TEKNOLOGI STEALTH KAPAL SELAM GENERASI KELIMA RUSIA


Ria Novosty, pertengahan Maret lalu melaporkan bahwa menurut Kepala Biro Desain Malakhit, Vladimir Dorofeyev, kapal selam generasi kelima Rusia cenderung akan lebih siluman (stealth) daripada unggul dalam kecepatan atau lebih dalam ketika menyelam.

“Ini bisa terjadi karena adanya teknologi baru yang mem-proteksi kapal selam dari berbagai upaya deteksi”.

Teknologi Anti Sonar

Lapisan anti sonar pada kapal selam menyebabkan kapal selam secara virtual tidak terlihat, ternyata sedang dikembangkan di Shipbuilding Research Institute St. Petersburg. Lapisan ini selain mengabsorbsi radiasi sonar, secara aktiv akan menetralkan sinyal sonar pencari kapal selam dengan cara menangkapnya dengan sinyal yang berlawanan.

Selain itu terdapat project kapal selam nuklir strategis generasi ke empat Yasen-class, Severodvinsk (kapal selam nuklir ini diklaim sebagai : to be first in noise reduction and stealth among attack submarines worldwide) dan kapal selam nuklis strategis generasi ketiga Borei-class (dikenal sebagai Dolgorukiy class) yang sedang dikerjakan di Sevmash, sebuah galangan kapal terbesar di Eropa, tentu saja ditambah dengan pengembangan dari sisi konstruksi kapal selam yang konon dapat mengurangi apa yang dinamakan : sonar – visibility sebanyak 3 kali lipat.

Lapisan aktif ini tertanam rangkaian elektronik yang dapat menentukan frekuensi dari radar musuh kemudian mengirimkan sinyal dengan frekuensi yang sama tetapi dalam fase berlawan untuk menetralkannya. Diprediksi, teknologi ini akan digunakan oleh kapal selam secara universal tetapi harus didukung oleh sistem komputer yang canggih.

Teknologi lapisan anti sonar dibuat dari bahan kain khusus yang dikombinasikan dengan material komposit tertentu yang masih harus dikembangkan dalam 3 tahun kedepan. Dilaporkan bahwa sampel pertama akan selesai pada akhir 2016. Rusia telah menyiapkan 200 juta Rubel untuk mengembangkan teknologi anti sonar ini.

Ide untuk menggunakan lapisan yang mengurangi efektivitas radar pencari sebenarnya berasal dari Jerman. Dalam Perang Dunia II perusahaan besar kimia pada saat itu : IG Farben di bawah kepemimpinan seorang insinyur muda E. Meyer telah menciptakan material yang disebut underwater sound absorber yang diberi nama Alberich, yang merupakan aplikasi praktis pertama dari teknologi siluman.

Teknologi Lain Kapal Selam

Kapal selam generasi kelima akan memiliki keampuan untuk berinteraksi secara rahasia (closed interaction) dengan wahana perang lainnya seperti, kapal perang permukaan, pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, satelit, dan tentu saja dengan kapal selam lainnya.

Menurut Igor Vilnit, kepala pusat Biro Desain Rubin, bahwa kapal selam bertenaga nuklir dan diesel generasi kelima sedang dalam proses pengerjaan, direncanakan kapal selam generasi kelima akan memiliki masa bakti 50 tahun.

Kecanggihan dari generasi kelima adalah : lebih senyap, sistem kontrol otomatis, reaktor yang lebih aman, dan mampu mengangkut persenjataan peluru kendali jarak jauh.

Angkatan laut Rusia saat ini mengoperasikan kapal selam generasi ketiga Project 955 Borev-class (Yury Dolgoruky) dan baru memulai mengakuisisi generasi ke empat Project 677 Lada-class (St. Petersburg).

Selain Rubin, kerja sama membangun kapal selam generasi kelima juga melibatkan Pusat penelitian Kementerian Pertahanan dan Institute Angkatan Laut Rusia. Kapal selam generasi kelima akan selesai pada tahun 2020, yang dipersenjatai baik dengan peluru kendali balistik dan peluru kendali penjelajah. Seperti kapal selam generasi keempat, diprediksi kapal selam generasi kelima akan dilengkapi dengan peluru kendali balistik Bulava (kode dariNATO : SS-NX-32)

————

26 Maret 2014

MENLU AS JOHN KERRY MENG-KOREKSI DIPLOMASI POLITIK PM TONY ABBOTT


Mimpi buruk Australia terhadap kebangkitan China, seperti yang tercantum pada  Defence White Paper 2013 – sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Australia, seolah menjadi nyata.

Dalam dokumen itu, pemerintah Australia menyoroti tentang : kebangkitan ekonomi China yang dikombinasikan dengan industri pertahana dalam negeri dan rencana militer yang ambisius, telah menghasilkan kemampuan militer yang signifikan, termasuk didalamnya kemampuan membuat kapal selam modern dan kemampuan teknologi cyber. Kemampuan militer lainnya yang patut diperhitungkan adalah program pengembangan peluru kendali balistik anti kapal, pengembangan prototype pesawat tempur generasi kelima, pengembangan kapal induk dan kemampuan persenjataan anti kapal selam yang terus  berkembang.

Mimpi buruk itu semakin nyata setelah Angkatan Laut China melakukan latihan perang di Samudera Hindia antara Pulau Jawa dan Pulau Chirstmas Australia, membuat pemerintah AS segera mengkoreksi diplomasi politik PM Tony Abbot terhadap pemerintah Indonesia.

Satu gugus tugas yang terdiri dari dua kapal destroyer berpeluru kendali  Guangzhhou class – Wuhan dan destroyer Luyang class II – Haikou dan satu kapal LPD terbesar Changbaishan melakukan latihan perang-perangan di halaman depan perairan Australia. Yang menarik, jalur yang dilewati gugus tugas tersebut adalah melewati Alur Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 dengan rute dari Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda,dan kembali ke laut Cina Selatan melalui ALKI 2, yakni : Selat Lombok, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Sawu dan kembali ke Laut Cina Selatan dan kembali ke pangkalannya di Hainan China Selatan.

Dengan latihan ini, China memberikan sinyal, bahwa angkatan laut Cina telah mampu menjangkau perairan internasional jauh dari focus utama China selama ini : kawasan laut Cina Selatan. Sinyal lainnya adalah : China ingin menunjukkan bahwa angkatan lautnya mampu melindungi kepentingan komersial di Samudera Hindia. Sinyal yang ditangkap oleh pemerintah AS adalah bahwa pemerintah Indonesia mempunyai kedekatan dengan China yang dinilai bisa membahayakan bagi hegemoni AS di Asia Tenggara.

Penyadapan dan Pelanggaran Wilayah

Berbeda dengan Presiden Barack Obama telah meminta maaf kepada Kanselir Jerman Angela Merkel, setelah Jerman mengetahui bahwa bahwa Lembaga Keamanan Nasional AS (NSA) telah menyadap ponsel Merkel, PM Tony Abbot bahkan menolak untuk meminta maaf atas terungkapnya kasus penyadapan oleh Directorate Signal Defense (DSD) Australia terhadap Presiden SBY, yang berujung pada penghentian beberapa kerjasama bilateral, diantaranya kerjasama  dalam masalah penanganan  pencari suaka.

Melalui operasi militer yang diberi nama Operation Border Sovereign yang dibentuk oleh PM Tony Abbott, justru kapal-kapal perang Australia melakukan pelanggaran kedaulatan ketika berusaha menghalau perahu para pencari suaka ke perairan Indonesia, seperti yang diakui oleh Panglima Angkatan Bersenjata Australia, Jendral David Hurley, seperti yang dikutip ABC News (20/02/2014)

Masalah kemudian bertambah ketika harian New York Times edisi Minggu (16/02/2014), menurunkan laporan soal agen intelijen DSD yang lagi-lagi memata-matai komunikasi pejabat RI di Washington DC dengan pengacara yang disewa pemerintah untuk menangani sengketa dagang udang dan tembakau.

“Intinya, Australia harus memutuskan, Indonesia ini dianggap sebagai sahabat atau musuh. Sangat sederhana. Karena semua ini soal niat,” ucap Menlu Indonesia Marty Natalegawa dalam menanggapi kasus penyadapan tersebut.

Bagi pemerintah Indonesia, tindakan PM Tony Abbot membuat pemerintah Indonesia berpikir ulang : apakah Australia itu lawan atau kawan.

Pemerintah AS berusaha merangkul Indonesia

Setelah kunjungan penting Menlu John Kerry ke Indonesia yang kemudian ditindak lanjuti oleh pernyataan Dubes  Robert O. Blake Jr. dalam press conference tentang pentingnya hubungan kerjasama militer kedua negara,   dinilai oleh berbagai pihak adalah upaya pemeritah AS untuk merangkul Pemerintah Indonesia agar tidak terlalu dekat dengan pemerintah Cina.  AS tampaknya juga terusik dengan kebangkitan militer China.

Seperti yang dikutip Antara, dihadapan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam konferensi pers Senin (17/02/2014), John Kerry bahkan meminta Jakarta memusatkan energi politiknya untuk mempercepat tercapainya kesepakatan code of conduct di Laut Cina Selatan.

“Masa depan perdamaian kawasan ini bergantung pada cepatnya penyelesaian persoalan Laut Cina Selatan karena jika terus menerus ditunda, maka semakin besar pula potensi munculnya konflik bersenjata,” kata Kerry.

Kerry menyatakan bahwa Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir ini semakin khawatir atas “pelanggaran hukum laut internasional” yang dilakukan oleh China dengan mengusir nelayan dari negara lain yang hendak mencari ikan di wilayah yang masih disengketakan.

Melalui Duta  Besar nya  Robert O. Blake Jr., menindak lanjuti keinginan pemerintah AS dengan pernyataan pada konferensi pers di forum  Jakarta Foreign Correspondents Club pada Rabu (20/02/2014), bahwa pemerintah AS akan melanjutkan kerjasama bilateral dengan TNI.

“Kami akan terus meningkatkan latihan militer antara kedua negara”, katanya. “Kami akan membantu memodernisasi militer Indonesia, membantu dalam berbagai pelatihan dan kebutuhan perlengkapannya”.

Tindakan pemerintah AS bukan tanpa alasan, pemerintah AS berupaya mengimbangi upaya pemerintah China dalam kerjasama militer dengan Indonesia. Setelah kunjungan persahabatan Menteri Pertahanan China Chang Wanquan pada (15/12/2013), yang merupakan tindak lanjut dari dari kesepakatan yang dicapai pemimpin kedua negara dalam kunjungan Presiden Xi Jinping ke Indonesia pada Oktober tahun 2013, sekaligus mendorong perkembangan hubungan mitra strategis secara menyeluruh antara kedua negara. Chang Wanquan menyatakan, China dan Indonesia adalah tetangga dekat yang bersahabat, peningkatan persahabatan secara berkelanjutan antara kedua negara dan kedua tentara tidak saja sesuai dengan kepentingan dasar pemerintah dan rakyat kedua negara, namun juga bermanfaat bagi perdamaian, stabilitas dan perkembangan kawasan.

Membalas kunjungan persahabatan tersebut, dilaporkan Jenderal Moeldoko akan bertemu dengan Menteri Pertahanan Chang Wanquan and Panglima Agkatan Bersenjata China (People’s Liberation Army – PLA) Jenderal Fang Fenghui.  “Pembicaraan utama adalah pengembangan kerjasama militer antara kedua negara”. Katanya seperti yang dikutip Jakarta Post.

————-

23 Februari 2014

KAPAL PERANG CINA BERLATIH DI SAMUDERA HINDIA


Minggu lalu, komunitas strategi militer Australia gempar. Sebuah gugus tugas (task force) angkatan laut Cina (PLAN : People’s Liberation Army Navy ) yang terdiri dari dua kapal destroyer berpeluru kendali  Guangzhhou class – Wuhan dan destroyer Luyang class II – Haikou dan satu kapal LPD terbesar Changbaishan yang dapat meluncurkan helicopter dan unit kendaraan ampibi melakukan latihan perang di Samudera India, diantara  Pulau Jawa dan pulau Chirstmas. Patut diduga untuk mengamankan latihan tersebut, PLAN melibatkan kapal selam nuklir Jin – class (tipe 094)  atau  Shang – class (tipe 093).

Dengan latihan ini, Cina memberikan sinyal, bahwa angkatan laut Cina telah mampu menjangkau perairan internasional jauh dari focus utama Cina selama ini : kawasan laut Cina Selatan. Sinyal lainnya adalah : Cina ingin menunjukkan bahwa angkatan lautnya mampu melindungi kepentingan komersial di Samudera Hindia.

“Tak ada yang salah dengan latihan simulai perang yang digelar AL Cina”,  kata Kadispenal Laksamana Untung Surapati kepada Vivanews, Jumat 14 Februari 2014. Untung mengatakan, berdasarkan pemantauan instansinya, AL Cina taat prosedur saat melintasi perairan Indonesia, “ Mereka melewati perairan Alur Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 dengan rute dari Laur Cina Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, lalu terakhir menuju Samudera Hindia,” kata dia.

Untuk rute pulang ketiga kapal perang Cina itu akan melalui ALKI 2, yakni : Selat Lombok, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Sawu, Laut Cina Selatan dan kembali ke pangkalan mereka di Kota Hainan, Cina.

Untung menyatakan ketiga kapal perang Cina tersebut berlatih secara legal karena masih berada di perairan internasional. Selain itu saat melewati perairan Indonesia, kapal-kapal itu menunjukkan itikad damai tanpa permusuhan.

 Destroyer Berpeluru Kendali

Destroyer Wuhan adalah destroyer yang dipersenjatai dengan dua peluncur peluru kendali darat ke udara SA-N-12 Grizzly, setiap peluncur dapat memuat 48 peluru kendali dan dilengkapi dengan control radar MR-90.

Empat quadruple peluncur lainnya  dengan peluru kendali jarak jauh (200 km) anti kapal YJ-83, yang datanya dapat di-link dengan data dari helicopter pengintai atau pesawat fix wing.

Selain itu, destroyer ini dilengkapi dengan dua triple peluncur torpedo anti kapal selam Yu-7, dengan jarak tembak maksimum 7,3 km dan kecepatan 28 knot. Torpedo ini dapa membawa 45 kg warhead.  Dua peluncur roket ASW tipe 75 dapat meluncurkan roket anti kapal selam dengan jarak tembak 1,200 m.

Destroyer ini dilengkapi dengan deck untuk helicopter anti kapal selam Kamov Ka-28. Helikopter ini membawa torpedo dan perlengkapan operasi perburuan  kapal selam.

Destroyer Haikou adalah destroyer Luyang cl;ass II, yang dilengkapi dengan peluncur peluru kendali pertahanan udara delapan 6-cell Vertical Launch System (VLS)  HQ-9. Selain itu dilengkapi dengan dua 4-cell peluncur peluru kendali anti kapal YJ-62 (C-602). Diatas kapal dilengkapi dengan dek untuk helicopter Kamov 28 atau Z-9C, untuk tugas memburu selam.

Menlu AS John Kerry Mencari Dukungan Indonesia soal Cina

Berbeda dengan PM Australia Tonny Abbot yang justru memicu ketegangan politik dengan pemerintah Indonesia, Menlu Amerika Serikat John Kerry justru berkunjung ke Jakarta untuk mencari dukungan Indonesia dalam penyelesaian konflik di Laut Cina Selatan.

Seperti yang dikutip Antara, dihadapan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam konferensi pers Senin17 Februari 2014, John Kerry bahkan meminta Jakarta memusatkan energi politiknya untuk mempercepat tercapainya kesepakatan code of conduct di Laut Cina Selatan.

“Masa depan perdamaian kawasan ini bergantung pada cepatnya penyelesaian persoalan Laut Cina Selatan karena jika terus menerus ditunda, maka semakin besar pula potensi munculnya konflik bersenjata,” kata Kerry.

Kerry menyatakan bahwa Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir ini semakin khawatir atas “pelanggaran hukum laut internasional” yang dilakukan oleh Cina dengan mengusir nelayan dari negara lain yang hendak mencari ikan di wilayah yang masih disengketakan.

“Hukum laut internasional harus ditegakkan dan harus dipatuhi oleh semua negara besar dan semua negara kecil tanpa kecuali,” kata dia.

Marty Natalegawa sendiri mengakui bahwa persoalan sengketa wilayah di Laut Cina Selatan telah dibahas secara informal pada Minggu malam dengan wakil Amerika Serikat.

Namun Marty menolak memberikan pernyataan dukungan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Tenggara. Dia hanya menyatakan bahwa persoalan Laut China Selatan harus diselesaikan dengan cara damai tanpa kekerasan.

Kemudian timbul pertanyaan yang paling mendasar : apakah Tonny Abbott – yang ditenggarai menjadi pemicu ketegangan politik Indonesia dengan Australia – memahami pentingnya peranan Indonesia bagi Amerika Serikat dalam rangka pemeliharaan perdamaian di kawasan Laut Cina Selatan, sehingga Menlu AS John Kerry harus datang ke Jakarta untuk mencari dukungan pemerintah Indonesia ?

————

16 Februari 2014

BUAH ALAMI PADA TANAMAN NENAS DAN PERMASALAHANNYA


Apa itu Buah Alami?

”Buah alami” sebenarnya dikenal sebagai fenomena ”natural flowering” atau ”environmental induction” (Min dan Bartholomew dalam Yury Trusov dan Hose Ramon Botella, 2006). Fenomena ini sangat tidak diinginkan dalam bisnis pertanian nenas di seluruh dunia karena merusak jadwal panen dan suplai pasar, meningkatkan ongkos panen (panen berkali-kali pada lokasi yang sama) sehingga menghasilkan kerugian yang signifikan.

Penelitian Bernier (1998 dalam Cunha, 2005) menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang menjadi penyebab utama terjadinya natural flowering adalah photoperiode (panjang hari – jumlah jam siang) dan temperatur (vernalization –cold effect).

Tanaman nenas merupakan tanaman jenis short-day plant. Kerentanan tanaman ini terhadap panjang hari dan temperatur tergantung pada besar bibit, umur bibit dan jenis bibit (Bartholomew and Kadzimin 1977, Py et al 1984). Temperatur yang rendah dan stress lainnya dapat menyebabkan natural flowering. Pada kondisi tropis tertentu, tanaman nenas di lapangan mencapai waktu kritis pada usia 7 – 10 bulan setelah tanam, tergantung pada ukuran bibit tanaman. Menurut informasi dari petani di Guyana Perancis dan Brazil siklus tanaman nenas lebih pendek pada wilayah hutan hujan tropis dibandingkan dengan wilayah lain pada kondisi temperatur yang sama (Freddy Leal dan Geo Coppen d’Eeckenbrugge). Siklus tanaman dipengaruhi oleh kondisi iklim, nutrisi mineral, jenis dan berat bibit dan waktu tanam (Gowing 1961, Mitchel 1962, Gillard 1969, Reinhard dan Cunha 1982, Cunha et al 1993 dalam Cunha 2005).

Studi yang dilakukan oleh Bartholomew dan Maleziex (1994 dalam Cunha, 2005) menunjukkan bahwa di Hawaii, natural flowering banyak terjadi pada bulan Desember hingga Januari yang merupakan periode dimana temperatur jatuh dibawah 15 C, terutama pada malam hari.

Suhu dibawah 20 C akan menyebabkan pertumbuhan terhambat dan mendorong terjadinya natural flowering yang akan meningkatkan masalah manajemen dan kerugian (Barholomew et al.,2003 dalam Luiz Francisco da Silva Souza1 Domingo Haroldo Reinhardt).

Pembentukan natural flowering yang terjadi pada nenas verietas Red Spanish akibat rendahnya temperature pada malam hari di akhir musim panas (sekitar 720 F) yang mendekati temperature minimal pada musim dingin (sekitar 620 F). Diduga penyebab natural flowering adalah rendahnya temperature yang terjadi akibat dari metabolisme asam organic dan auxin (J.Van O Verbeek and Hactor J. Cruza DO, 1948).

Sideris et al 1948 (dalam J.Van O Verbeek and Hactor J. Cruza DO, 1948) menunjukkan bahwa jaringan pada tanaman nenas terjadi perubahan keasaman pada malam hari. Malic dan asam citric meningkat pada malam hari dan menurun pada siang hari. Purcher et al 1948 (dalam J.Van O Verbeek and Hactor J. Cruza DO, 1948) mendemonstrasikan bahwa bryiophyllum pada kondisi gelap akan turun akibat termperatur yang disebabkan oleh meningkatnya asam organik, didalamnya terdapat malic dan asam citric.

Hal ini juga dilaporkan oleh Thimann dan rekan-rekannya (1948 dalam J.Van O Verbeek and Hactor J. Cruza DO, 1948), dengan tersedianya asam malik dan auxins akan meningkatkan resporasi pada bagian koleptile. Pada penelitian terakhir menunjukkan bahwa auxin berhubungan dengan energi yang dihasilkan oleh sistem Kreb Cycles.

Laporan ini menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya temperatur malam hari, meningkatkan level auxin (atau aktivitasnya) dan pembentukan natural flowering. Hubungan ini terjadi pada metabolisme asam organik.

Kandungan Nitrat dalam Buah Alami

Nitrat berasal dari pemupukan dan beberapa buah dan sayuran dapat terakumulasi hingga level yang tinggi (misal tomat dan nenas). Ini penting, karena ketika nitrat menjadi masalah dikemudian hari, maka manufaktur makanan kaleng dan supliernya harus memiliki system yang menjamin buah-buahan dan sayuran bisa diterima sebelum masuk kedalam proses pengalengan (Codexalimentarius, CAC/RCP 60 -2005)

Penelitian Johnson (1966) menunjukkan bahwa bila pemupukan mengandung kadar nitrogen yang tinggi, maka reasonable bila terbawa kedalam buah. Bila pH proses pengalengan dibawah 5.0, maka proses korosi pada tinplate akan berkorelasi dengan kadar nitrat yang tinggi.

Studi terhadap kandungan nitrat dalam makanan kaleng yang diduga menyebabkan terjadinya internal corrosion pada kaleng sudah banyak dilakukan (Strodzt dan Henry 1954, Horion et al 1964/65, 66,68, Farrow 1970, Farrow et al 1969 – 1971, Evans1971, Saguy et al 1973, Semel dan Saguy 1974 dalam Yaron dan Semel).

Sejak masalah detining pertama kali ditemukan, kasus ini terus meningkat. Nitrat dicurigai menjadi penyebab utama dalam fenomena ini. Mengingat konsekuensi ekonomi yang sangat serius dari masalah detining, banyak penelitian yang mempelajari reaksi nitrat-yang terkandung dalam makanan berjenis asam terhadap tinplate dalam upaya mengetahui mekanisme reaksinya dan upaya untuk mencari inhibitornya.

Kecepatan aktual peluruhan lapisan tin tergantung pada beberapa faktor, diantaranya kadar nitrat dalam buah. Nitrat diduga berasal dari pemupukan, umumnya ditemukan dalam bentuk oxidising agent. Pada kadar nitrat tertentu maka proses korosi akan lebih cepat melalui proses evolusi dari hydrogen. Nitrat secara kimiawi mengalami reduksi (Lemanceau, 1963 dalam Blunden dan Wales 2003) dalam proses detining.

Banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat efek dari kadar konsentrasi nitrat dalam makanan yang terhadap meningkatnya proses pelarutan lapisan tin (Johnson, 1966; Herbert, 1970; Farrow et al., 1971; Sherlock and Britton, 1973; Boneva et al., 1974; Marsal, 1977; Chakravorty dan Ghosh, 1981; Hewig, 1986; Henshall et al, 1983; Palmieri et al., 2003, dalam Blunden dan Wales 2003).

Nitrat merupakan corrosion accelarator, bahkan dalam jumlah kecil (1 mg NO3) akan menghasilkan 8 mg Sn2+ akibat dari proses detinning. Dalam kaleng kemasan 400g, 10 mg NO3 akan meningkatkan reaksi detinning hingga menghasilkan 80 mg Sn2+. (Codexalimentarius, CAC/RCP 60 -2005).

Penelitian di Amerika Serikat pada buah kaleng seperti juice anggur, juice jeruk, saus tomat dan buah nenas pada kemasan kaleng tanpa lacquered atau sebagian dilacquered mengandung 51 – 150 mg tin per kg makanan dalam kaleng ketika kaleng pertama kali dibuka. Rata-rata konsentrasi tin pada kaleng yang tidak dilacquered adalah 88 mg/kg makanan dalam kaleng (Greger dan Baier, 1981 dalam Blunden dan Wales 2003).

Konsentrasi tin pada seluruh nenas kaleng yang dijual di Inggris (Januari dan Maret 1999) setelah dilakukan analisa adalah berkisar antara 50 mg/kg hingga 210 ppm (MAFF 1999 dalam Blunden dan Wales 2003).

Tin ada dalam kandungan makanan dalam kuantitas yang kecil dalam bentuk senyawa Sn(II)-ions (Codex, 1995, dalam Council of Europe, Technical Document Guidelines on Metals and Alloys Used as Food Contact Materials, 2002). Konsentrasi paling tinggi ditemukan dalam makanan kaleng sebagai hasil proses pelarutan tinplat menjadi bentuk senyawa inorganc tin atau senyawa kompleknya (Codex, 1998). Codex (1998, dalam Council of Europe, Technical Document Guidelines on Metals and Alloys Used as Food Contact Materials, 2002) mengatur batas maksimum adalah sebesar 250 mg/kg tin dalam makanan jenis padat dalam kaleng atau batas maksimum 200 mg/kg makanan cair dalam kaleng.

————–

13 Februari 2014

PENYEBAB KRISIS SUBPRIME MORTGAGE


Menurut Brunnermeier ( 2008, Deciphering the Liquidity and Credit Crunch, 2008—08. Working Paper) penyebab ternyadinya housing bubble dan gejolak pasar keuangan dibagi menjadi tiga faktor :

Pertama, rendahnya suku bunga bank dan rendahnya suku bunga mortgage dalam waktu relatif lama, ini menyebabkan terjadinya capital inflow dalam jumlah besar dari luar negeri (terutama dari negara-negara Asia) dan disertai dengan kebijakan zero interest rate (Zero Interest Rate Policy – ZIRP) dari Federal Reserve.

Kedua, Federal Reserve tidak berupaya mencegah terjadinya Housing Bubble, diduga karena ditakutkan terjadi deflasi setelah terjadi pecahnya Internet Stock Bubble.

Baik Housing bubble maupun Internet Stock bubble merupakan financial bubble yang disebabkan oleh perilaku spekulan yang  membeli aset keuangan pada harga diatas harga fundamentalnya dengan harapan mendapat capital gain.

Ketiga, dan yang paling penting, sistem perbankan AS telah berubah dari model hubungan perbankan tradisional, di mana bank memberi pinjaman kemudian mendapat bunga dan pembayaran kembali pokok pinjaman, menjadi, model bank “originate – to – distribute yaitu : pinjaman dikumpulkan kemudian dibuat mekanisme tranched dan kemudian dijual melalui bursa saham.

Model transformasi ini menyebabkan insentive bank dalam melakukan monitoring menjadi berkurang dan meningkatkan resiko yang berkenaan dengan kredit risk apabila bank menahan dalam jumlah besar sekuritas jenis ini.

Pasar kredit subprime di Amerika Serikat sebagian besar adalah dari kredit subprime morgate (kredit KPR subprime). Terminologi “subprime” biasanya ditujukan pada pinjaman (KPR, atau kredit mobil) yang terlihat lebih beresiko (dari sudut pandang peminjam) dibandingkan dengan pinjaman regular (prime). Lebih beresiko bisa disebabkan karena ada ekspektasi default yang lebih besar. Kriteria pinjaman yang dikatagorikan subprime adalah :

1. Berasal dari pinjaman dengan skore kredit yang rendah dan atau ada sejarah bahwa  si penerima kredit pernah bangkrut dan atau si penerima kredit memiliki sejarah pekerjaan yang buruk.

2.  Berasal dari peminjam yang memberi pinjaman high cost dan yang meminjamkan lebih sedikit kepada perusahaan yang disponsori oleh pemerintah (tidak semua pinjaman high cost adalah dikatagorikan subprime).

3. Kredit KPR tertentu  (contoh hybrid morgate 2/28 atau 3/27) yang umumnya tidak tersedia di pasar kredit prime.

Kredit KPR dengan katagori subprime mortgage meningkat secara dramatis dari 8 persen pada tahun 2001 menjadi 21 persen pada tahun 2005. Delapan puluh persen pinjaman subprime disekuritas dalam bentuk Mortgage-Backed Securities (MBS).

—————

10 Februari 2014

OPERATION SEVEREIGN BORDER MERUPAKAN OPERASI MILITER (5)


Presiden SBY memperingatkan dengan keras negara tetangga yang melanggar  wilayah kedaulatan RI.    “Ada aspek keaudaulatan kelautan kita yang tidak bisa  dilanggar setiap saat oleh negara – negara lain. Kita pastikan dulu bahwa wilayah lautan kita ini aman. Aman dari ancaman lawan yang mengganggu kedaulatan dan teritori kita.” Kata Presiden SBY seperti yang dikutip Republika (30/1/2014) ketika menerima peserta rakornas Kementrian dan Perikanan dan sidang anggota dewan kelautan Indonesia di Istana Negara.

Sementara itu Kadispenal Laksamana Pertama Untung Suropati saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya menambah sejumlah kapal perang ke wilayah perbatasan dengan Australia. Meski begitu, Untung menolak jika penambahan tersebut dikhususkan untuk merespon kasus pelanggaran batas wilayah yang dilakukan oleh Angkatan Laut Australia.

 Abbot Mengembalikan Pencari Suaka ke Perairan Indonesia dengan “Modern Lifeboat

 The Sydney Morning Herald (1/2/2014) melaporkan bahwa pihak berwajib Indonesia telah menemukan perahu modern (modern asylum lifeboat)  di pantai selatan Jawa. Diduga perahu khusus ini merupakan satu dari sebelas unit yang dibeli oleh pemerintah Australia. Perahu yang didesain anti tenggelam (unsinkable) dan dilengkapi dengan berbagai perlengkapan keamanan dan navigasi, diduga dapat memuat hingga 90 orang pencari suaka.

 Operasi pengembalian pencari suaka (turn-back) dengan menjejalkannya pencari suaka ke dalam perahu modern yang dibeli oleh pemerntah Australia, diduga keras dilakukan melalui suatu “operasi pengintaian” terhadap kapal-kapal perang Indonesia, ketika ada peluanga mendorong perahu modern tersebut  ke perairan Indonesia, maka Angkatan Laut Australia melepaskan perahu modern tersebut.

——

2 Februari 2014

OPERATION SOVEREIGN BORDER MERUPAKAN OPERASI MILITER (4)


Dalam sebuah wawancara dengan media Independent Australia, tanggal 22 Januari 2014, PM Australia Tony Abbot berencana untuk meningkatkan operasi militer Operation Sovereign Borders menjadi Operation Homeland Defence. Dari operasi militer mengusir manusia perahu pencari suaka  menjadi operasi militer pertahanan.

Abbott bahkan berencana mengangkat Scott Morrison menjadi Menteri Perang dan mengaktifkan armada angkatan laut yang sedang standby serta memanggil kapal perang sedang beroperasi di Timur Tengah untuk kembali ke Australia bersiap menghadapi Indonesia.

Tony Abbott mengatakan : “Kami mempunyai sebuah rencana. Saya akan menetapkan bahwa negara dalam keadaan perang dan meng-upgrade Operation Sovereign Borders menjadi Operation Homeland Defence. Scott Morrison akan ditetapkan menjadi Menteri Perang”.  Lebih jauh lagi Abbott mengatakan, “ Kami akan mempersiapkan armada kapal perang yang sedang standby dan memanggil semua kapal-kapal perang yang sedang beroperasi di Timur Tengah untuk kembali ke Australia.”

Abbott Menginginkan Perang

Masih dalam wawancara tersebut, media Independent Australia mewawacara Menteri Luar Negeri Marty Natalewawa, tentang informasi adanya kapal Angkatan Laut Indonesia yang mengembalikan perahu pencari suaka yang diusir oleh Australia ke perairan Australia dekat Darwin.

Marty Natalegawa mengatakan, “ Kami menemukan sekelompok orang di perairan Indonesia, dengan menggunakan perahu baru. Ketika kami cek, ternyata perahu baru tersebut adalah milik Angkatan Laut Australia dan terdaftar di Pemerintahan Australia. Sebagai tetangga yang baik, tentu saja kami kembalikan mereka ke ”rightful owners”.  Saya kira Australia tidak bermasalah dengan hal tersbut”.

Ketika dimintai tanggapanya oleh pewawancara Independent Austrlia Lee Sails, setelah mendengar pembicaraan Menlu Marty Natalegawa,  PM Tony Abbot minta waktu untuk mendiskusikan hal tersebut dengan  penasehatnya. ”“Can I get back to you on that, Lee? I’ll have to take advice from Peta to know what the government’s position is on this one ….”, kata Tony Abbott.

——————–

28 Januari 2014

OPERATION SOVEREIGN BORDER MERUPAKAN OPERASI MILITER (3)


Seperti yang dilaporkan Vivanews.com Rabu (22/1/2014), Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, geram atas aksi kapal Angkatan Laut Australia, yang beberapa waktu lalu menerobos perairan Indonesia saat mengusir perahu yang ditumpangi para pencari suaka. Pelanggaran batas wilayah itu diakui sendiri oleh pemerintah Australia pekan lalu.

“Pemerintah Australia di bawah pimpinan Perdana Menteri Tonny Abbot juga harus paham dan mengerti apa arti kedaulatan RI, yang dilanggar begitu saja oleh AL Australia,” kata Djoko di Jakarta, Rabu 22 Januari 2014.

Menurut Djoko, pengembalian pencari suaka yang sudah masuk wilayah negara manapun, termasuk Australia seharusnya diurus bersama Komisi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM). Kerjasama itu diatur dalam amanat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Indonesia akan terus meningkatkan patroli keamanan laut untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali,” kata dia.

Sepekan sebelumnya pimpinan Operartion Sovereign Border, Letnan Jenderal Angus Campbell mengakui bahwa kapal perang-nya telah melanggar perbatasan Indonesia dalam upaya mengusir kembali perahu pencari suaka.

Kebijakan Abbott Berpotensi Memicu Perang ?

The Jakarta Post, melaporkan bahwa Indonesia telah mempersiapkan pesawat jet tempur dan kapal perangnya dalam mengawal perbatasan agar tidak terjadi lagi pelanggaran oleh kapal perang Australia.

Juru bicara Angkatan Udara Indonesia, Marsekal Hadi Tjajanto menyatakan :” jika terjadi pelanggaran, Makasar disiapkan. Australia mudah dicapai dari sini”. Makasar adalah pangkalan pesawat jet tempur Sukhoi SU 27/30 Flanker.

Sementara juru  bicara Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Untung Surapati, telah mengkonfirmasi bahwa sejumlah kapal perang telah digeser ke perbatasan denganm Australia. Kapal yang disiapkan adalah kapal perang jenis frigat, fast torpedo craft (KCT), fast missile Craf (KCR), korvet dan pesawat pengintai.

————-

24 Januari 2014

MENGAPA MODEL EKONOMI GAGAL DALAM MEMPREDIKSI KRISIS FINANSIAL ?


Selama tiga dekade terakhir, ekonom telah mengembangkan sebagian besar model yang mengabaikan faktor kunci : heterogenitas dari aturan keputusan, revisi dari strategi peramalan, perubahan yang berkenaan dengan kontek sosial, yang pada akhirnya semuanya bertujuan mengendalikan aset dan pasar. Model telah gagal dalam menjelaskan evolusi dalam ekonomi di dunia nyata.

Menurut professor Sidney G. Winter, seorang profesor manajemen dari Wharton University of Pennsylvania, dalam membangun suatu model, para ekonom  berasumsi bahwa semua pelaku pasar : bankir, pemberi pinjaman, peminjam dan konsumen – diasumsikan berperilaku rasional setiap saat. Seolah-olah mereka selalu membuat pilihan yang paling menguntungkan secara finansial.

Kenyataannya, perilaku rasional tidak bisa diandalkan dalam menyusun model. Salah satu faktor kunci dari krisis keuangan subprime morgate disebabkan karena orang mengambil hipotek yang sebenarnya mereka tidak mampu membayarnya. Para ekonom mengabaikan bukti bahwa manusia bertindak irasional seperti yang didokumentasikan oleh berbagai disiplin ilmu lain seperti psikologi dan sosiologi. Modeling ekonomi harus kompatibel dengan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia.

“Setiap model ekonomi merupakan abstraksi apa yang terjadi di dunia ini”, kata Prof. Marshall E. Blume, seorang profesor keuangan dari Wharton University of Pennsylvania. Blume menambahkan. “Nilai suatu  model adalah untuk menangkap esensi dari apa yang terjadi  dari sejumlah variabel. Jika Anda berpikir ada variabel penting, Anda memasukkannya, tetapi anda tidak dapat memasukkan  setiap variable yang ada di dunia ini …. Sehingga model mungkin menjadi tidak memiliki variabel yang tepat. “.

Kertas  kerja dari Kiel Institute for the World Econonomy yang berjudul : The Financial Crisis and the Systemic Failure of Academic Economics, yang direlease pad Februari 2009 menyimpulkan :

Pertama : pengembangan produk keuangan baru akan membuka kemungkinan investasi baru (hampir sebagian besar krisis terbaru merupakan konsekuensi dari over investasi dari kemungkinan investasi baru tersebut).

Kedua, dimensi global dari krisis disebabkan oleh adanya peningkatan konektifitas dari sistem-sistem keuangan yang selama ini sudah sangat terkoneksi satu dengan yang lain. Kedua aspek ini yang diabaikan oleh para ekonom akademisi.

Para ekonom telah buta terhadap adanya peran interaksi dan koneksi antara pelaku ekonomi (seperti adanya perubahan dalam struktur jaringan dari keuangan industri yang ditimbulkan oleh adanya deregulasi dan diintroduksikannya produk keuangan yang ter-struktur baru).  Ini berarti para ekonom telah gagal mendefinisikan masalah-masalah ekonomi modern dan telah gagal dalam meng-komunikasikan keterbatasan dan asumsi modelnya.

————-

22 Januari 2014

OPERATION SOVEREIGN BORDER MERUPAKAN OPERASI MILITER (2)


Kantor berita Reuter 16 Januari 2014 memberitakan tentang permintaan maaf Menteri  Scott Morrison mengatakan pada hari Jumat, bahwa pemerintah Australia “sangat menyesalkan” pelanggaran kedaulatan teritorial Indonesia. “Kami telah menyampaikan permintaan maaf, ” katanya pada wartawan.

Letnan Jenderal Angus Campbell, pimpinan Operation Sovereign Border, mengatakan pelanggaran terjadi pada beberapa hari, tapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.

Seolah menjawab pelanggaran teritorial oleh kapal-kapal perang Australia,  Komandan Gugus Tempur Laut Armabar, Laksamana Pertama TNI AL A Octavian,  seperti yang dikutip oleh Republika 16 Januari 2014, mengatakan dana yang terbatas menjadi kendala dalam memperkuat pertahanan keamanan wilayah kelautan Indonesia. Sehingga, mempengaruhi jumlah sarana yang dimiliki.

“Kemampuan kapal-kapal kita terbatas untuk berada di Samudra Hindia. Kapal laut yang bisa kesana cuma kapal besar jenis freegate. Indonesia hanya memiliki 11-12 buah kapal. Sangat terbatas,” katanya dalam acara ‘Final Preparation Conference Multilateral Naval Exercise Komodo 2014‘, di Batam, Kamis (16/1).

Menurutnya, jumlah ideal kapal besar jenis freegate yang seharusnya dimiliki sebanyak 24 kapal untuk tiap-tiap daerah dalam satu tahun. “Itu untuk menjamin keamanan wilayah karena negara kita kepulauan,” katanya.

——————-

!7 Januari 2014

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.