentifikasi supplier material bom, mengindentifikasi teroris yang melakukan perekrutan hingga pencucian otak. Hingga mengindentifikasi sumber pembiayaan dan terakhir adalah identifikasi tokoh intelektual, baik itu bertugas sebagai penanggung jawab operasi bom bunuh diri maupun yang bertanggung jawab dalam operasi tindakan teror secara keseluruhan.

Setelah Jakarta Selanjutnya Kemana ?

Berdasarkan pengalaman, yang akan dilakukan oleh aparat keamanan dan intelejen Indonesia adalah melakukan operasi mempersempit gerak kaum teroris. Diantaranya operasi penyekatan baik berupa razia di pintu-pintu keluar seperti pelabuhan Merak, Surabaya, Banyuwangi, hingga pelabuhan udara seperti Soekarno Hatta, dll. Selain itu dilakukan operasi berupa razia-razia di jalur-jalur keluar Jakarta, hingga jalur-jalur keluar antar propinsi.

Sebenarnya aparat keamanan sudah mempunyai modal cukup dari penangkapan-penangkapan sebelumnya, yaitu teroris yang ditangkap di Cilacap  dan Malang oleh Densus 88 Mabes Polri yang diduga merupakan jaringan terdekat dengan Nordin M. Top, kemudian warga Singapura yang diduga kaki tangan Kastari, buronan kepolisian Singapura. Tersangka teroris yang tertangkap di Bandarlampung,  serta tersangka teroris jaringan Palembang dan Plumpang yang sebelumnya telah terungkap.

Biasanya, kaum teroris akan melakukan cooling down sambil berupaya  menghindar dari sergapan aparat keamanan.  Berdasarkan pengalaman selama ini, setelah keamanan Jakarta menjadi semakin ketat, kaum teroris mengalihkan aktivitas ke Bali, yang dianggap sebagai representasi kepentingan pihak barat. Setelah terjadi peledakan bom bunuh diri oleh kelompok Noordin M. Top di Hotel J.W Marriot pada 5 Agustus 2003 lalu, kemudian serangan bom bunuh diri beralih ke Bali tanggal 1 Oktober 2005 masih dilakukan oleh kelompok Dr. Azhahari dan Noordin M. Top, yaitu di Raja Bar dan Restoran Kuta Square serta Nyoman Café Jimbaran. Sudah saatnya aparat keamanan dan intelejen di Bali mulai meningkatkan kewaspadaannya, agar tidak terjadi lagi kasus bom di pulau Bali jilid III.

Besar harapan rakyat Indonesia,  supaya SBY sebagai presiden terpilih bisa menuntaskan kasus serangan bom bunuh diri segera mungkin. Memberangus jaringan-jaringan teroris hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. Siapapun yang terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Marriott – Carlton dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Termasuk didalamnya  menangkap Noordin M. Top, gembong  teroris warga negara Malaysia yang telah mengaduk-aduk keamanan negara Indonesia.

Sudah saatnya, pemerintah Indonesia menempatkan Noordin M. Top sebagai musuh yang paling dicari di seluruh wilayah Indonesia dan sekaligus menjawab spekulasi bahwa Noordin M. Top seorang gembong teroris warga negara Malaysia sengaja ditanam, dilindungi dan diberi akses kemudahan oleh unsur-unsur intelejen pemerintahan negara asing untuk mengacaukan keamanan Indonesia.

 

********

18 Juli 2009

DEBAT CAPRES, BUKAN DEBAT KUSIR

Tidak diragukan lagi debat calon presiden di televisi adalah bentuk dari kampanye politik yang modern.  Tujuannya sama dengan iklan-iklan kampanye pasangan capres dan cawapres yang menjamur di layar kaca,  yaitu meraup suara pemilih sebanyak-banyaknya.

Metode yang digunakan dalam debat di televisi tidak berubah. Moderator memberikan pertanyaan, kemudian masing-masing calon presiden memberikan jawaban.

Jawaban yang dikemukakan oleh capres, tentu saja harus lebih baik dari capres lainnya. Harus lebih menjanjikan berbagai kemudahan dan kesejahteraan – untuk mendapatkan simpati dan suara calon pemilih. Karena debat di televisi adalah salah satu bentuk kampanye, maka isinya sebagian besar adalah janji-janji dari program kerja yang akan direalisasikan bila capres itu terpilih. 

Apakah Debat Dapat Mengkatrol Perolehan Suara ?

 Di Amerika Serika (AS), debat capres di televisi pertama kali diadakan tahun 1960, yaitu debat antara capres Kennedy-Nixon, waktu itu ditonton rata-rata oleh 63.1 juta pasang mata.

Debat capres di AS diidentifikasi kedalam 5 point, pertama : menunjukkan kesiapan untuk menjadi presiden. Kedua : menjelaskan program kerja pemerintahan, ketiga menjelaskan kebijakan yang akan diambil. 

Yang menarik justru pada point ke empat : respon bertahan bila capres  lawan  mengkritik atau menyerang jawaban. Sedangkan point ke lima adalah menyerang balik atau mengkritik balik argumen dari capres lawan.

Capres harus menunjukkan bahwa tiga point pertama harus lebih baik dari kandidat lain, sedangkan pada point empat dan lima seorang capres prinsipnya harus secara efektif  mengkritik kelemahan capres lainnya.

Dengan demikian, audience akan melihat semua kelebihan dari seorang capres dan justru melihat kelemahan dari capres yang lain.  Selanjutnya audience akan menilai dan menimbang kemana suaranya akan disalurkan.

Debat Cawapres di Indonesia

Perlu ada penelitian apakah debat cawapres di Indonesia  akan mengkatrol perolehan suara capres pasangannya ?  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa debat cawapres hanya memberikan dampak yang kecil dan terbatas. Kecuali bila cawapres bisa menunjukkan visi yang lebih baik dari pasangan capresnya sendiri.

Mungkin perlu ada pertanyaan “nakal” dari moderator untuk cawapres : “Apa yang akan dilakukan bila capres (bila terpilih) kemudian tidak dapat melanjutkan tugas-tugasnya (misal : karena meninggal dunia) ?

Pertanyaan ini akan melihat apakah cawapres mempunyai ambisi untuk menggantikan presiden (pasangannya)  dipertengahan waktu kekuasaaannya. 

*****

26 Juni 2009

« Entri lama